
Karin duduk di sofa ruang keluarga, Lusi memberikan paper bag kepada Karin.
"apa ini?" tanya Karin.
"ini baju bridesmaid loe sama Kenzi buat lusa." ucap Lusi.
"ciee.. Yang mau nikah." goda Karin.
Wajah Lusi bersemu merah, karin terkekeh melihatnya dia sangat senang karena kedua sahabatnya kini memiliki pendamping masing-masing.
"mbak udah panggil dokter belum?" tanya Zidan.
" belum, nanti mbak panggil Bryan kesini mbak bingung liat kelakuan mas Rafka aneh banget soalnya." ucap Karin.
"emangnya kenapa sih suami loe rin?" tanya Lusi.
"huhh.. Dari bangun tidur mas Rafka udah muntah-muntah terus sampe sekarang tapi anehnya kalau nyium bau badan si kembar hilang mualnya, anehnya lagi tadi mas Rafka tiba-tiba pengen soto kan dia tuh gak suka sama soto." ucap Karin.
"aneh bener." ucap Lusi keheranan.
"bener-bener kudu di periksa tuh kak Rafka. "
Saat sedang asyik berbincang tiba-tiba Mama ayu datang bersama Papa William, dengan hebohnya Mama ayu berteriak memanggil cucu dan menantunya.
" yuhuuu... Everybadehhh.. Cucu Oma, Karin dimana kalian.." panggil Mama Ayu.
Papa william menutup kedua telinganya, dia heran kenapa istrinya bisa seheboh itu padahal hampir setiap hari mereka bertemu dengan cucunya.
"ma jangan teriak-teriak ini bukan di hutan." tegur Papa William.
"terserah mama dong, kenapa Papa yang repot sih." sewot Mama Ayu.
Karin menghampiri mertuanya, dia mencium tangan keduanya dengan takzim.
"kenapa sendiri, cucu mama mana sayang?" tanya Mama Ayu.
"mereka di kamar mas Rafka ma." jawab Karin.
"bukannya mereka hari ini sekolah ya?" tanya Papa William.
"itu dia masalahnya Pa, mereka gak bisa berangkat ke sekolah soalnya kalau mereka pergi mas Rafka pasti nangis sama muntah-muntah lagi." ucap Karin.
"kok bisa?" tanya Mama ayu.
"gatau ma, Karin juga bingung tadi juga mas Rafka tiba-tiba mau di bikinin soto ayam." jawab Karin.
Papa william dan Mama ayu membulatkan matanya saking terkejutnya, Papa william mengajak Mama ayu unntuk memeriksa keadaan Rafka mereka khawatir terjadi sesuatu pada anaknya. keduanya naik ke atas kamar Rafka tanpa memperdulikan zidan dan Lusi yang menatap heran padanya, Karin mengikuti mertuanya naik ke lantai atas meskipun keram di perutnya kembali terasa.
Ceklek..
Rafka terlelap di bawah selimut, si kembar pun ikut tertidur hanya ada Bagas saja yang tidak tidur dia sibuk dengan game yang dimainkannya.
"karin kamu sudah telpon Bryan?" tanya Mama Ayu.
"barusan Karin kirim pesan singkat sama Bryan katanya dia sebentar lagi datang." jawab Karin.
"ini anak ada-ada aja." ucap Papa william.
Papa william berniat ingin memeriksa suhu tubuh Rafka namun Rafka langsung lompat dari tempat tidurnya sampai si kembar terkejut, hp yang di pegang Bagas pun sampai terjatuh mengenai wajahnya.
Huekkk .. Huekk ..
"yang huekk .." panggil Rafka.
Karin kembali menyusul suaminya ke kamar mandi, dia membantu Rafka membasuh wajahnya.
"siapa sih yang dateng ke kamar kok baunya bikin enek banget?" tanya Rafka.
"ada Mama sama Papa yang datang mas." jawab Karin.
"kok mereka bau ya?" ucap Rafka bingung.
"enggak kok mas, hidung kamu aja yang bermasalah orang aku gak nyium bau apa-apa kok." ucap Karin.
"kok kamu jadi nyalahin hidung aku jahat banget sih, huwaaaa..." tangis Rafka kini kembali pecah.
Karin menutup mulut Rafka, dia pusing mendengar suaminya yang kembali menangis. Mama Ayu masuk ke dalam kamar mandi karena tidak di kunci, seketika Rafka langsung berhenti menangis dan kembali memuntahlan isi perutnya.
huekk .. Huekk ..
"MAMA KELUAR, PARFUM MAMA BAUUUU HUWAAAA...."