Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 42



Brughh


"aww .. sakitnya.." ucapnya meringis menahan sakit.


Rafka meringis tatkala tubuhnya mendarat tidak nyaman saat Karin mendorongnya, untungnya Handuk yang di pakai Rafka masih aman di pinggangnya, kalau tidak, akan malu sekali bila pedangnya menampakkan diri.


"Daddy, kenapa Daddy duduk di atas lantai?" tanya Kenzi saat melihat Rafka terduduk di bawah.


"iya Daddy, kenapa duduk di lantai? apa gunanya sofa dan juga ranjang yang besar kalau Daddy tidak menggunakannya? aneh." sahut Kenzo


'bukannya bantuin Daddy nya bangun, malah nanya terus? gak liat nih Daddy nya lagi nahan sakit.' batin Rafka kesal.


Karin membantu Rafka untuk bangun, sedangkan Rafka memasang wajah bete nya pada Karin.


"tadi saat Bunda bangun, Daddy terpeleset karena lantainya licin gara-gara sisa air di tubuh Daddy yang jatuh ke lantai sayang." ucap Karin berbohong.


Rafka menatap Karin dengan tatapan ingin protes, tapi Karin memberikan kode kepada Rafka untuk menyetujui kebohongannya.


"iya sayang Daddy tadi gak sengaja jatuh, untung aja ada Bunda yang nolongin Daddy." timpal Rafka menyempurnakan kebohongan Karin.


"makanya Dad, hati-hati kalau habis mandi itu usahakan keringkan dulu di dalam kamar mandi, kalo sudah kering baru keluar. Daddy kan udah tua kalau Daddy jatuh lagi, takutnya nanti pinggang Daddy encok." tegur Kenzo.


"yang pasti apapun yang akan Daddy lakukan atau kerjakan aku titip pesan sama Daddy untuk inget umur Dad, nanti siapa yang akan menjaga kami yang unyu-unyu ini kalau Daddy sakit?" timpal Kenzi.


"iya-iya lain kali Daddy akan hati-hati, ya sudah kalian sama Bunda kalian dulu, Daddy mau pakai baju dulu." ucap Rafka bete dan langsung berlalu meninggalkan Karin dan si kembar.


Karin tak kuasa menahan tawanya, sampai akhirnya tawa itu meledak saat Rafka sudah berlalu dari hadapannya. si kembar melihat Karin tertawa hanya mengendorkan bahunya tanpa ingin bertanya apapun.


'lucu banget sih liat mas Rafka bete kayak gitu, hihihi. untung aja tadi gak ketahuan sama si kembar, kalau ketahuan bisa malu setengah mati itu, apalagi si kembar yang cerdasnya di atas rata-rata takutnya mereka meniru apa yang tadi dilakukan mas Rafka. lagian mas Rafka kenapa nyosor segala sih? aku juga gak bisa ngelawan tenaga mas Rafka lebih kuat dari aku, mulai sekarang aku harus hati-hati takutnya ada serangan mendadak lagi. huuhh ci*m*n pertama ku udah diambil mas Rafka.' Karin membatin.


"Bun, ayo kita ke bawah." ajak Kenzi


"oke sayang, kita pergi ke bawah." ucap Karin dengan memegang tangan si kembar di tangan kiri dan kanannya, menuntunnya sampai ke bawah.


sesampainya di bawah si kembar duduk diatas karpet bulu dan menghadap ke arah televisi yang besar. Karin ikut duduk menemani si kembar menonton film animasi yang selalu mereka tonton, meskipun si kembar itu anak genius bukan berarti mereka juga ikut menonton film dewasa seperti pemikirannya, mereka tetaplah anak kecil yang menyukai hal-hal yang memang untuk anak seusianya. Karin juga selalu mengawasi kegiatan si kembar, sebagai orang yang sudah tau akan kemampuan si kembar dia harus memastikan bahwa kegeniusan keduanya tidak di salah gunakan, sampai saat ini Karin merasa tenang karena si kembar tidak melakukan hal yang membuatnya khawatir.


saat sedang fokus melihat film animasi tentang seorang agen, tiba-tiba Kenzo berdiri.


"Kenzi Ayo berdiri, kau menjadi agen wanita dan aku yang menjadi agen pria, dan bunda jadi musuhnya, oke !!" ajak Kenzo pada adiknya.


"siap kakak." jawab Kenzi.


"assiapp."


Kenzo dan Kenzi sedang memeragakan film animasi yang mereka tonton, mereka berdua menjadi seorang agen Dan yang menjadi musuhnya adalah Karin. ketiganya bermain kejar-kejaran, suara tawa mereka sangat nyaring terdengar. Rafka yang sudah lengkap memakai pakaiannya turun ke bawah, terdengar jelas di telinganya ia mendengar suara tawa anak dan juga kekasihnya itu, setelah sampai di tangga terakhir ia melihat ke arah suara tawa di ruang keluarga, Rafka mengulas senyum sempurna melihat orang yang dia sayangi begitu riangnya saat bermain bersama tanpa memperdulikan orang lain yang melihatnya.