
semua penonton begitu menikmati lagu yang Karin nyanyikan bahkan sebagian besar penonton ikut meneteskan air matanya. Karin bernyanyi dengan merdu dan penuh penghayatan, dia meluapkan perasaannya lewat lagu sial yang dia bawakan.
riuh tepuk tangan terdengar samat ramai saling bersahutan kala Karin menyelesaikan lagunya, dengan berderai air mata Karin mengucapkan terimakasih lalu ia pergi meninggalkan panggung tersebut. Lusi mengejar Karin yang sudah lebih dulu turun, dia belum tahu kalau Karin saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Karin berlari masuk ke dalam toilet, dia mengunci pintu toilet menumpahkan seluruh kesedihan yang dia pendam.
Lusi menggedor pintu dimana Karin berada.
"Rin loe gapapa? Rin jawab dong Rin kenapa diem aja? jangan nangis Rin maafin gue kalo gue salah." cecar Lusi menggedor-gedor pintu dengan cemas.
"hikss.. huuhhhuu.. bi-arin aku sen-diri Lusi" sahut Karin dengan nafas tercekat karena menangis.
"aduh bagaimana ini, Raisa? ya aku harus panggil Raisa." gumam Lusi resah.
lusi pergi meninggalkan toilet, dia bergegas mencari Raisa meminta bantuannya agar Karin keluar dari toilet dia sangat takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada sahabatnya itu.
"Raisa." pekik Lusi.
Raisa menutup kupingnya mendengar suara Lusi, dengan malas dia menghampiri Lusi.
"apaan sih teriak-teriak kayak Tarzan aja sih loe." omel Raisa.
"ayo ikut gue." ucap Lusi menarik tangan Raisa.
Raisa sedikit berlari mengikuti langkah Lusi, dia heran kenapa Lusi mengajaknya ke toilet.
"ngapain loe ngajak gue ke sini? mau pipis bareng? idihh ogah gue." ucap Raisa.
"bisa diem gak loe. Karin lagi nangis di dalem gue gak tau dia kenapa makanya gue ngajak loe, siapa tau loe bisa bujuk Karin untuk keluar dari sana takutnya para pengunjung risih mendengar suara tangisan Karin bisa-bisa mereka kabur sambil nahan pipis kan gak etis." jelas Lusi.
dengan bujukan Raisa akhirnya Karin keluar dari toilet dengan mata bengkaknya, kedua Sahabatnya memeluk Karin dengan erat.
"Karin loe gapapa, hampir aja loe bikin gue jantungan untung aja jantung gue baru aja di cor jadi kuat." celetuk Lusi.
Raisa menoyor kening Lusi.
"heh kampret dasar lu ya, Karin lagi sedih juga loe masih bisa becanda aja." tegur Raisa.
"gue kan gak tau, saat Karin beres nyanyi dia langsung lari ke sini terus nangis wajar lah gue khawatir." ucap Lusi.
"udah Rin kita pergi dari sin, jangan dengerin manusia o'on kayak Lusi bahaya nanti ketularan lagi." ucap raisa membawa Karin keluar dari toilet.
Lusi mengekor dari belakang dengan wajah cemberut. Raisa membawa Karin ke ruangan pribadi Lusi, dengan tatapan mengintrogasi Lusi duduk menyilangkan kakinya menunggu salah satu sahabatnya membuka suara.
" enak aja kalian gak cerita sama gue, oh tidak bisa sahabat macam apa mereka maen rahasia-rahasiaan segala" pikir Lusi.
Raisa faham melihat tatapan Lusi, dia lupa kalau Lusi belum tau keadaan Karin saat ini.
" gak usah belagu kayak gitu, nanti juga gue ceritain biarin Karin tenang dulu." ucap Raisa.
setelah lama diam Raisa membuka suaranya saat dia melihat karin lebih tenang, dia menceritakan semuanya pada Lusi tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Lusi mengepalkan tangannya geram mendengar cerita dari Raisa mengenai hubungan Karin dan juga Rafka, tidak ada yang boleh menyakiti sahabatnya selain dirinya.
"tuh orang kayaknya belum tau rasanya kalau sosisnya di panggang?! seenaknya dia nyakitin sahabat tercinta gue, wah gak bisa dibiarin ini kita kudu bertindak mentang-mentang dia orang kayak bisa seenak jidatnya mainin hati cewek, dasar duda gatel." geram Lusi.
Raisa dan Karin diam saja menanggapi kekesalan yang di lontarkan oleh Lusi, bagi Karin saat ini adalah melupakan lebih baik daripada terus bergelantung di dalam keyakinan yang tak pasti.