
"sayang tolong ambilkan laptopku yang berada di laci bawah" ucap Rafka.
Karin langsung beranjak dari kasur dan melangkahkan kakinya ke laci yang di maksud Rafka, dia membuka laci bawah dan mengambil laptop berwarna hitam.
Karin menyodorkan laptop ke hadapan Rafka.
Rafka dengan gesit membuka laptopnya, dia langsung berselancar di aplikasi buatannya dan benar saja Kenzo memberikan sinyalnya pada Rafka. titik lokasi yang Kenzo berikan langsung di zoom oleh Rafka, sudah tau dimana titik lokasinya Rafka langsung turun dari tempat tidurnya dengan tergesa dia mengganti pakaiannya, mengambil kunci mobil serta membawa satu pistol untuk berjaga-jaga.
Karin terkejut melihat Rafka yang masih pucat turun dari ranjangnya dengan tergesa, Karin langsung menghampiri Rafka yang sudah lengkap dengan pakaian gantinya.
"mas kamu mau kemana? kondisi kamu masih belum pulih sepenuhnya?" cecar Karin.
"sayang aku sudah menemukan lokasi si kembar, tempatnya agak jauh dari mansion sekarang aku akan menyusulnya." ucap Rafka.
"apa yang kamu katakan itu benar mas? ayo, aku ikut denganmu."ucap Karin.
"jangan sayang, kau tetap disini di sana bahaya untukmu sayang." cegah Rafka.
"aku ingin ikut, kalau kamu gak ngizinin aku maka aku akan membatalkan pernikahan kita dan aku juga tidak akan pernah muncul lagi dihadapan mu." ancam Karin.
'aduh kenapa juga Karin mengancam ku seperti itu? dasar betina, selalu saja bisa mematahkan ucapan laki-laki. aku tidak ingin kamu terluka sayang, eerrgg disaat genting saja kamu bisa mengancam ku' batin Rafka.
"kau boleh ikut, dengan syarat kau tetap berada di belakangku." tegas Rafka.
Karin menganggukkan kepalanya. Rafka berlari menuruni tangga dengan memegang tangan Karin, di bawah tidak ada orang sama sekali karena Reza dan Raisa pergi ke apotek dan Lusi entah kemana perginya.
"sayang pakai seatbelt nya, dan pegangan yang erat." ucap Rafka dengan menyalakan mesinnya.
Karin menuruti kata-kata Rafka, sejurus kemudian Rafka menginjak pedal gasnya dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"mas jangan ngebut kayak gini dong." teriak Karin mencengkram seatbelt seraya memejamkan matanya.
Rafka mengurangi kecepatannya, dia melirik sekilas ke arah Karin yang ketakutan.
"tenanglah aku juga tidak akan membahayakan nyawa kita, kita kan belum menikah." ucap Rafka.
"iya itu kamu ngerti mas, kenapa harus ngebut banget? kita memang harus segera menyusul si kembar tapi kita juga tidak boleh membahayakan nyawa kita sendiri." gerutu Karin.
mereka tidak menyadari kalau Zidan mengikuti mobil yang di kemudikan oleh Rafka, saat hendak masuk ke dalam gerbang mansion Zidan menghentikan mobilnya karena ada telpon masuk. ketika sudah selesai dengan telponnya Zidan melihat Rafka keluar membawa mobilnya, Lusi berlari mengejar Karin.
Zidan memanggil Lusi untuk masuk ke dalam mobilnya, dengan kecepatan tinggi dia mengikuti kemana mobil Rafka pergi.
"Lusi mereka mau pergi kemana?" tanya Zidan.
"aku tidak tau, tadi selepas aku keluar dari kamar mandi aku melihat Karin dan tuan Rafka berlari menuruni tangga dengan buru-buru makanya aku mengejarnya karena penasaran bukannya tuan Rafka itu sedang sakit?" jelas Lusi.
"kita ikuti saja kemana mereka pergi, gue yakin ada sesuatu yang penting atau ada informasi mengenai si kembar." ucap Zidan.
Lusi menyetujui ucapan Zidan, dia juga memberitahukan Raisa kemana dia pergi Raisa dan Reza pasti mencari keberadaannya dan juga Karin.