
"RAISA!!" pekiknya.
Raisa menoleh kearah suara yang memanggilnya, dia melepas pelukannya dari Reza. Raisa mengernyitkan dahinya mengingat siapa orang yang ada di hadapannya itu.
seorang wanita menghampiri Raisa dan juga Reza.
"kau siapa? apa aku mengenalmu?" tanya Raisa.
"aku ini mba Feni, tetangga di rumah ibu tirimu, masa kau lupa dengan mba?" tanya wanita yang bernama mba Feni itu.
Raisa akhirnya mengingat siapa wanita di hadapannya, dia adalah mba Feni tetangganya saat berada di rumah ibu tirinya. mungkin karena Feni sering dinas ke luar kota menjadi seorang perawat, jadi Raisa tidak ingat padanya.
Reza diam saja menyimak pembicaraan Feni dan Raisa tanpa ingin ikut campur.
"Raisa siapa pria di sampingmu, aku baru melihatnya?" tanya Feni melirik ke arah Reza.
"ohh, perkenalkan ini mas Reza." jawab Raisa.
"pacarmu?" tanyanya lagi.
"bukan pacar, lebih tepatnya calon suami." bukannya Raisa yang menjawab, Reza lah yang langsung menjawabnya.
Raisa langsung tersipu malu mendengar jawaban Reza pada Feni.
"mba bahagia mendengarnya Raisa, mohon maaf sebelumnya, tadi mba gak sengaja lihat kamu turun dari motor dan mba ngikutin kamu Sampai ke sini, ada yang harus mba beritahukan padamu Raisa." ucap Feni dengan wajah serius.
"ini tentang ayahmu Raisa, saat aku sudah selesai dengan pekerjaanku di luar kota, aku mendengar dari tetangga yang lain katanya pak Slamet murka karena kamu melarikan diri saat kau dan dia akan dinikahkan. ayahmu di suruh melunasi semua hutangnya dalam jangka satu bulan, jika tidak maka rumah yang kalian tinggali menjadi jaminannya, ayahmu sekarang sudah sering sakit-sakitan karena terus bekerja tanpa henti, kemarin aku melihat ayahmu di pukuli oleh anak buahnya pak Slamet sampai pingsan karena tidak bisa membayar hutang beserta bunganya, dan yang aku dengar hari ini rumah itu akan diambil alih oleh pak Slamet." jelas Feni.
Deg!!
Raisa mematung di tempatnya, selama dia tinggal bersama Karin dia tak pernah lagi bertemu dengan ayahnya. seketika rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya, Raisa memegang tangan Reza dan m*r*m*s tangannya dengan kuat, air matanya luruh tanpa bisa di tahan.
Reza sadar kalau Raisa sedang tidak baik-baik saja, di peluknya wanita yang baru saja jadi kekasihnya itu.
"Raisa kau tenangkan dirimu, kita akan pergi ke rumah temui ayahmu ya, kita selesaikan semua urusan sampai beres dan kalau perlu bawa ayahmu untuk tinggal bersama mu." ucap Reza dengan mengusap lembut punggung Raisa yang sedang menangis tersedu.
"ayah kak, hikks.. ayah sakit..hikss." ucap Raisa di sela tangisnya.
"iya aku tau sayang, tapi dengan kau menangis seperti ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah, kita akan menghadapinya bersama-sama !! kau percaya padaku bukan? serahkan semuanya padaku, aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini, aku hanya ingin kau bahagia tanpa ada air mata kesedihan." ucap Reza lembut, perlahan ia mengusap mata Raisa dengan tangannya.
Raisa mengangguk seraya tersenyum.
"mba Feni terima kasih atas informasinya, setelah ini kami akan pergi ke rumah Raisa dan jika anda berkenan bisakah anda menemani kami untuk ke sana?" ucap Reza pada mba Feni.
"sama-sama Tuan, saya sudah menganggap Raisa sebagai adik saya sendiri, ketika saya mengetahui kabar itu saya bingung harus mencari Raisa kemana, untungnya saya melihat anda dan Raisa tadi di jalan jadi saya mengikuti kalian karena ingin menyampaikan kabar ini padanya. kebetulan juga tadi saya ada keperluan yang harus di beli dan sekarang saya sudah mendapatkannya, jadi saya bisa menemani kalian untuk pergi ke rumah Raisa." ucap mba Feni.
setelah Raisa tenang, Reza mengajak Raisa untuk naik ke motornya diikuti mba Feni di belakangnya dengan motor matic yang di tumpangi nya.