Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 88



"tidak ada yang perlu di khawatirkan , Rafka pingsan karena kondisi tubuhnya sedang tidak fit dia juga telat makan yang mengakibatkan kepalanya pusing, di tambah lagi dia syok dengan beberapa masalah yang sedang di hadapinya, aku sudah memeriksanya dan juga nanti resep obatnya aku akan menyuruh Reza menebusnya ke apotik karena tadi aku buru-buru datang jadi tidak sempat membawa obat." jelas Brian.


"terimakasih Dokter." ucap Karin.


"tugasku sudah selesai, aku pamit undur diri karena masih banyak pasien yang harus aku urus." pamit Brian.


"silahkan Dokter." ucap Karin.


Brian keluar dari kamar Rafka dengan membawa peralatan medisnya.


di bawah Lusi dan Raisa hendak mengejar Karin yang berlari ke atas namun Reza segera menghentikannya.


"kalian mau kemana?" tanya Reza.


"kita mau kejar Karin kak." jawab Raisa.


"sayang biarkan saja, mba Karin pasti cemas dia pasti pergi ke kamar kak Rafka, kita tunggu saja di sini."


"iya kak."


Reza mengajak Raisa dan Lusi untuk menunggu di ruang tamu, sebelum duduk Reza merangkul bahu Raisa karena sudah beberapa hari dia tidak bisa menemuinya. Lusi mendelik kesal melihat dua sejoli yang saling melepas rindu dengan tersenyum yang menurutnya itu sangatlah menyebalkan.


"anggap aja gue setan yang tak terlihat, bisa-bisanya ya kalian tidak menghargai kehadiran gue disini? menyesal sekali gue ikut ke sini." gerutu Lusi.


"loe mau ikut gue kek, atau mau ngikut Karin juga sama aja kelles, sama-sama jadi nyamuk." Cibir Raisa.


"udah sayang kita duduk aja." ucap Reza menengahi.


ketiganya duduk di ruang tamu, tak lama kemudian Brian keluar dari kamar Rafka dan turun ke bawah. Reza langsung menghampiri Brian menanyakan kondisi kakaknya, Brian menjelaskan bagaimana kondisi Rafka dia juga memberikan resep obat pada Reza setelahnya dia pamit pergi.


*kamar Rafka*


perlahan Rafka menggerakkan tangannya, dia mengerjapkan kedua matanya dan melihat sekelilingnya yang pertama dia lihat adalah wajah wanita yang sangat dia cintai.


Rafka menggelengkan kepalanya pelan.


"sayang sejak kapan kamu disini?" tanya Rafka dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


"mas jangan banyak bergerak dulu, aku tadi kesini langsung saat Reza meneleponku dan memberitahuku kondisi kamu juga si kembar." ucap karin.


Rafka mencoba mendudukkan tubuhnya, Karin membantu Rafka untuk bangun dia juga menyelipkan bantal di belakang punggung Rafka.


'kenapa aku malah pingsan, harusnya aku mencari si kembar dasar payah' batin Rafka.


Rafka memijat-mijat kepalanya yang pusing, beberapa saat kemudian dia teringat percakapannya dengan Kenzo beberapa Minggu yang lalu.


Rafka sedang membuat sebuah alat yang bisa memberitahu keberadaan seseorang jika orang itu menekan tombol yang bisa menghubungkan koneksinya lewat laptop miliknya.


Sebagai CEO dia selalu mengantisipasi keamanan perusahaannya, dia membuat alat itu bukan hanya satu tapi ratusan. Rafka menciptakan alat itu untuk para supir yang mengirimkan produk yang ia keluarkan dan beberapa bagian penting lainnya, sebagai seorang pebisnis dia harus mempersiapkan segalanya Karena kepintarannya maka perusahaan itu maju sampai sekarang, banyak lawan bisnis yang ingin menjatuhkannya, menyabotase barangnya, bahkan ada yang sampai menculik karyawannya hanya untuk di jadikan tawanan sebagai ancaman untuk dirinya. berbagai macam cara musuh melakukan kelicikannya, untuk itu dia memberikan alat itu sebagai sinyal jika salah satu karyawan sedang dalam bahaya.


*saat di ruang kerja Kenzo menghampiri Rafka yang sedang merancang alat untuk meninjau titik lokasi keberadaan seseorang, karena penasaran Kenzo berdiri di sebelah Rafka.


" Daddy ini untuk apa?" tanya Kenzo.


"ini adalah alat seperti GPS namanya SUP (Signal Urgent Posisition), jika kamu menekan tombol alat ini maka dimana pun kamu berada Daddy akan mengetahuinya lewat aplikasi yang Daddy rancang sendiri di laptop dan hp Daddy." jelas Rafka.


"wih hebat, Kenzo minta satu boleh Daddy? ya buat jaga-jaga kalau misalkan Kenzo tersesat saat bermain kan bisa menggunakan alat ini " pinta Kenzo.


Rafka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" boleh dong , di simpan baik-baik ya." ucap Rafka menyodorkan alat itu.


Kenzo menganggukkan kepalanya, dia keluar dengan sedikit berlari. Rafka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu lucu tingkah Kenzo di matanya*.