
"Zain" panggil seseorang di ambang pintu.
Rafka dan Zain menoleh ke arah sumber suara.
Zain terperangah melihat siapa yang datang, Rafka tersenyum kecut menyambut kedatangan orang yang selama ini membuatnya kecewa, terluka, dan juga menderita.
"Cristin" gumam Zain pelan.
"baguslah karena kau datang maka aku tidak perlu menjelaskan apapun kepadanya." ucap Rafka dingin dengan menunjuk wajah Zain.
Cristin terdiam di ambang pintu dengan perasaan campur aduk. tadinya dia tak sengaja melihat Zidan di jalan saat terjebak macet, wajah Zidan terlihat frustasi dan beberapa kali dia menyalakan klaksonnya hingga menjambak rambutnya sendiri. Cristin penasaran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Zidan akhirnya dia mengikuti mobil Zidan dari belakang.
Zidan menghentikan mobilnya di sebuah bangunan kosong disana juga terlihat tiga mobil dan salah satunya Cristin mengenalnya, mobil yang familiar di ingatannya yaitu mobil milik Rafka.
Cristin menunggu di dalam mobil saat zidan masuk ke dalam bangunan kosong tersebut bersama salah seorang wanita. lama menunggu Cristin melihat wanita yang tadi bersama zidan menggendong seorang anak kecil di punggungnya, diikuti satu wanita lagi yang menggendong anak kecil dengan wajah panik masuk ke dalam mobil.
"sepertinya aku pernah melihat salah satu wanita itu? tapi dimana?" gumam Cristin bertanya-tanya.
'bukankah wanita itu yang pernah aku lihat di pantai bersama Rafka dan juga si kembar? pa yang di gendongnya juga si kembar? apa yang terjadi? ya Tuhan semoga mereka baik-baik saja.' batin Cristin resah.
Cristin keluar dari mobilnya, saat hendak menghampiri mobil yang di tumpangi karin dia terlambat karena mobilnya langsung melaju dengan cepat menghilang dari pandangannya.
Cristin memutuskan untuk melihat ke dalam rumah kosong tersebut, alangkah terkejutnya ia melihat Rafka dan juga pria yang pernah menjadi kekasihnya sama-sama terluka.
"kenapa kau diam saja?! cepat katakan padanya bahwa aku tidak pernah merebutmu darinya." sentak Rafka.
"Diam!! kau tidak berhak melarang ku untuk membentaknya, wanita sepertinya memang tidak pantas di perlakukan dengan lembut, wanita yang kau cintai tidak lebih dari seorang wanita murahan, tidak punya hati bahkan jika di bandingkan dengan seekor hewan maka hewan lebih mulia daripada dirinya." geram Rafka.
Zain tidak terima Cristin di rendahkan oleh Rafka, dia hendak memukul kembali wajah Rafka namun Cristin menghentikannya.
"Zain berhenti!!" pekik cristin.
air mata Cristin mengalir dengan deras, Zain langsung merangkul tubuh Cristin yang sedang menangis sesegukkan.
"tenanglah sayang, jika dia tidak mau menerimamu kau tidak perlu khawatir aku akan membawamu pergi jauh dari sini." ucap Zain.
bukannya senang mendengar ucapan Zain, Cristin langsung mengepalkan tangannya, dia melepas pelukan Zain lalu dia menampar wajah Zain dengan sangat keras.
PLAK ..
seakan tersambar petir kala Zain mendapat tamparan keras dari Cristin, selama mengenal Cristin dia tidak pernah mendapat perlakuan kasar seperti ini darinya. Zain menatap tak percaya pada wanita yang sangat dia cintai dan yang selama ini dia cari selama bertahun-tahun.
"kenapa kau menamparku?" tanya Zain.
"itu pantas untuk kau dapatkan, bahkan seharusnya lebih dari itu." jawab Cristin datar.
"apa maksudmu?! selama bertahun-tahun aku mencarimu tapi ini yang aku dapatkan?! pantaskah aku menerimanya hah?!" pekik Zain dengan menggebu.
"kau ingin tahu kenapa alasannya bukan? baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu tanpa ada yang terlewat" jawab Cristin.