
tengah malam Raisa terbangun dari tidurnya, dia merasakan ada tangan besar yang melilit di atas perutnya. Raisa terkejut melihat Reza tidur satu ranjang dengannya, beberapa saat Raisa masih dengan keterkejutannya namun tak lama kemudian dia sadar kalau dirinya san Reza sudah sah menjadi suami istri.
"Astagfirullah, kenapa aku bisa lupa kalau sekarang kita udah halal." ucap Raisa memegang dadanya.
pergerakan Raisa membuat Reza merasa terusik, dia menguap dan menggeliatkan tubuhnya. Perlahan Reza membuka matanya, orang pertama yang di lihat oleh Reza adalah wajah cantik istrinya.
" sayang udah bangun?" tanya Reza dengan suara serak khas bangun tidur.
" udah kak, badannya lengket brlum mandi jadi gak enak kalau mau tidur lagi sok aja lagian ini masih malam juga." ucap Raisa.
Reza langsung mendudukkan tubuhnya, dia harus berhasil melancarkan aksinya sebelum Raisa benar-benar pergi mandi.
" nanti saja mandinya, biar sekalian." ucap Reza menaik turunkan alisnya.
" gak bisa kak, udah lengket banget ini." ucap Raisa dengan polosnya.
Reza yakin istrinya belum paham maksudnya, dia merapatkan tubuhnya pada Raisa.
" sayang ini kan malam pertama kita, apa aku boleh meminta hak ku sekarang?" tanya Reza
Deg !!
jantung Raisa berdegup dengan kecang, dia belum mempersiapkan apapun untuk malam pertamanya bersama Reza. Raisa mencoba mencari cara untuk pergi dari hadapan Reza meskipun dalam waktu yang singkat, dia bukan gadis polos seperti Karin tentunya dia sangat tau bagaimana caranya melayani suaminya di malam yang spesial bagi pengantin baru.
Reza sengaja bertanya kepada istrinya sebelum dia melancarkan niatnya, dia tak ingin memaksa istrinya demi kenyamanan bersama apalagi Reza melihat raut wajah lelah yang terpancar dari wajah istrinya setelah menyambut para tamu undangan satu hari penuh. Tapi, di sisi lain Reza adalah pria normal yang sudah lama dia menantikan moment malam pertama bersama Raisa.
" emm kak nanti aku akan menjawabnya, tapi bolehkan kalau aku izin sebentar ke kamar mandi soalnya aku kebelet pipis." ucap Raisa.
sesuai dengan tujuannya Reza tak ingin memaksa Raisa, dengan sangat berat hati Reza menganggukkan kepalanya memberikan izin kepada Raisa untuk pergi ke kamar Mandi.
Dengan gerakan kilat Raisa pergi ke kamar mandi , namun sebelum pergi Raisa mengambil kotak kecil yang terletak di meja rias kamarnya lalu membawanya masuk ke dalam Kamar mandi.
" huuh gini amat ya nasib, tapi gapapa lah masih ada besoknya lagi." ucap Reza dengan lesu.
Raisa membuka kotak kecil lalu mengambil barang yang terletak di dalamnya, Raisa membasuh wajahnya dan berdandan tipis menyisir rambutnya, setelah memastikan semuanya sudah siap dia menatap pantulan tubuhnya di depan cermin.
" uh ternyata seorang Raisa bisa dandan hot juga ya, hihihi" ucap Raisa memutar tubuhnya.
"ah jangan sampe lupa sama si merah, kasian kan suami tercinta murung gara-gara tamu datang tiba-tiba." guman Raisa.
Rasisa langsung memeriksa tamunya yang di takutkan muncul tanpa di undang, dia mengingat frekuensi kapan tamunya biasa datang.
' ah masih lama ' batin Raisa
Reza bergerak gelisah di atas tempat tidurnya sampai bunga mawar yang sudah tertata dengan rapih jatuh berserakan di atas lantai, Raisa perlahan membuka pintu kamar mandinya.
Ceklek ..
Raisa berjalan bak model yang sedang memamerkan busana yang di pakainya, dia berlenggak lenggok berjalan menuju ke arah suaminya yang sudah resah gelisah menunggu kedatangannya.
" mas Reza." ucap Raisa dengan suara menggodanya.
Reza membalikkan tubuhnya saat mendengar suara istrinya, matanya terbelalak melihat penampilan Raisa yang sangat seksi dimatanya bagaimana tidak? Raisa datang lengkap memakai baju dinas yaitu lingerie, beruntung hanya dia yang dapat melihatnya jika orang lain yang melihatnya bisa di pastikan kalau Reza akan mencolok mata orang tersebut.
Glukk.
"kenapa diam saja ? Bukankah kau mau hak mu?" tanya Raisa dengan nakalnya.
" kamu yakin sayang?" tanya Reza memastikan.
Raisa menganggukkan kepalanya, melihat suaminya yang diam saja Raisa langsung menyambar b**** reza lalu mel****nya dengan lembut, Reza membalas c****** yang Raisa berikan. Tangan Reza mulai nakal menelusuri buah melon dan cherry yang bersembunyi, keduanya larut dalam buaian mesra.
dinginnya malam kini tergantikan dengan panasnya suasana yang tercipta oleh pasangan pengantin baru, pandangan Reza sudah di penuhi dengan kabut n**** yang sudah tak tertahan. Dia mengangkat tubuh Raisa menanggalkan pakaiannya sehingga ular cobra miliknya berdiri tegak siap mematuk mangsanya.
" jika terasa sakit kau beleh mencakar punggungku atau bilang saja oke." ucap Reza.
Raisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, perlahan Reza menuntun ular kobranya untuk masuk ke lembah yang berumput.
"sshh sakiitt." desis Raisa.
" tahan sebentar, rasa sakitnya tidak akan lama percaya padaku." ucap Reza.
Reza mengusap air mata Raisa, dia kembali memberikan c***** lembut namun menuntut untuk mengalihkan rasa sakit yang Raisa rasakan.
Reza berusaha masuk sampai di ketiga kalinya ular miliknya berhasil masuk ke dalam lembah berhutan.
Jleb..
Darah segar keluar dari lembah, ular kobra berhasil mematuk mangsanya.
"terimakasih kau telah menjaganya untukku sayang" ucap Reza mengecup kening Raisa dengan lembut.
" sama-sama suamiku" jawab Raisa.
Reza melancarkan aksinya, dia membolak-balikkan tubuh Raisa sampai lemas. Sesekali Raisa bertukar posisi memimpin permainan berpacu kuda. Sampai subuh keduanya melakukan permainannya, ular milik Reza sudah menegang memberikan sinyal untuk mengeluarkan bisa nya.
"emmmhhh, pipipiw pipiw piw ." erang Reza ambruk diatas tubuh Raisa.
Raisa terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya di detik-detik bisa ularnya mengeluatkan racunnya.
"terima kasih sayang." ucap Reza.
"hahaha .. Kamu tadi bilang apa? Ngapain pakai bilang pipiw segala?" tanya Raisa debgan tertawa.
" kamu tau kan serial kartun si kembar botak?" tanya Reza.
"tau, emangnya apa hubungannya?"
" kan mereka kalau nembak suka bilang gitu,"
" haha kamu ini ada-ada aja,"
"nembaknya banyak biar cepet ada dedek bayinya di sini." ucap Reza mengusap perut rata Raisa.
"aammiin"
Keduanya kini terlelap saling berpelukan, wajah berseri tepancar dari wajahnya yang bahagia meskipun tak bisa di pungkiri keduanya merasakan lelah.