
prosesi sungkeman di iringi Isak tangis dari keluarga kedua mempelai pengantin, Zidan memeluk kedua orangtuanya yang hadir di acara penting bagi Rafka, Surya pun ikut menangis dengan mendekap anaknya Raisa yang membuat Reza cemburu.
' kenapa Bapak malah peluk ayang sih, itu kan bagian gue' batin Reza kesal.
Rafka mengusap air mata Karin dengan mengecup keningnya lembut, dia menenangkan Karin yang terus mengeluarkan air matanya.
" sudah ya nangisnya, ini kan hari bahagia kita harusnya kamu tersenyum." ucap Rafka menari ujung bibir Karin untuk tersenyum.
Karin menganggukkan kepalanya, si kembar memeluk kaki Karin keduanya menengadahkan kepalanya menatap Bundanya.
" Bunda jangan nangis dong." ucap kenzi.
" bunda nangis karena bahagia sayang." jawab Karin mengusap kedua matanya.
"Bunda sekarang sudah resmi menjadi ibu kita berdua, aku harap bunda mau menerima kekurangan kami." ucap Kenzo.
Karin mengusap kedua wajah anak sambungnya dengan tersenyum.
"iya sayang, semoga Bunda bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian." ucap Karin.
Rafka mengajak Karin untuk menemui kakek Adijaya beserta istrinya, Karin menggiring kedua anaknya untuk ikut.
"kakek" panggil Rafka.
Kakek Adijaya dan istrinya tersenyum menyambut kedatangan Rafka bersama istri dan anaknya, meskipun keduanya sudah tua namun mereka masih terlihat bugar seperti umur 50 tahunan karena mereka menjaga pola makan dan hidup sehat di dampingi oleh dokter pribadi yang di tugaskan oleh Papa William untuk mengawasi dan menjaga kedua orang tuanya.
" Cucuku" ucap kakek Adijaya memeluk Rafka.
"kakek aku meminta doa restumu." ucap Rafka.
"aku mengerti kakek." ucap Rafka.
Karin maju menyalimi tangan kakek Adijaya yang di sambut dengan pelukan hangat, kakek Adijaya membelai wajah Karin yang mengingatkan dirinya pada salah satu sahabatnya yang sudah tiada.
" kau sangat mirip dengan sahabat ku yang sudah lebih dulu meninggalkanku nak." ucap kakek Adijaya.
"benarkah kek?" tanya Karin penasaran.
" iya dia sahabat kakek yang paling baik, tapi dia sudah lebih dulu menghadap ilahi bersama istrinya, cucuku jadilah istri yang shalihah terimakasih kau sudah menerima Rafka yang statusnya seorang duda dengan kedua anaknya, bimbinglah cicitku ke jalan yang benar tegur suami dan anakmu jika mereka salah kau berhak atas mereka, aku percaya padamu kau adalah wanita tangguh yang bisa menjaga keluarga mu dengan baik " ucap kakek Adijaya.
" iya kakek aku mengerti." ucap Karin.
Rafka dan Karin bergantian meminta restu pada Nenek Rafka yang di sambut dengan pelukan hangat dan memberikan beberapa wejangan kepada pasangan suami istri yang baru saja sah itu.
selesai sudah acara sungkeman dan menerima beberapa ucapan selamat dari keluarga lainnya, untuk saat ini Rafka dan Karin di perintahkan beristirahat oleh Mama Ayu agar tidak terlalu capek saat menjelang resepsi nanti, Rafka tentunya sangat senang bisa menghabiskan waktu berduaan dengan Karin, si kembar merengek ingin ikut dengan Daddy dan Bundanya namun Mama Ayu membujuk keduanya hingga mereka menuruti ucapan Mama Ayu.
Rafka menggendong tubuh Karin membawanya masuk ke kamar presidential suite miliknya, Karin melingkarkan tangannya di leher Rafka menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus bagaimana tidak para tamu yang hadir di acara akad nikahnya menyoraki sepasang pengantin baru itu.
" wiuwiit.. sabar dong jangan buru-buru napa." ledek Zidan.
" Rin tenang gue siapin obat kuat ya buat loe, asal lu tau duda lebih ganas dari perjaka kalo buka puasa." celetuk Lusi.
Karin semakin membenamkan wajahnya di dada Rafka, rasanya sungguh malu sekali saat sahabatnya sendiri dengan tidak tau malunya membahas tentang buka puasa.
' ya Allah Lusi bikin malu aja' batin Karin.
semua orang terkekeh mendengar celetukan Lusi, sedangkan Rafka mananggapinya dengan santai dia tetap berjalan menuju lift kamarnya.