
Acara demi acara sudah di lewati, kini hanya tinggal wajah lelah dari pengantin yang terus berdiri menyambut para tamu yang hadir.
Reza dan Raisa kini sudah berada di kamar yang sudah di hias dengan taburan bunga mawar dari mulai teras sampai kasur king sizenya. Karena sudah tak tahan dengan gerah yang di rasakan Raisa membuka gaunnya di depan Reza, Raisa lupa kalau saat ini Reza berada satu kamar dengannya.
" gerah banget ya Allah." keluh Raisa.
Srrreett .. Plukk ..
Raisa menyalakan Ac di kamarnya, dia hanya mengenakan kacamata berkudanya dan juga celana pendek. Reza menatap Raisa tanpa Berkedip bahkan air liurnya sudah hampir menetes melihat pemandangan yang sudah lama ia khayalkan, Raisa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur karena kelelahan sedangkan Reza sibuk berfantasi dengan pikirannya yang sudah berkelana jauh sampai dia senyum-senyum sendiri.
' gak perlu jauh-jauh ke luar negeri kalau mau liat pemandangan indah, disini justru pemandangannya lebih bagus lagi lengkap ada hutannya, lembah dan juga gunung aahhh nikmat mana lagi yang kau dustakan za' batin Reza.
Reza sadar dari lamunannya, dia melihat istrinya yang sudah memejamkan matanya hanya terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.
" lah kok tidur? Belum juga mulai nganunya." keluh Reza.
Reza merebahkan tubuhnya di samping wanita yang baru beberapa jam sah menjadi istrinya, dia memiringkan tubuhnya di pandanginya wajah lelah istrinya.
" kayaknya cepek banget ya, sampai suaminya ada juga gak sadar terus di tinggal tidur." ucap Reza membelai wajah Raisa.
Raisa sama sekali tidak terganggu dengan apa yang di lakukan oleh suaminya, dia tidur dengan nyenyak sampai Reza pun ikut menyusulnya ke alam mimpi karena selain kelelahan dia juga tak tega membangunkan istrinya.
" gak papa lah sekarang tidur dulu ngumpulin tenaga, biar nanti staminanya Full" gumam Reza sebelum menutup matanya.
Beda halnya dengan pengantin Baru yang tidur karena kecapean, justru Pengantin lama kini sedang asyik berpacu kuda memanjakan naga dan donatnya.
" emh"
"uhhh"
"eeemmhhh." erang Rafka.
Tubuh Rafka terkulai lemas setelah menyemburkan laharnya di ladang milik Karin, dia memeluk tubuh karin dari samping.
" terimakasih Bundaku tersayang." ucap Rafka.
" sama-sama mas." jawab Karin sambil menutup matanya.
Rafka selalu di buat puas oleh Karin, dia sangatlah beruntung memiliki istri pengertian seperti Karin yang tidak pernah menolak ketika ia menginginkannya, entah itu saat sedang masak, di kantor, kamar mandi Karin selalu menyanggupinya selagi anak-anaknya tak melihatnya.
"mas" panggil Karin.
"hemmm" sahut Rafka dengan mata terpejam sambil menikmati choco chips milik Karin.
"emh"
"ada apa sayang? Apa ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Rafka.
" tadi saat di bawah aku ngobrol sama mbak Cristin katanya dia mau bawa Bagas, tapi Bagasnya menolak gak mau katanya dia gak mau pisah sama si kembar." ucap Karin.
"terus?"
"menurut kamu gimana? Kamu gak keberatan kan kalau Bagas tinggal bareng kita?"
"ya gak papa, lagian aku udah anggap dia kayak anakku sendiri ya walaupun dia anak mantan istriku yang ada aku yang seharusnya nanya sama kamu, kan dia anak nya Cristin mantan istriku emang kamu gak ngerasa keberatan kalau Bagas ikut kita?"
"ya gak papa, malah Di rumah tambah seru kalau ada Bagas."
