
Karin dan Lusi sudah sampai di hotel mewah berbintang lima. keduanya turun dari mobil dan melangkahkan kakinya memasuki area hotel, Lusi mengeluarkan sebuah barcode dari layar hp nya kemudian memperlihatkannya kepada petugas hotel, setelah selesai pemeriksaan Lusi diarahkan oleh petugas yang khusus menuju ruangan VIP pemilik hotel yang tidak diketahui oleh Karin siapa pemiliknya.
Karin sampai di ruangan yang di tunjukkan oleh petugas hotel, dia dan Lusi sedang berdiri di balik pintu ruangan tersebut. Lusi tiba-tiba merasakan mulas di perutnya, dia meminta izin pada Karin untuk pergi ke toilet, dia juga berpesan agar Karin tidak boleh masuk tanpanya dengan alasan hanya lusi yang memiliki barcode untuk bisa masuk ke dalam.
Saat Lusi sudah pergi meninggalkan Karin, tiba-tiba semua lampu di ruangan itu mati, Karin kaget dan ketakutan dia hampir menangis. namun, ada dua tangan kecil yang menggenggam kedua sisi tangan Karin.
"siapa ini? lepaskan tanganku!! tolong jangan menakuti ku."
"ikut saja, kami tidak akan menyakitimu. percayalah." bisik seseorang di sampingnya.
Dengan ragu Karin mengikuti kemana ia di tuntun, Karin sungguh bingung kenapa dia di bawa oleh kedua tangan kecil yang memegangnya ini.
'ya Allah, lindungi hamba, ini sangat gelap sekali semoga saja Lusi cepat kembali dan lampunya kembali terang. aku sangat takut ya Allah' .batin Karin
kedua tangan itu melepas genggamannya dari tangan Karin. ada satu lampu yang bergerak-gerak, Karin menutupi wajahnya dari silaunya lampu yang menyorot ke arahnya. Karin mendengar alunan musik di tempat ia berada, perlahan ia melihat satu lampu yang menyoroti seseorang yang membelakanginya. seseorang itu berbalik dan tersenyum manis ke arahnya.
Deg !!
"m-as Rafka" gumamnya lirih.
"untuk yang sedang berdiri di ujung sana, aku persembahkan lagu ini khusus untukmu KARIN DAWINTA." ucap Rafka.
Karin terkejut mendengar Rafka ingin bernyanyi untuknya.
"a-pa? untuk a-ku?" ucap Karin menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik dengarkanlah aku
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Huh
Oh
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku (di sampingku)
Aku tak main-main (main-main)
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Oh satu yang kumau
Kuingin melamarmu ho
(Badai Romantic project : Melamarmu)
Kenzo dan Kenzi berdiri di samping Karin. Karin terkejut bukan main, dia menutup mulutnya tak percaya ketika lampu ruangan itu menyala, ternyata banyak orang yang menatapnya dengan tersenyum ke arahnya. keluarga Rafka, adiknya, kedua sahabatnya, Surya, Fajar, Brian dan juga Desi semua hadir duduk di tempatnya masing-masing. Karin melihat sekelilingnya, ruangan yang dihiasi banyak bunga, karpet putih yang terbentang di depannya, dia sangat terharu mendengar Rafka menyanyikan sebuah lagu untuknya, si kembar memegang kembali tangan Karin dan menuntunnya ke arah Rafka.
"m-as Rafka" panggilnya gugup.
Rafka tersenyum ke arah Karin, dia membelai wajah wanita di depannya itu. Rafka kemudian berjongkok di depan Karin, dia membuka sebuah kotak yang berisi cincin berlian dengan desain yang simpel namun elegan, yang sudah pasti memiiki harga yang fantastis.
"Karin, mungkin kau bukan yang pertama untukku, tapi aku mau kau menjadi yang terakhir dalam hidupku, hidup bersamaku dalam suka maupun duka, menjadi ibu dari anak-anakku dan membesarkan mereka bersama-sama sampai maut memisahkan. WILL YOU MARRY ME, KARIN DAWINTA?" ucap Rafka dengan lantang.
"emm..maaf,