
"Bunda dia adalah Mama Steve yang Kenzo ceritakan waktu itu, aku masih ingat wajahnya." jawab Kenzi berbisik.
Karin yang mendengar bisikan Kenzi langsung melotot, tangannya terkepal, pancaran kilat amarah langsung terpancar dari wajahnya. dia masih ingat dengan begitu jelas bagaimana cerita Kenzo, begitu tersiksanya Kenzo atas perlakuan wanita yang sedang berdiri di depannya. Rafka kaget melihat ekspresi Karin yang berubah menjadi sangat menyeramkan, tak pernah dia melihat Karin seperti ini.
' kenapa Karin berubah menjadi sangat menyeramkan seperti ini?' pikir Rafka.
"mohon maaf, apa kita saling mengenal?" tanya Rafka sopan.
"Anda tidak mengenal saya, tapi saya kenal dengan anak kurang ajar itu." tunjuk nya pada Kenzo.
"ada masalah apa anda dengan anak saya? kenapa anda memanggil anak saya dengan sebutan kurang ajar?" tanya Rafka dengan menahan emosi, tak terima anaknya di sebut kurang ajar.
Karin bangkit dari duduknya dan..
PLAK ..
Karin menampar wajah perempuan yang di panggil kenzi dengan sebutan mama Steve, Rafka terkejut melihat Karin menampar wanita yang berdiri di hadapannya, apalagi Mama Steve yang di tampar langsung memegang pipinya yang terkena tamparan Karin.
"sayang kenapa kau menamparnya?" tanya Rafka.
" dasar wanita kurang ajar, kenapa kau menamparku?" berang mama Steve.
"DIAM KAU !! itu adalah balasan untuk apa yang telah kau perbuat kepada anakku Kenzo, bahkan itu tidak ada apa-apanya di bandingkan bekas luka yang tersimpan di hati anakku !!" jawab Karin tak kalah berang nya.
"oh jadi ternyata kau ibu dari anak kurang ajar ini? pantas saja kelakuannya sama, sama-sama kurang ajar, tidak berpendidikan, dan tidak bermoral." ketus Mama Steve dengan melipat kedua tangannya.
Karin semakin tersulut emosinya mendengar ucapan yang di lontarkan Mama Steve pada calon anak sambungnya itu. Karin diam untuk beberapa saat, dia sedang mengingat sesuatu karena merasa tak asing dengan wanita di hadapannya, seperti pernah melihatnya beberapa kali namun entah dimana. Karin memejamkan matanya, sekelebatan ingatan saat dia sedang bekerja muncul dalam benaknya, dia membuka matanya dan menyeringai kepada Mama Steve.
Mama Steve yang melihat Karin menyeringai merasa takut, tapi dia berpura-pura tak melihatnya.
"mas kau mau tahu siapa wanita yang berada di hadapan kita ini?" tanya Karin melirik ke arah Rafka.
Rafka mengangguk-anggukkan kepalanya, mulutnya merasa seperti terkunci karena takut melihat ekspresi Karin yang beda dari biasanya.
"dia adalah wanita yang sudah menampar Kenzo saat sedang bermain di taman komplek kawasan mansion Mama Ayu, dan dia juga yang sudah melontarkan kata-kata kasar pada anakku yang mana membuat Kenzo ketakutan dan juga trauma untuk bermain dengan anak lainnya." jelas Karin.
Rafka mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan menatap nyalang penuh amarah ke arah Mama Steve. dia baru ingat akan cerita Kenzo saat berada di kamar bersama Karin yang tidak sengaja ia dengar, Rafka masih ingat bagaimana Kenzo menangis pilu saat menceritakan kejadian yang pernah di alaminya pada Karin.
"jadi kau yang telah menampar anakku? JAWAB !!" sentak Rafka.
Mama ayu gemetar kaget saat Rafka menyentaknya.
"i-ya me-mangnya kenapa? anakmu yang bersalah karena telah melukai anakku Sampai wajah anakku di penuhi bekas cakaran." ucap Mama Steve gemetar.