"kalau menurut kamu gitu kita tinggal serahin semuanya sama Bagas, biar dia yang putuskan gimana maunya sekalian ngomong sama Mommy Daddynya."
"iya mas."
Rafka kembali memakan choco chipsnya, Karin bergerak dengan gelisah tapi Rafka sibuk sendiri dengan tangan nakalnya.
"mas"
"iya sayang"
"mau lagi" rengek Karin.
Rafka kembali menggempur Karin, permintaan Karin membuat semangatnya kembali on pasalnya sangat jarang Karin meminta ulang olahraga yang telah dia lakukan.
*******************
Izin promosi novel keduaku ya βΊοΈ jangan lupa mampir temen-temen semua ππ€
Albert kini sadar dari pingsannya setelah dokter yang khusus menanganinya memeriksa kondisi kejiwaannya, Albert menatap kosong otaknya kini seakan seperti memutar kaset potongan-potongan peristiwa yang pernah ia lalui dari mulai kecelakaan sampai penghinaan yang di lakukan oleh kekasihnya dan juga keluarganya.
" Al awas itu ada mobil di depan!!" pekik Indah
Albert berusaha menginjak remnya namun tidak bisa, mobilnya oleng tak bisa di kedalikan mobil di depannya melaju lurus kearahnya.
" remnya blong Mom" ucap Albert panik.
Mobil di depannya menghantam mobil milik Albert berulang kali sampai mobilnya berguling-guling di jalanan.
" anak nyonya di nyatakan lumpuh"
"pria tak berguna"
"pria cacat"
" Tuan wiguna tak bisa di selamatkan, beliau dinyatakan meninggal dunia."
"cacat"
"menjijikkan."
Memori itu terus berputar dalam ingatan Albert, Albert mulai berkeringat dan memegangi kepalanya yang seakan di pukul dengan keras.
"aaaarrgggghh .." teriak Albert.
Indah dan yang lainnya panik, dia langsung mencoba menenangkan Albert namun Albert mandorong tubuhnya sampsi terjatuh.
Brukk ..
" Mom" pekik Rasya dan Cindy.
Keduanya membantu Indah untuk bangun, Pak Ahmad dan Satria membantu memegangi tubuh Albert agar dokter bisa menyuntikkan obat penenang kepadanya.
" aku bukan pembunuh." racau Albert.
" tidak, bukan aku yang membunuhnya."
"tidak ada yang kau bunuh nak, tenanglah Al tenang.." ucap Indah.
"Mom aku membunuhnya." ucap Albert dengan tangan gemetar.
"tidak sayang, kau tidak membunuhnya semua baik-baik saja tidak ada yang terjadi nak." ucap Indah mencoba menenangkan Albert.
"cacat mom, aku cacat, aku tidak berguna mom aaarrgggghhh..."
Albert semakin tak bisa di kendalikan, dia semakin berontak Pak Ahmad dan juga Satria kewalahan karena tenaga Albert jauh lebih kuat jika sedang kambuh.
Dokter berhasil menyuntikkan obat penenang ke tubuh Albert, perlahan Albert mulai tenang kembali Indah memeluk tubuh anak sulungnya. Air mata meluncur dengan derasnya, hati Indah begitu tersayat melihat kendisi putranya yang begitu menderita akibat sakit yang di deritanya.
"Al Mommy yakin kamu bisa melewati semuanya hikss.. " ucap Indah di sela tangisnya.
" biarkan tuan muda beristirahat, jika terjadi sesuatu segera hubungi saya." ucap Dokter.
" baik, terimakasih dokter." ucap Satria.
Dokter yang menangani Albert keluar dari ruangan, Cindy mengusap punggung Indah dia tau ibunya adalah orang pertama yang terluka melihat kondisi kakaknya, hati ibu mana yang tidak sakit melihat kondisi anaknya yang depresi dan juga lumpuh tak berdaya.