Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 51



Waktu Subuh sudah tiba. Raisa membangunkan Karin untuk sholat berjamaah bersama Kiki dan juga Surya, Karin seakan malas membuka matanya, dia masih mengantuk karena dia baru saja bisa tidur beberapa jam yang lalu. namun Karin tetap memaksakan bangun untuk menyelesaikan ibadah subuhnya.


Selang beberapa menit, sholat berjamaah telah selesai di laksanakan. Karin kembali membaringkan tubuhnya yang masih memakai mukena, sedangkan Raisa pergi ke dapur memasak untuk sarapan semua orang yang berada di rumah.


Pukul 6 pagi Raisa sudah siap dengan seragam kerjanya. Karin masih menutup matanya, Raisa membangunkan Karin agar segera bersiap untuk pergi bekerja takutnya mereka terlambat.


"Rin, bangun Dong, kamu gak mau berangkat kerja?" tanya Raisa sambil menggoyangkan badan Karin dengan pelan.


"kerja sa, nanti t menit lagi." jawab Karin dengan masih menutup matanya.


"kalo mau kerja cepetan, sekarang udah jam 6 kita kan gak punya kendaraan cuma bisa jalan kaki, nanti kesiangan masuknya."


Dengan mata yang masih mengantuk, Karin pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. setelah selesai dengan ritual mandinya, Karin ikut bergabung sarapan berama yang lainnya.


setelah selesai dengan sarapannya, Kiki berbicara mengenai biaya sekolahnya.


"teh, Kiki sebentar lagi mulai ujian, ini ada surat biaya sekolah Kiki menjelang ujian nanti teh." Kiki menyodorkan surat yang di berikan oleh pihak sekolah.


Karin membuka surat itu, dia juga sudah melihat berapa jumlah yang harus di keluarkan untuk biaya ujian Kiki. Karin beranjak dari duduknya, dia pergi ke kamar menuju lemari yang bias Adia gunakan untuk menyimpan uangnya.


"Kiki, sekarang juga kamu bayarkan semuanya ya, biar teteh tenang kalo semuanya udah lunas mah." ucap Karin menyodorkan beberapa lembar uang merah pada adiknya.


Kiki mengambilnya dan memasukkan uang dari kakaknya ke dalam tas miliknya. Karin dan Raisa pamit untuk pergi bekerja, mereka pergi bekerja dengan berjalan kaki karena belum mampu membeli kendaraan.


setelah 30 menit menempuh perjalanan. Raisa dan Karin akhirnya sampai di cafe milik Lusiana, mereka di sambut oleh Lusi yang sedang memeriksa laporan di meja pelanggan.


"hey BESTie, Kalian baru sampai? tumben agak siang?" tanya Lusi.


Karin diam saja menanggapi pertanyaan yang Lusi lontarkan, wajahnya nampak murung, ada lingkaran hitam juga di bawah kelopak matanya.


"Rin, kamu kenapa?" tanya Lusi.


"gak papa kok" jawab Karin lesu.


"Raisa Lo gak mau cerita sama gue?" tanya Lusi memicingkan matanya pada Raisa.


"Karin lagi ada masalah sama pak Rafka, makanya dia murung kayak gitu." ucap Raisa terbuka pada Lusi.


"coba cerita yang detail dong." ucap Lusi kepo.


Raisa menceritakan masalah Karin dan juga Rafka pada lusi. Lusi manggut-manggut mendengarkan cerita Raisa, dia juga mengerti bagaimana posisi Karin saat ini.


"si kembar bakalan ke sini gak ya?" gumam Karin.


"kita tunggu aja Rin, siapa tau si kembar datang." ucap Raisa.


"Rin, Lo harus sabar ngadepin tuh Duda, dia dulu itu di jodohkan sama Mamanya kalo gak salah, kata Bang fajar tuan Rafka gak pernah Deket sama wanita lain dia itu tipikal pria yang setia. jadi, wajar aja kalo dia posesif sama kamu Rin, kata abang ku nih ya, cowok kalo udah jatuh cinta suka agak berlebihan apalagi orangnya kayak tuan Rafka yang terkesan bucin sama kamu pastilah dia posesif, dia juga pernah gagal dalam membina rumah tangga, dia pasti takut jika orang yang dia cintai kembali pergi meninggalkan dia lagi. kalimat yang kamu tujukan membuat tuan Rafka berfikir kamu akan pergi darinya, makanya dia marah, kalo aku ada di posisi tuan Rafka pun akan melakukan hal yang sama."


"Raisa juga bilang kayak gitu, aku juga udah minta maaf sama mas Rafka, tapi mas Rafka gak bales permintaan maaf ku. di WhatsApp juga cuman di read doang, di telpon juga gak di angkat, aku harus gimana lagi biar Duda anak dua itu gak marah lagi."


Karin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. dia bingung harus bagaimana? jika dia pergi ke rumah Rafka, dia takut Rafka tidak akan memaafkannya dan malah mengusirnya. dia begitu ingat bagaimana marahnya Rafka saat perdebatan itu berlangsung, begitulah Karin belum apa-apa pikiran negatif sudah memenuhi otaknya.


'Astagfirullah' batinnya.