Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 172



Mama Ayu mengangkat ketiga test kehamilannya satu persatu, dia lalu memperlihatkannya pada Karin dan juga Raisa.


satu


Dua


Tiga


"jeng.. Jeng .. Jeng.. Hasilnya positif." teriak mama Ayu.


"aaaa... Selamat Rin sebentar lagi kamu jadi ibu." ucap Raisa memeluk Karin.


Karin menitihkan air mata bahagianya, dia tak menyangka secepat ini Allah menitipkan kepercayaannya. Karin keluar dari kamar mandi secara bersamaan, si kembar dan Rafka tidak sabar menunggu hasilnya.


"Bunda bagaimana hasilnya? Apa adik bayi sudah muncul di perut Bunda?" tanya Kenzi.


Bukannya menjawab Karin malah menangis haru, Si kembar panik melihat Bundanya menangis begitupun Rafka.


"Bunda gak papa kalau emang adik bayi belum ada, nanti Bunda bikin lagi ya." ucap Kenzo menenangkan Karin.


"Bunda jangan nangis ya." buju Kenzi.


"yang jangan nangis, kalau belum rezekinya kita bisa bikin lagi kalo mau tiap hari." ucap Rafka.


Karin tersenyum mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari anak dan suaminya, dia mengusap air matanya.


"aku hamil mas." ucap Karin.


Rafka loncat dari tempat tidurnya dia memeluk Karin lalu mengangkat tubuhnya memutar, si kembar dan Bagas ikut senang ketiganya meliuk-liukkan tubuhnya berjoget di atas kasur.


" kita nambah cucu lagi Ma." ucap Papa william.


Mama Ayu menganggukkan kepalanya, dia pun sama halnya dengan Karin menitihkan air matanya kehamilan Karin begitu di sambut hangat oleh semua orang.


Bryan membawa tasnya pamit untuk kembali ke rumah sakit karena masih banyak pasien yang membutuhkan uluran tangannya, di rumah sakit keluarga Adijaya memberikan jaminan bebas biaya untuk pasien yang kurang mampu. Jadi, rumah sakit Adijaya setiap harinya banyak di datangi oleh pasien dari berbagai daerah karena biayanya terjangkau, selain menggunakan jaminan kesehatan di rumah sakit memberikan santunan kepada anak yang di tinggalkan oleh pasien seperti salah satu orangtuanya meninggal di rumah sakit Adijaya maka pihak rumah sakit akan menjamin pendidikan anak tersebut sampai kuliah. Karena kemuliaan hati dari Papa william dan juga Rafka rezeki mereka pun tak pernah berkurang meskipun banyak biayaya yang mereka keluarkan.


"kita ke rumah sakit setelah sholat Ashar ya sayang biar gak terlalu panas di jalannya, mulai sekarang kamu tidak boleh kecapean duduk dan diam saja di rumah tidak boleh kemana-mana." ucap Rafka.


"aku ikut."


"aku juga"


"jangan lupa, aku juga ikut."


Karin menganggukkan kepalanya, dia tersenyum bahagia betapa beruntungnya dia memiliki suami dan anak-anak yang menyayanginya begitupun anggota keluarga yang lainnya.


Sore hari..


Selepas sholat ashar Karin dan Rafka bersiap pergi ke rumah sakit, jangan lupakan tiga kurcaci yang sudah standby di dalam mobil karena takut di tinggalkan. Mama Ayu mengajak Papa william ikut untuk melihat calon cucunya, Rafka keluar memakai maskernya dia tidak kuat mencium aroma menyengat dari orang lain selain anak dan istrinya.


"rame banget sih, ini mau ke rumah sakit apa mau ke pameran sih?" heran Rafka.


"jangan bawel, cepet masuk biar papa yang menyetir kamu diem aja di belakang." ucap Mama Ayu.


Rafka masuk bersama Karin, di tengah-tengah sudah ada tiga kurcaci yang duduk melambaikan tangannya ke arah Rafka dan Karin.


"Daddy kalau mau deket kita Daddy duduk di sebelah kiri, Bunda di sisi kanan kita di tengah yah" ucap Kenzi.


"pengen deket Bunda." ucap Rafka tidak terima.


"GAK BOLEH" ucap ketiganya dengan serempak.


Mama Ayu menertawakan anak sulungnya, Papa william pun ikut tertawa dia sampai mengeluarkan air mata karena lama tertawa wibawa seorang Rafka seketika sirna di hadapan anak-anaknya. Karin menggelengkan kepalanya anak dan suaminya sama saja keras kepala, namun di balik semua itu mereka begitu menyayanginya.