
Rafka mengayunkan langkahnya ke arah kamar pribadi miliknya yang kini menjadi milik berdua, saat pintu terbuka disana ia melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi memakai baju solehot, Rafka langsung mengunci kamarnya takut ada yang melihat keindahan miliknya seorang.
"sayang kayaknya kamu udah persiapan." ucap Rafka menghampiri Karin.
"Ma-s kapan masuk? kok tiba-tiba udah di sini saja?" tanya Karin gugup.
"gak usah gugup, kita udah sah jadi suami istri dengan kamu memakai pakaian seperti ini bukan berarti kamu itu terlihat seperti wanita murahan jika dihadapan suamimu itu adalah hal yang bisa mendatangkan pahala." ucap Rafka tau apa yang ada di pikiran Karin.
' kok mas Rafka tau apa yang aku pikirkan ya?'' batin Karin.
Rafka menyelipkan anak rambut Karin ke belakang telinganya, dia tersenyum ke arah Karin baginya istrinya itu sedang berusaha menjadi istri yang shalihah bagi suaminya lewat apa yang di pakainya sekarang, Rafka sangat menghargai usaha Karin namun dia tak ingin memaksa Karin jika memang dia belum siap.
"jika kamu belum siap mas juga tidak akan memaksanya, maaf tadi siang mas hampir aja kebablasan." ucap Rafka menahan sesuatu yang ada di balik c****** ********.
'tahan.. tahan .. tunggu lampu hijau, istrimu polos Raf jangan sampai kau menyakitinya' batin Rafka.
Karin menangkup wajah Rafka, dia menyunggingkan senyumnya dan membelai wajah Rafka dengan sayang.
"mas aku memang gugup, tapi sudah jadi tugas seorang istri melayani suaminya kalau mas mau sekarang lakukanlah aku siap." ucap Karin lembut.
' yes lampu hijau, gaskeun' batin Rafka bersorak.
"apa kamu yakin?" tanya Rafka memastikan.
"yakin mas." jawab Karin mantap.
' bismillah ya Allah' batin Karin.
"ssshh"
Karin membuka m*******, tanpa membuang waktu Rafka langsung menerobos masuk lalu mel******* dengan rakus sampai Karin kewalahan dan kehabisan nafasnya.
Rafka melepaskan c***** panasnya, b**** Rafka turun ke bawah leher dia memberikan banyak tanda kepemilikan, tubuh Karin menggelinjang kegelian saat tangan Rafka M****** buah d***nya sampai suara lucknutnya keluar, Karin men***** nikmat dengan kelihaian Rafka sampai tubuhnya bergerak tak karuan.
Rafka memindahkan Karin ke atas kasur king size nya, dia menindih Karin membuka gesper dan menanggalkan celananya Rafka kembali m****** b**** Karin dan kembali bermain diatas bukit yang menjulang, puas bermain dia menuntun naganya masuk meskipun kesusahan.
"hikss.."
Karin memejamkan matanya bersamaan dengan air mata yang keluar membasahi bagian sudut matanya.
" jika memang rasanya sangat sakit aku akan menghentikannya." ucap Rafka tak tega.
"tidak apa-apa mas lanjutkan saja." ucap Karin.
dengan ragu Rafka memulai kembali perjuangannya, empat kali dorongan akhirnya membuat Rafka bernafas lega naganya masuk ke dalam terowongan meskipun setengahnya.
" terima kasih telah menjaganya untukku sayang " ucap Rafka mengecup kening Karin.
Karin membalas ucapan Rafka dengan senyuman, pelan tapi pasti Rafka melakukan senam berbagi peluhnya dia membolak-balikkan tubuh Karin layaknya gorengan hingga 3 jam berikutnya ia berhasil mengeluarkan lahar panasnya yang mana membuatnya lega.
Rafka mendekap tubuh Karin dengan erat memposisikan kepala sang istri di dadanya lalu terlelap bersama.