
"kenapa berbicara gugup seperti itu?" tanya Zain dingin.
Reyhan memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Zain.
"maafkan saya tuan, saya memang sudah meretas perusahaan milik Adijaya, namun seseorang telah mengetahui apa yang saya lakukan, sehingga untuk saat ini sangat susah menembus keamanan data perusahaan tersebut." ucap Reyhan dengan hati-hati.
Zain menatap dingin ke arah Reyhan, namun anehnya Reyhan tidak melihat ada raut emosi ataupun marah karena dirinya tidak bisa meretas perusahaan Rafka. dia sangat mengenal majikannya itu, raut wajah dingin Zain menyiratkan ada sesuatu yang harus ia cari.
"untuk sekarang kau selamat, ada lebih penting lagi yang harus kau lakukan !!." ucap Zain dingin.
"selagi saya bisa apapun perintah Anda, saya akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin." ucap Reyhan.
"kita akan melakukan rencana selanjutnya untuk menghadapi Rafka, namun aku ingin kau selidiki lebih lanjut wanita ular itu."
Reyhan mengangguk mengerti dengan apa yang di maksud oleh Zain.
"baik tuan, sebelum saya keluar ada satu informasi mengenai nyonya Sarah."
Zain langsung menatap serius ke arah Reyhan, dia penasaran dengan informasi yang Reyhan dapatkan.
"cepat katakan!!" desak Zain.
"nyonya Sarah mempunyai simpanan seorang pria yang berprofesi sebagai aktor, dia sering menghabiskan waktu dengan pria tersebut bahkan mereka melakukan hubungan s*** setiap kali mereka bertemu, pria itu juga sekarang mendekati nona Cristin tuan." terang Reyhan.
BRAKK ..
Zain memukul mejanya dengan keras, sampai tumpukan berkas yang berada di atas meja tersebut bergoyang dan sebagian jatuh.
"APA? siapa pria itu?!! beraninya dia mendekati wanitaku!!" pekik Zain.
Reyhan memejamkan matanya. dia merilekskan jantungnya agar lebih tenang, walaupun tubuhnya bergetar karena kaget saat Zain menggebrak meja.
"saya sedang menyelidiki pria itu tuan, setelah informasinya lengkap saya akan melaporkan semuanya."
"kau selidiki dia, singkirkan pria itu dari wanitaku!! tidak boleh ada yang mendekatinya kecuali aku."
"baik tuan,"
Reyhan keluar dari ruangan Zain, sedangkan Zain mengepalkan tangannya rahangnya mengeras beserta wajahnya yang memerah.
"Cristin hanya milikku!! milikku seorang!! tidka boleh ada yang berani mendekatinya kecuali aku, siapapun yang berani mendekati bahkan menyentuhnya maka aku akan melenyapkannya." gumam Zain dengan amarah yang berapi-api.
***
tok ... tok.. tok ..
"masuk" sahut Rafka dari dalam.
Zidan masuk bersama Reza.
Rafka bingung kenapa Zidan dan Reza masuk bareng, biasanya kedua bocah itu selalu bergantian jika masuk ke ruangan Rafka.
"ada apa?" tanya Rafka.
"kak apa kau sibuk?" tanya balik Reza.
"apa kau buta? lihat semua tumpukan berkas ini, apa aku terlihat bersenang-senang dengan semua pekerjaan ini." ucap Rafka kesal.
Reza menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Zidan memutar bola matanya jengah.
"kak ada yang mau gue bicarain sama Lo." ucap Zidan.
"apa? cepat katakan pekerjaanku masih banyak." sewot Rafka.
"haissh, simpan dulu pekerjaanmu kak ada hal serius yang harus kita bahas." sahut Zidan.
Rafka menyimpan berkasnya serta melepas kacamata yang sejak tadi di pakainya.
"kak apa kau merasa ada yang aneh tidak dengan pekerjaanmu?" tanya Reza.
"tidak ada." jawab Rafka heran mengapa adiknya bertanya seperti itu.
"emang Lo gak ngerasa kalo pekerjaan Lo itu seperti di permudah, asal Lo tau kita sebenarnya gak bantu banyak tapi pekerjaan Lo bisa beres dengan cepat." ucap Zidan.
Rafka mulai memikirkan ucapan Zidan. dia membuka laptopnya, dia terkejut saat membuka beberapa email pekerjaan nampak berkurang.
'iya juga yah, pekerjaanku memang sangat banyak tapi seakan pekerjaanku menyurut di dalam laptopku. kalau dalam bentuk berkas jelas hari ini juga masih menumpuk, tapi jika dalam bentuk digital semuanya nyaris beres' batin Rafka.
"kalau bukan kalian yang mengerjakan, terus siapa dong? kan Fajar dan juga Desi papa tugaskan ke luar kota? mana mungkin mereka sempat mengurusi pekerjaanku." tanya Rafka bingung.
"kalau gue tau, gue gak bakal nanya sam Lo dodol." ucap Zidan sewot
"apa mungkin papa?" tebak Reza.
"gak mungkinlah," sahut Rafka.