
"udahlah Rin, jangan nangis lagi ya? mungkin pak Rafka bukan jodoh kamu, kamu tau bukan jika Allah menitipkan sesuatu padamu dia akan mengambilnya kembali kalau memang bukan milikmu?" ucap Raisa mengusap wajah Karin yang sudah basah dengan air matanya.
Karin mengangguk sebagai jawaban.
"ternyata gini ya punya pacar Duda? ngeselin banget, seenaknya aja ngemainin hati anak perawan, sakit hati adek bang.. huuu..hikss.srroooott." ucap Karin sesenggukan.
Lusi dan Raisa menahan rasa jijik dan rasa ingin ketawanya melihat kelakuan Karin.
"hii jorok sekali kau Karin, Liat ingus mu.. hueekk, aku jadi ingin muntah.. " ucap Lusi yang jijik melihat Karin mengelap-elap ingusnya menggunakan baju yang di pakainya.
"udah dong Karin, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari pak Rafka dan pastikan kalau punya pasangan jangan Duda, takutnya kamu di kecewain lagi, masih banyak di luaran sana yang masih singel." ucap Raisa.
"mending kayak gue jomblo, buat apa punya pacar bikin pusing aja." sahut Lusi.
"lu mah bukannya gak punya pacar, dasarnya aja lu mah gak laku." sahut Raisa.
"kata siapa? lu mah gak tau aja kalo banyak cowok yang antri di luaran sana."
"antri pesen minuman kali bukan ngantri buat jadi pacar lo, palingan kalo ada juga si Jony yang gayanya kayak emak-emak arisan, haha. kamu masih inget gak Rin, waktu Lusi di kejar sama si Jony.?"
Karin dan Raisa langsung terbahak bersamaan, mengingat Jony yang gayanya seperti emak-emak arisan dengan memakai celana cutbray warna merah ngejreng, kemeja kuning terang, dasi kupu-kupu yang menempel di lehernya, tompel di dekat bibirnya jangan lupakan rambut klimis yang mirip prosotan. ah mengingatnya membuat Karin dan juga Raisa tertawa terbahak-bahak, bagaimana tidak? Jony yang sudah berpenampilan seperti itu menuntun seekor kambing dan juga bebek ke cafe milik Lusiana, dia ingin melamar Lusi, bukan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Lusi melainkan tali tambang yang di gunakan untuk mengikat kambing dia ikatkan ke pergelangan tangan Lusi.
"aarrgghh.. dasar sahabat sialan." pekik Lusi kesal.
mendengar Lusi yang kesal membuat kedua wanita itu semakin terbahak, Lusi hanya komat Kamit melihat kedua temannya terus menertawakannya. Karin dan Raisa memegang perutnya yang terasa kaku karena terus tertawa, Karin mengusap sudut matanya sambil cekikikan.
"udah, hihihi.." ucap Raisa.
"makasih ya, berkat kalian aku jadi bisa ketawa lagi." ucap karin"
"nah gitu tong ketawa jangan sedih Mulu, kayak ada satu laki aja di dunia ini.hellooww." ucap Lusi sewot.
"iya-iya." sahut Karin.
"oh ya Rin, Sa, gue nanti mau ikut ke acaranya bang fajar kalian ikut ya? kalian kan tau sendiri gue gak punya gebetan, ya kali gue pergi sendiri gak ada temennya."
"kapan acaranya?" tanya Karin.
"nanti malam, kalian nanti dandan yang cantik ya? bakal banyak cogan disana siapa tau ada yang naksir sama kita, nanti gue kirim gaun yang bagus buat kalian berdua. oke ?"
"gue mah udah punya pacar, boleh gak kalau gue berangkatnya bareng ayang? Karin di jemput sama Lo ?" ucap Raisa.
"gaya yang punya ayang, ya udah gapapa nanti gue kirim tempat acaranya ke hp lo."
"ya udah kita pulang yuk Rin?" ajak Raisa.
Karin menganggukkan kepalanya, mereka bertiga langsung pergi dari taman tersebut. mereka pulang diantar oleh Lusi sampai ke rumahnya, di sepanjang perjalanan Karin hanya diam tidak berbicara sedikitpun meski kedua sahabatnya itu sudah berceloteh ngalor ngidul pun dia tetap tidak memedulikannya, Karin hanya menatap keluar jendela menatap jalanan yang ramai oleh para pengendara lainnya.
'kenzo, Kenzi kalian sedang apa? apa kalian gak mau bertemu dengan Bunda lagi? Bunda kangen banget sama kalian, meskipun Bunda nanti gak bisa jadi Bunda kalian, Bunda harap kalian gak ngelupain bunda'. Batin Karin.