
Kini Rafka sudah bisa bernafas dengan lega, tidak ada lagi yang mengganggu rumah tangganya bersama Karin.
Perut Karin Semakin lama semakin membesar, dia sudah kesusahan untuk berjalan, Rafka memindahkan kamarnya ke lantai bawah dia ngeri sendiri melihat perut Karin yang besar.
"Bun hati-hati jalannya." ucap Rafka.
"iya mas." ucal Karin.
"Bunda, kapan adik bayi lahir?" tanya Kenzi.
"nanti satu bulan lagi, kakak doakan adik bayinya ya supaya lahir dengan selamat dan sehat." jawab Karin.
Karin berjalan dengan ngos-ngosan, rasanya perutnya sangatlah berat. saat Karin mendudukkan tubuhnya di atas Sofa tiba-tiba perutnya terasa nyeri, bagian pinggangnya pun terasa panas.
"aaww.. Aw.. sshhh" ringis Karin.
Rafka menghampiri Karin, dia panik mendengar suara ringisan Karin.
"sayang kamu kenapa?" tanya Rafka.
"ini mas, perutku sakit tapi masih hilang timbul." jawab Karin.
"apa jangan-jangan kamu mau melahirkan Bun?" tanya Rafka.
"enggak kok, kan hpl nya masih lama mas." ucap Karin.
"sekarang masih sakit gak?" tanya Rafka.
"enggak mas, udah mendingan." ucap Karin.
"Bunda kalau sakit jangan di tahan, panggil saja Kenzie atau kakak Bun." ucap Kenzi.
"iya sayang." ucap Karin tersenyum.
Kenzo dan Kenzi duduk di samping Karin, mereka takut terjadi sesuatu pada Bundanya. Mereka memijat lengan dan juga kaki Karin sedangkan Rafka pergi ke dapur memotong buah-buahan untuk anak dan istrinya.
Perut Karin kembali sakit, perutnya keram tetapi tidak seperti biasanya sakitnya berkali lipat.
"maaaasss... Sakiitt." teriak Karin memegang perutnya.
"Bunda, Bunda kenapa Bunda.?" tanya Kenzo panik.
"Daddy cepat kesini, perut Bunda sakit." teriak Kenzi.
"mas, sakit mas." ringis Karin.
"kita ke dokter." ucap Rafka panik.
Rafka menggendong tubuh Karin, dia berjalan cepat keluar memanggil pak Dani.
"pak Dani buka pintu mobilnya." titah Rafka.
Pak Dani langsung berlari mengambil kunci mobil dan membukakan pintu untuk Karin, Rafka mendudukkan karin di jok mobil. Bu Suti menghampiri Rafka saat mendengar suara keributan dari arah luar, Kenzo dan Kenzi ikut masuk ke dalam mobil mereka duduk di depan bersama pak Dani.
"Bu, tolong nanti ambilkan peralatan bayi ke ruamh sakit takutnya Karin lahiran." titah Rafka.
"baik den." ucap Bu Suti
"pak Ayo jalan, istri saya sudah kesakitan" titah Rafka.
Pak Dani langsung melajukan menuju ruamh sakit, di dalam mobil Karin terus merintih kesakitan Rafka tidak tau harus melakukan apa dia mengusap-usap perut Karin sambil menelpon Bryan.
"mas, sakit."
"sabar sayang, sebentar lagi kita sampai." ucap Rafka menenagkan Karin.
"adik kalian sabar dulu yah, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." ucap Kenzi.
"Daddy itu air apa?" tanya Kenzo menujuk ke bawah kaki Karin.
Rafka memelototkan matanya, air ketuban Karin sudah pecah.
"aaahhh... Maass, sakitt." ucap Karin meraung kesakitan.
"pak lebih cepat lagi." ucap Rafka pada pak Dani.
Pak Dani menganggukkan kepalanya, dia melajukan mobilnya dengan menambah kecepatannya, beruntung jalan tidak terlalau ramai jadi mempermudah pak Dani mengendarai mobilnya.
Sampai di rumah sakit Bryan Sudah menunggu di depan di temani oleh dokter Khaila, Rafka menggendong Karin dari mobilnya lalu meletakannya di atas brankar rumah Sakit.
"cepat selamatkan istriku." ucap Rafka.
"bawa Bu Karin ke ruang persalinan, dia akan melahirkan sekarang." titah dokter Khaila kepada perawat.