Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 43



sebuah mobil mewah berhenti di halaman depan hotel megah nan mewah dengan beberapa mobil yang ikut di belakangnya. di dalam mobil tersebut ada seorang pria yang tengah duduk di kursi penumpang, pria tampan rupawan, dingin, gagah dan juga kharismatik turun dari mobilnya. karpet merah terbentang menyambut kedatangannya, para pegawai hotel tersebut menundukkan kepalanya ketika pria itu berjalan melewati mereka, dengan gagahnya dia berjalan di tuntun oleh direktur hotel tersebut menuju tempat acara yang tengah di gelar untuknya.


"Mari Tuan, saya akan menunjukkan dimana tempatnya." ucap direktur hotel dengan menunduk hormat.


"Hmm." jawabnya singkat.


Sesampainya di tempat acara berlangsung, dia di sambut oleh orangtuanya. semua mata tertuju padanya, mereka bertanya-tanya siapa pria yang berdiri di


"Mommy, Daddy." sapanya.


"kemarilah sayang, semua orang sudah menunggumu." ajak sang mommy pada pria tersebut.


"Son, setelah Daddy berbicara baru kau maju ke depan." ucap Daddy nya.


"iya." jawabnya


sang Mommy menuntunnya menuju ke atas panggung, Sedangkan sang Daddy langsung maju ke tempat yang sudah di sediakan.


"mohon perhatian untuk semua para tamu undangan !! Terimakasih karena sudah menyempatkan waktunya untuk hadir ke acara ini, ada hal yang harus saya sampaikan di acara ini yang pastinya sebagian dari kalian sudah ada yang mengetahuinya. saya Richard Branson Malik selaku pimpinan di perusahaan Malik Tower. memutuskan untuk pensiun di umur saya yang sudah tidak muda lagi, saya akan menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan kepada putra sulung saya yang bernama Zain Edward Malik." ucap Richard.


Richard memberikan kode kepada anaknya untuk maju ke arahnya. Richard mundur memerintahkan anaknya untuk maju ke depan.


"Terima kasih atas waktunya. Saya Zain Edward Malik yang akan menjadi pemimpin baru di perusahaan ini meminta kerja samanya kepada hadirin semua. disini saya masih belajar, dengan bantuan dari hadirin sekalian saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperluas dan meningkatkan performa perusahaan ini. Terimakasih atas waktunya, sekian pidato yang saya sampaikan. di persilahkan hadirin sekalian menikmati jamuan yang sudah kami sediakan." ucap Zain.


Riuh tepuk tangan menggema di ruangan tersebut. Zain turun bersama kedua orangtuanya dari atas panggung, beberapa kolega bisnis menghampirinya untuk mengucapkan selamat kepada Zain, Zain menyambutnya dengan baik.


Semua yang hadir di acara tersebut sedang menikmati hidangan yang sudah di sediakan, Zain di tuntun oleh ibunya menuju meja VIP yang di sediakan khusus untuk keluarganya, sedangkan Richard izin pergi berkumpul dengan teman lamanya.


"sayang duduk dulu, Mommy akan perkenalkan kamu dengan anaknya teman Mommy." ucap Sarah selaku ibu dari Zain.


"sudah aku bilang berapa kali, aku tidak mau di jodohkan dengan wanita manapun." ucap Zain dingin.


"jangan menolaknya Zain, sampai kapan kau akan melajang terus? Mommy melakukan ini semua untuk kebaikan mu juga, Mommy ini sudah tua, sudah waktunya mommy untuk memiliki cucu." ucap Sarah.


Zain memutar bola matanya jengah, entah sudah berapa kali sang ibu menjodohkan dirinya dengan wanita pilihannya.


"hallo jeng Lita, apa kabar?" ucap Sarah cepika cepiki dengan temannya itu.


"kabar baik jeng, Sarah benarkah ini Zain?" tanya Lita.


"iya jeng." jawab Sarah tersenyum.


"Zain kenalkan ini anak Tante, Namanya Vivi." ucap Lita.


"perkenalkan namaku Vivi." ucap Vivi mengulurkan tangannya ke arah Zain.


"Hmm." jawab Zain tanpa menyambut uluran tangan dari Vivi.


Vivi memaksakan senyumnya serta menurunkan tangannya.


"Maaf ya nak Vivi, Zain memang begitu orangnya, mohon di maklumi ya." ucap Sarah meminta maaf pada Vivi.


"tidak apa-apa Tante." jawab Vivi tersenyum.


Zain sudah tau apa yang akan ibunya lakukan jika dia terus berdiam diri di samping ibunya, dia pergi meninggalkan Sarah, Zain mengajak asistennya pergi bersamanya. dia tidak pedi dengan Sarah yang berteriak meminta Zain kembali.


"Reyhan kau ikut aku." perintah Zain pada asistennya yang bernama Reyhan itu.


"Baik tuan."


Reyhan pergi mengikuti Zain dari belakang, Zain melangkahkan kakinya menuju kamar presidential suite room miliknya.


Sampai di kamarnya Zain langsung duduk di sofa, Sedangkan Reyhan berdiri di samping Zain.


"Reyhan sekarang perusahaan sudah jatuh ke tanganku, kau tau bukan apa yang harus kau lakukan." ucap Zain.


"iya tuan, saya akan melakukannya sesuai dengan rencana yang tuan perintahkan." jawab Reyhan.


'tunggu kedatanganku sweetie, tidak akan ada yang bisa menghalangiku sekarang." batin Zain.