Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 39 - Mengungkapkan



Reza menarik tangan Raisa keluar dari restoran. Raisa masih cemberut karena kejadian tadi, Reza tertawa dalam diam dan hal itu membuatnya merasa tersiksa, tapi dia tidak mau menyinggung perasaan Raisa lagi takutnya Raisa tambah merajuk padanya.


sesampainya keduanya di parkiran, Reza memakaikan helm dikepala Raisa. Reza lebih suka membawa motor di banding mobil ketika bersama Raisa, karena Reza bisa mengambil kesempatan agar dia bisa di peluk oleh Raisa.


setelah memastikan Raisa duduk, aman dan nyaman, Reza mulai melajukan motor sport yang di beri nama Inul itu.


brem. bremm .. ngueengg..


Reza dengan sengaja nya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Raisa yang terkejut langsung mengeratkan pelukannya, mulutnya komat Kamit kesal pada Reza.


"kenapa sih harus ngebut?" teriak Raisa.


"APA? Aku gak denger Raisa !! kamu bilang apa? selimut? aku tidak punya selimut?" jawab Reza berteriak.


"siapa yang nanyain selimut? dasar Bud*g !!" teriak Raisa kesal.


"gudeg? kau mau makan gudeg? dimana?" pekik Reza.


bugh .. bugh..


Raisa memukul helm Reza dua kali.


"DASAR MANUSIA MENYEBALKAN !!" amuk Raisa.


Bukannya marah, Reza malah tertawa saat mendapat pukulan dari Raisa. Entah mengapa rasanya sangat menyenangkan jika bisa mengerjai Raisa.


Raisa mengernyitkan dahinya ketika Reza menghentikan motornya. Reza mengajak Raisa turun dan pergi meninggalkan motornya, dia menuntun Raisa duduk di kursi tempat dimana dia bertemu dengan Raisa untuk pertama kali.


"kak Reza kenapa kita ke tempat ini?" tanya Raisa bingung.


"tadi kau bertanya padaku tempat yang ingin aku kunjungi bukan? disinilah tempatnya." jawab Reza.


Raisa mengangguk, dia melihat ke arah danau yang masih asri dan pemandangan di sekitarnya, disana dia dapat merasakan ada ketenangan dan kenyamanan.


'indah, nyaman dan tentram' batinnya.


"apakah kau suka?" tanya Reza.


"aku suka, pemandangannya masih asri dan hijau, sepertinya tidak banyak orang yang berkunjung disini jadi keindahannya masih terjaga." terang Raisa.


"kau memang benar. tidak banyak yang tau akan tempat ini, mungkin hanya ada beberapa saja , setiap kali aku sedih ataupun banyak masalah disinilah tempatku menenangkan diri." ucap Reza tersenyum.


Raisa manggut-manggut mendengar ucapan Reza.


Reza membalikkan badannya menghadap ke arah Raisa, di tatapnya wanita yang berada di hadapannya itu dengan begitu dalam. merasa ada yang memperhatikan Raisa pun membalikkan badannya sehingga pandangannya bertemu dengan Reza.


deg !! deg !!


jantung keduanya berdebar satu sama lainnya.


"Raisa mungkin ini saatnya aku mengatakan perasaanku padamu, jujur. aku menyukaimu di awal pertemuan kita berdua saat itu, aku selalu berusaha agar bisa terus bersamamu, aku bukan pria yang romantis yang bisa mengungkapkan sebuah rasa yang di susun dengan indahnya bak sebuah puisi. aku hanya pria biasa yang baru memiliki keberanian menyatakan perasaanku padamu setelah sekian lamanya kita saling mengenal.. "


" Raisa, maukah kau menjadi wanitaku yang menemaniku di kala susah maupun senang? bersamaku membangun sebuah keluarga yang bahagia, melewati hari-hari dimana aku bisa membuka mata dan menutup mata bersamamu, bahkan sampai mata ini tak bisa terbuka kembali?" ucap Reza tulus dengan tatapan penuh cinta kepada Raisa.


Raisa tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu untuk menjawab semua ungkapan itu. Raisa akui dia memang memiliki rasa yang sama dengan Reza, namun dia merasa tidak pentas jika harus bersanding dengan Reza.


"jika kau tidak bisa menjawabnya sekarang tidak apa, aku akan menunggu jawabanmu sampai kapanpun." Reza tidak bisa memaksa Raisa untuk menjawabnya sekarang, dia akan memberikan waktu kepada Raisa sampai Raisa sendiri yang memberikan keputusannya.


"e-emm, ta-pi status ki-ta berbeda kak? kau orang terpandang se-dang-kan aku hanya orang biasa yang tak punya apa-apa, bah-kan hu-tangku saja belum lunas padamu." ucap Raisa gugup.


Reza tersenyum pada Raisa. Reza masih setia menggenggam tangan Raisa dengan lembut ia mengusap tangan putih nan halus itu, Reza menempelkan b*b*rnya pada tangan Raisa.


mendapat perlakuan seperti itu dari Reza , Raisa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tak bisa mengontrol jantungnya yang terus berdetak tak karuan apalagi wajahnya yang sudah sangat merah padam.


"lihat aku Raisa !!" pinta Reza.


Dengan ragu Raisa menatap wajah Reza.


"dengarkan aku !! aku mencintaimu tanpa syarat, semua hutang itu hanya alibi ku agar aku bisa mendekatimu. aku tulus padamu, aku terima semua kekurangan serta kelebihan mu Raisa, sungguh aku tidak pernah menilai seseorang dari status sosialnya karena bagiku semua manusia itu sama di hadapan Tuhannya. kau adalah wanita paling berharga bagiku Raisa, maukah kau menerima cintaku ini Raisa ?"


Raisa terharu mendengar kalimat cinta yang Reza ungkapkan, baru kali ini ada seorang pria yang tulus tanpa merendahkan dirinya hanya karena dia miskin. mata Raisa berkaca-kaca, mulutnya seakan tertutup rapat untuk menjawab setiap ucapan yang Reza sampaikan, alhasil Raisa mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.


Reza menatap seakan tak percaya bahwa cintanya di terima Raisa. saking bahagianya Reza langsung menarik tubuh Raisa dan memeluknya dengan erat, menghujani seluruh wajah Raisa dengan sebuah kec*pan.


"terimakasih Raisa, terimakasih telah menerima cintaku." ucap Reza dengan pancaran bahagianya.


Raisa tersenyum malu melihat Reza yang terlihat begitu bahagia.


saking bahagianya Reza menempelkan b*b*rnya ke b*b*r Raisa.


emhh..


Raisa tersentak kaget karena serangan tiba-tiba dari Reza, dia berontak memukul dada Reza sampai tubuh Reza terlepas darinya.


"maaf sayang, saking bahagianya." ucap Reza tersenyum dengan menampilkan rentetan gigi putihnya.


"dasar mes*m !!" pekik Raisa.


Reza langsung mendekap kembali tubuh Raisa, meskipun kesal Raisa tetap membalas pelukan Reza.


tanpa sadar ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang serta mengintip interaksi keduanya dari jauh.


"itu kan Raisa? siapa pria itu?" gumamnya.


"RAISA" pekiknya.