
Zain dan Zidan berhasil masuk melalui jendela bagian belakang rumah, dengan mengendap-endap keduanya mencari sosok Mirna.
Mirna melihat sekeliling ruangan sampai dia melihat sosok yang di tunggu sedang celingak-celinguk seperti maling.
"tuan kenapa kalian lama sekali?" ucap Mirna menepuk pundak Zain.
Zidan dan Zain menatap Mirna dengan menahan tawanya membuat Mirna mendengus kesal.
"kalau mau ketawa jangan di tahan keluarin aja, dasar menyebalkan." ucap Mirna dengan kesal.
"tidak siapa juga yang mau tertawa, jangan cemberut seperti itu Rey nanti cantiknya ilang loh." goda Zidan.
"dimana ibuku Rey?" tanya Zain dengan menahan rasa ingin tertawanya kala mendengar celetukan Zidan.
"ayo ikut aku." ajak Reyhan dengan wajah kesalnya.
Reyhan di dandani menjadi seorang perempuan menyamar sebagai Mirna yang di tugaskan untuk mengurus Sarah, dengan dandanan yang hampir sama seperti Mirna membuat Zain dan Zidan terus menggodanya.
Reyhan membawa Zidan dan Zain masuk ke tempat dimana Sarah di sekap, dengan bantuan Reyhan para penjaga tidak dapat melihatnya masuk ke tempat Sarah.
Zain mematung di tempatnya, dia melihat wanita yang sudah melahirkannya di pasung dan di ikat layaknya orang gila. perlahan Zain mendekati ibunya yang kurus dengan wajah yang di penuhi luka bekas tamparan, dan juga wajah pucat karena tak terurus hati anak mana yang tak sakit melihat keadaan ibunya seperti itu.
"Mommy." panggil Zain dengan suara bergetar.
Sarah membuka matanya dilihatnya anak yang selalu ia rindukan dan juga ia mimpikan datang di hadapannya, Ari matanya tak bisa terbendung lagi bertahun-tahun dia tidak bisa bertemu dengan anak dan suaminya.
"anakku Zain." ucap Sarah dengan deraian air matanya.
Zain memeluk ibunya dengan erat, Isak tangis keduanya saling bersahutan. pelukan yang sudah lama tidak dia rasakan kini sudah kembali padanya, demi apapun Zain sangat sakit hati melihat ibunya seperti ini saat ia membuka ikatan di tangannya, bekas luka yang sudah memburu akibat terlalu lama diikat.
"Mommy apa yang terjadi? kenapa kau bisa seperti ini Mommy? apa yang dia lakukan padamu Mom?" cecar Zain.
"nanti mommy jelaskan nak, sekarang tolong bawa Mommy pergi dari sini Mommy sudah tidak kuat lagi nak." ucap Sarah memohon pada Zain.
"Mommy nanti aku akan kembali setelah aku membalaskan perbuatan mereka Mommy, jangan khawatir kita akan pergi dari sini setelah urusan kita selesai agar tidak ada lagi yang bisa mencelakai mommy." ucap Zain.
"baiklah Zain, jaga dirimu baik-baik nak jangan sampai kau terluka kembalilah dengan selamat sayang." pesan Sarah.
Zain mengangguk, dia mengajak Zidan dan Reyhan keluar mencari sosok Floresia dan Rajas.
sebelum mereka keluar seseorang sudah masuk ke tempat Sarah.
"siapa kalian? kenapa kalian bisa masuk ke sini?! pekik salah satu penjaga.
"siapa aku bukan urusanmu!! lebih baik kau hargai nyawamu sebelum aku menghabisimu." tekan Zain dengan aura dingin menghunus sampai ke jantung
"tidak akan ku biarkan kalian lolos!!" tegas penjaga tersebut dengan mengeluarkan senjata tajam dari kantong celananya.
Zain menghajar penjaga itu dengan membabi buta meluapkan semua emosi mengingat kondisi ibunya.
bugh.. bugh.. sreet..
tangan Zain sedikit tergores sampai mengeluarkan darah, namun tak menghentikan aksinya menghajar lawannya.
"Zain." teriak Sarah khawatir melihat anaknya terluka.
"Reyhan aku akan menyuntikkan sesuatu pada penjaga itu, kau pegang obat ini dan masukkan ke dalam suntikannya nanti aku akan memberi Aba-aba padamu." titah Zidan.
Zidan memberikan satu suntikan dan satu botol obat kecil pada Reyhan. Zidan bergegas membantu Zain, lawan mulai kewalahan menghadapi Zain ditambah Zidan ikut membantu. Zidan memberi kode lewat tatapannya pada Zain yang diangguki oleh Zain, dengan gerakan cepat keduanya meringkus lawan mereka segera memanggil Reyhan untuk menyuntikkan obat ke tubuh lawan.
jleb .. cess..
suntikkan berhasil masuk ke tangan lawan, Zain dan Zidan mendorong tubuh lawan sampai terjerembab ke bawah.
reaksi obat tersebut ternyata lebih cepat dari dugaan beberapa menit kemudian lawan merasakan lemas di bagian otot-ototnya mengakibatkan dia kesulitan untuk bergerak.
"cairan apa yang sudah kalian suntikkan hah?!" berang penjaga.
"kau sudah merasakannya bukan? berarti kau sudah tau apa yang sudah kamu berikan padamu." ucap Zidan.
Zain pergi meninggalkan lawan diikuti Zidan dan Reyhan dari belakang, mereka jalan menuju pintu utama dimana banyak para penjaga berdiri di depan.
Juno melihat Zain yang sedang berjalan ke arah pintu utama, dia ingat betul zain adalah salah satu dari daftar yang tidak di perbolehkan masuk ke rumah tersebut.
"beraninya kalian datang ke sini?! dan kau Mirna seharusnya kau mengahalangi mereka masuk bukannya kau malah ikut bersama mereka." ucap Juno.
"sembarangan panggil Mirna gue cowok kali, dandanan aja yang cewek nyali mah tetep cowok bro." jawab Reyhan santai.
Juno memanggil para penjaga lainnya untuk masuk ke dalam, namun hanya ada dua penjaga yang masuk karena di orang lainnya sudah di lumpuhkan oleh Rafka dan papa william.