
jantung Rafka mulai bertanya begitupun Karin yang terus meremas tangannya tegang, penghulu mengarahkan paman Karin untuk menjabat tangan Rafka.
"Saudara Rafka Adijaya bin William Adijaya, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Karin Dawinta binti Hendra Setiawan yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda dengan mas kawin uang satu milyar rupiah, satu unit apartemen dan satu mobil Pajero dibayar tunai.”
"Saya terima nikahnya Karin Dawinta binti Hendra Setiawan dengan mas kawin tersebut tunai."
"bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu.
"SAH"
"SAH"
"SAH"
Rafka menjawab dengan satu tarikan nafas, si kembar bertepuk tangan dan bersorak ria sedangkan Rafka menghela nafasnya dengan lega. memanjatkan doa untuk kedua mempelai, Karin mencium tangan Rafka sedangkan Rafka mencium kening Karin dengan lembut dan membacakan doa.
" siap bertempur?" bisik Rafka.
tubuh Karin langsung menegang mendengar bisikan Rafka, dengan susah payah ia menelan salivanya. Rafka tersenyum Jail dengan alis yang di naik turunkan membuat Karin mendengus kesal.
suasana haru begitu terasa saat prosesi sungkeman, Kiki menangis tersedu dia teringat kedua orangtuanya apalagi hari ini adalah hari bahagia bagi kakaknya, dia sangat tahu bagaimana perjuangan kakaknya untuk Bertahan hidup menyekolahkan dirinya banting tulang bekerja dari satu tempat ke tempat lain dan sekarang betapa Tuhan menyiapkan rencana hebat yang mana memberikan pendamping yang baik dari keluarga yang baik pula.
Karin sungkem kepada pamannya dengan deraian air mata.
"mang maafkan semua kedalam Karin yang di sengaja ataupun tidak di sengaja, terimakasih sudah hadir di acara penting Karin dan menjadi wali untuk Karin hikss .. terima kasih mang terimakasih." ucap Karin menangis.
"maafkan mamang yang jarang menemuimu nak, jangan berterima kasih pada mamang semua memang sudah kewajiban mamang sebagai walimu setelah ayahmu tiada, jadilah istri yang Sholehah jangan membantah ucapan suamimu, harus pergi dengan seizinnya, jangan pernah meninggikan suaramu padanya dan terimalah semua kekurangannya, jika kalian punya masalah jangan langsung pergi selesaikanlah dengan kepala dingin." nasehat paman Karin dengan mengusap wajah Karin yang basah dengan air mata.
Karin menganggukkan kepalanya, dengan mata yang masih basah dengan air mata dia menggeser tubuhnya ke hadapan bibinya meminta restu lalu pindah ke orangtua rafka. sedangkan Rafka dia mendengarkan nasihat dari pamannya Karin.
"nak aku percaya padamu kau bisa menjaga anakku dengan baik, jika dia salah tegurlah dia dengan cara yang lembut, jika kau sudah tidak bisa ataupun sudah tak sanggup hidup dengannya maka kembalikanlah dia padaku." pesan paman Karin.
Mama Ayu memeluk Karin dengan banjir air mata, dia mengusap punggung Karin dengan sayang.
"nak sekarang kau adalah anakku, anggaplah kami sebagai orangtuamu jangan pernah sungkan kami tidak pernah membeda-bedakan derajat orang lain, terima kasih kau telah bersedia menjadi istri Rafka dan menerima si kembar dengan tulus aku yakin kau adalah wanita yang shalihah, jangan berkecil hati karena sekarang kau tidak punya orang tua, lihatlah kami sekarang kami adalah orangtuamu yang menyayangi mu." ucap Mama Ayu.
papa William mengusap kepala Karin dengan sayang, tidak banyak yang dia katakan karena dia tak sanggup menahan rasa haru yang menyeruak di hatinya.