
satu hari
dua hari
tiga hari
empat hari
Lima hari
Sudah lima hari ini karin tidak bertemu dengan Rafka maupun si kembar. sejak perdebatan itu terjadi dia selalu uring-uringan, Karin juga merasa kehilangan sosok Rafka yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Karin beberapa kali pergi ke rumah Rafka, namun setiap kali dia pergi ke rumahnya Rafka pasti tidak ada begitupun si kembar, setiap dia mencari Rafka ke kantor pasti orang kantor selalu bilang kalau Rafka ada meeting di luar.
Seperti hari biasanya Karin berangkat kerja, sekarang ia berangkat berdua. Raisa juga kadang di antar jemput oleh Reza, Karin hanya bisa menatap nanar melihat kedekatan Raisa dan juga Reza, ada rasa iri dihatinya dia yang biasanya selalu pergi berdua dengan Rafka kini malah berbanding terbalik dengan Raisa yang selalu pergi berdua dengan Reza.
"Rin, nanti sore kita jalan yuk ke mall? udah lama kita gak nonton ke bioskop." ajak Raisa ingin menghibur Karin dengan mengajaknya jalan-jalan.
karin berfikir sejenak.
"emm, boleh deh. tapi, kamu perginya sama Reza apa sendiri nih? nanti aku cuman jadi obat nyamuk doang lagi."
"enggak kok, kita bertiga aja bareng Lusi . udah lama kita gak jalan-jalan bareng."
"oke"
Karin dan Raisa sudah sampai di cafe, mereka langsung mengerjakan pekerjaannya.
waktu berlalu begitu cepat. waktu pulang sudah tiba, Karin dan Raisa sedang bersiap untuk pulang. Lusi sudah menunggu kedua sahabatnya di depan cafe, saat Raisa dan Karin keluar Lusi memanggilnya dan mereka langsung masuk ke dalam mobil. mobil yang di kendarai Lusi sudah melaju membelah jalan menuju ke mall yang berada tak jauh dari cafenya.
Karin dan kedua sahabatnya sudah memasuki mall. mereka bertiga masuk ke dalam bioskop menonton film horor yang di pilihkan oleh Lusi tak lupa juga Lusi mentraktir kedua sahabatnya itu cemilan, setelah film selesai di putar Lusi mengajak Raisa dan Karin untuk makan.
ketiganya berjalan menuju restoran yang ada di mall tersebut. selama di perjalanan menuju restoran mereka berbincang-bincang membicarakan masa-masa sekolahnya, Karin merasa jauh lebih baik saat kedua sahabatnya mengajaknya jalan-jalan setidaknya Karin bisa melupakan masalahnya sejenak.
Saat akan memasuki restoran, Lusi tak sengaja menangkap sosok Rafka bersama seorang wanita yang membelakanginya. Rafka dan wanita tersebut terlihat romantis, tangannya saling bertaut, Rafka juga merangkul bahu wanita di sampingnya dan juga membelai wajah wanita tersebut.
"Rin, bukannya itu tuan Rafka?" ucap Lusi menunjuk tepat ke arah Rafka.
Karin mengikuti arah telunjuk Lusi.
"iya bener, itu kan pak Rafka? siapa wanita di sampingnya? kok kayaknya Deket banget?" ucap Raisa bertanya-tanya.
Karin mematung di tempatnya. mulutnya tak bisa berkata-kata, hatinya sakit teramat sakit bagai di tusuk dengan ribuan belati.
Tes .. Tes..
Perlahan air matanya jatuh, dadanya sesak, tubuhnya pun bergetar. Karin tidak kuat melihat Rafka bersama wanita lain, dia langsung berlari meninggalkan restoran itu dengan wajahnya yang basah oleh air mata.
Raisa dan Lusi langsung mengejar Karin, mereka takut Karin kenapa-napa.
"Lusi buruan dong, kenapa Lo lelet banget sih keburu Karin nya lebih jauh lagi." ucap Raisa kesal dengan berjalan tergesa-gesa.
"eh kampret ini juga udah cepet." sahut Lusi.
Raisa dan juga Lusi terus mengejar Karin. Karin yang di kejar berlari ke arah taman yang berada tak jauh dari mall tersebut, dia duduk dan menangis di bangku taman. Lusi dan Raisa menghampiri Karin dengan nafas ngos-ngosan, mereka berdua mengatur nafasnya sebelum berbicara dengan Karin.
"Rin, Lo mau bunuh kita berdua ya? galau sih galau, tapi gak gini juga kali. bukannya labrak tuh pelakor tapi Lo malah pergi kayak gini." gerutu Lusi.
"ish Lo mh bukannya nenangin Karin malah ngomong gak jelas kayak gitu, emangnya Lo berani ngelabrak orang terkaya di negara ini? kalo Lo berani gue jamin Lo bakal menyesal." sahut Raisa.
"ya kenapa enggak? toh biar orang-orang juga tau, kalau manusia yang mereka agung-agungkan itu memiliki sifat yang menjijikan, biar reputasinya jatuh." ucap Lusi dengan santainya.
pletak ..
"isshh, aww."
Lusi mengusap-usap keningnya yang baru saja Raisa sentil.
"sebelum Lo ngejatuhin reputasinya, yang ada dia duluan yang jatuhin reputasi Lo, dia juga bisa dengan mudahnya tutup usaha Lo, bukannya Lo tau dia itu orang yang berkuasa yang memiliki julukan 'Crazy Rich Duda'?"
"iya juga ya?"
"masih mau labrak gak nih?"
Lusi langsung menggeleng dengan cepat.