"tidak Dad, aku tidak bersalah. saat itu Steve mendorongku karena tidak terima kalau timnya kalah, aku melawannya dan terjadi perkelahian diantara kami, Mama Steve langsung datang menghampiri dan menampar wajahku Lalu menghempaskan tubuhku sampai terjatuh, saat itu aku juga terluka sama seperti Steve karena wajahku juga banyak cakaran." ucap Kenzo menjelaskan bagaimana kronologi kejadian itu terjadi.
"Kau sudah mendengar penjelasan dari anakku bukan? kenapa kau bertindak seakan anakmu adalah korban, padahal yang menjadi korban adalah anakku." ucap Rafka dengan menahan amarahnya.
"dia pasti berbohong, mana ada maling mau ngaku." kilah Mama Steve.
"jadi anakku yang berbohong?" ucap Karin tersenyum miring lalu mendekat ke arah Mama Steve.
Mama Steve mundur beberapa langkah saat Karin mendekat ke arahnya.
"kau bukannya wanita yang selalu datang ke cafe dengan beberapa pria yang berbeda bukan? bahkan kau tak segan melakukan hal lebih saat kau berada di toilet?" bisik Karin di telinga Mama Steve.
mata Mama Steve membulat sempurna mendengar bisikan Karin, bagaimana Karin bisa tahu kelakuannya. Karin tersenyum miring karena kemungkinan tebakannya benar, Karin pernah beberapa kali memergoki seseorang yang di yakini dirinya adalah Mama Steve saat bekerja di cafe.
Seorang pria datang menghampiri Mama Steve beserta anak laki-laki seumuran dengan Kenzo.
"Mama kenapa disini? dan kenapa banyak orang yang memandang ke arah Mama? apa ada keributan yang terjadi disini?" cecar pria itu.
"Maaf tuan, apa tuan suami dari ibu ini?" tanya Karin menyela pembicaraan seorang pria dihadapannya.
"iya saya Gabriel suaminya, dan ini Steve anak kami berdua." jawab pria itu.
"kebetulan sekali, jadi nyonya apa nyonya mau mengakui kesalahan anda? atau saya akan memberi tahukan kepada suami anda tentang kelakuan anda?" tanya Karin pada mama steve dengan melipat kedua tangannya.
Mama Steve ketakutan mendengar ancaman dari Karin, tapi dia juga gengsi mengakui kesalahannya.
"memangnya aku melakukan kesalahan apa, perasaan aku tidak melakukan kesalahan apapun."
"ck dasar wanita tidak tahu diri"
"baiklah, jika kau tidak mau mengakuinya, dengan senang hati aku akan memberitahukan kelakuanmu pada suamimu itu." ucap Karin santai.
Mama Steve bergerak gelisah, namun dia tetap dengan pendiriannya yaitu tidak mau mengakui kesalahannya. Karena Mama Steve yang terus diam akhirnya Karin buka suara.
"tuan apa kau tahu, bahwa istrimu ini telah melakukan tindak kekerasan pada anakku, dia menampar anakku dan juga melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya di tujukan pada seorang anak kecil. satu lagi, aku juga pernah beberapa kali memergoki dia di cafe dengan pria yang berbeda, bahkan bercumbu di toilet cafe tersebut." jelas Karin.
"ti-dak, itu tidak benar pa. ma-na mungkin Mama melakukan itu semua." kilah Mama Steve.
"terserah jika tuan tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada istrimu langsung. aku juga jadi ragu apa benar Steve itu adalah anakmu atau bukan." ucap Karin memprovokasi kedua pasangan di depannya.
Gabriel mencerna kata-kata Karin, memang beberapa bulan terakhir istrinya sering keluar rumah, bahkan jika pulang pun sudah larut malam. Dia menatap istrinya dengan tatapan penuh intimidasi, wajah Mama Steve langsung pias melihat tatapan suaminya itu.