
Mama Ayu beserta papa William diikuti Reza, Raisa dan Kiki berkumpul di salah satu ruangan dimana Lusi dan Zidan sudah duduk untuk di interogasi, tak lama kemudian Rafka dan karin datang membuat orang-orang saling tatap melihat cara jalan Karin.
" aduuhh yang buka puasa sampe kayak gitu ya." sindir Reza.
" udah lama nahan lapar makannya gitu za." timpal Mama Ayu.
" siap-siap nambah cucu nih." tambah Papa William dengan wajah berbinar.
Karin tersenyum kikuk di sertai pipi yang panas, Rafka membantu istrinya untuk duduk dia tidak peduli orang lain berkata apa karena percuma saja dia membalas ucapan orang lain yang akan membuat istrinya bertambah malu.
"udah deh kasian istriku jadi malu kayak gitu, bukannya kita mau bahas tuh kunyuk satu." ucap Rafka menunjuk ke arah zidan.
"gak usah malu Mama juga dulu sama kayak kamu, apalagi Papa dulu gak pernah ada puasnya sampai mama masuk rumah sakit." ucap Mama Ayu.
" kuda lumping kesurupan itu mah namanya." celetuk Zidan.
semua orang tertawa kecuali papa William dia malu setengah mati, berbeda dengan Lusi dia sedang risau mengingat kejadian satu malam bersama Zidan.
" sudah, sudah kenapa malah ngomongin Papa sih kita kan mau interogasi Zidan sama Lusi biar masalahnya cepet selesai." ucap Papa William.
Reza memegang perutnya yang keram karena tertawa, Karin mengubah posisinya duduk di sebelah Lusi, dia memegang tangan Lusi Karin tau sahabatnya itu sedang tegang.
"aku tau kamu sedang tegang, aku ada di sampingmu jangan takut semuanya pasti akan baik-baik saja." ucap Karin.
"loe tinggal ceritakan saja apa yang terjadi antara loe dan Zidan." tambah Raisa.
' darimana mulainya ya?' batin Lusi bingung.
" so, siapa yang mau ngomong duluan." ucap Papa William.
flasback
saat para tamu sudah pulang Lusi mengantar ayahnya ke luar menuju mobil milik kakaknya, Fajar sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil bersama Desi.
" Papa Lusi di minta tidur di hotel sama Mama Ayu sekalian nganter Karin pindah ke mansion barunya." izin Lusi.
"iya sayang, jaga dirimu baik-baik ya." ucap Sandi.
ayah Lusi yaitu sandi masuk ke dalam mobil bagian belakang yang di bukakan oleh Lusi.
"dek jaga diri baik-baik, kalau ada perlu apa-apa bilang sama kakak." pesan Fajar.
"siap pak komandan." ucap Lusi memberi hormat seperti prajurit tentara.
Fajar terkekeh melihatnya, Desi dan juga ayahnya melambaikan tangannya saat mobil mulai bergerak pergi meninggalkan kawasan hotel.
saat hendak masuk kembali ke dalam hotel Lusi melihat Zidan yang baru datang setelah mengantar orang tuanya masuk ke dalam jet pribadi milik keluarga Adijaya, orang tua Zidan tak bisa berlama-lama diam di tanah air karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan, beda halnya dengan kakek Adijaya beserta istrinya yang di bawa pulang oleh suster khusus untuk beristirahat di rumah milik Papa William.
Zidan menghampiri beberapa kolega bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan yang di pimpin oleh Rafka, dia menemani rekannya minum beberapa teguk minuman yang mengandung alkohol sedangkan Lusi dia asyik menyomot beberapa makanan sebelum tidur karena memang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.
kenyang dengan makanannya Lusi mencari minum saat ia mendapat air minum putih dia merasa aneh dengan rasanya, selain karena haus dia juga malas mencari air lainnya lagi jadi dia menenggak minumannya sampai habis tak tersisa, Lusi menghabiskan tiga gelas air yang di minumnya.
"kok pusing ya? mending tidur ajalah, Raisa juga udah tidur kayaknya." gumam Lusi.
dengan sempoyongan Lusi berjalan ke arah lift, dia menekan tombol lift dimana kamarnya berada.
Brugh..