
Belum selesai dengan kebakaran yang menimbulkan banyak korban, Rafka mendapat kabar yang sangat mengejutkan dari supirnya pak Dani yang dia tugaskan untuk menjemput si kembar di sekolahnya.
Aaarrgghhhh ..
Rafka berteriak histeris, bagaimana tidak. si kembar adalah harta yang tidak tergantikan, dia tidak bisa berfikir jernih Zidan yang sedang berusaha menenangkan Rafka kewalahan karena Rafka berontak jika sudah menyangkut anaknya semua kecerdasan, ketegasan hilang seketika kala mendengar si kembar hilang, dia rela menahan semua penderitaannya hanya demi anaknya bahagia dan tumbuh seperti anak lainnya meskipun tanpa ibu di samping mereka. bahkan dia banting tulang mengembalikan perusahaannya agar kembali jaya, setiap harinya dia mengurus si kembar sendiri sesekali dia di bantu oleh Mama ayu dan pelayan.
"kak loe harus tenang, kita semua akan mencari Kenzo dan Kenzi kau kerahkan semua anak buah loe atau anak buah Papa Will, loe gak bisa seperti ini dengan loe yang hanya bisa berteriak gak bakal bikin anak loe langsung balik." ucap Zidan.
"Kenzo, Kenzi kalian kemana nak? hikss..." ucap Rafka menangis.
"ayo sekarang kita pergi dari sini, gue akan memanggil Reza kita pergi bareng nyari si kembar." ajak Zidan.
Rafka mengusap air matanya dengan kasar, dia bangkit di bantu oleh Zidan.
"Zidan kau hubungi Reza dan juga Papa Will, bilang padanya aku butuh bantuannya sekarang juga karena aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan dalang di balik kebakaran ini, aku akan menghubungi temanku yang ahli dalam meretas dan aku juga akan menghubungi beberapa polisi kenalanku." titah Rafka.
Zidan menganggukkan kepalanya, dia langsung membuka ponselnya menghubungi Reza terlebih dahulu setelahnya dia menghubungi Papa William.
Rafka melakukan hal serupa dengan Zidan, dia membuka hp nya menghubungi beberapa teman yang bisa membantunya, beruntung Rafka memiliki banyak koneksi jadi bisa mempermudah dalam pencariannya.
"Reza sedang menuju ke sini, Papa Will akan segera datang ke rumah mu, dia bilang kita akan berkumpul disana sebelum mencari keberadaan si kembar, kita tidak boleh gegabah semua harus tersusun dengan sebuah rencana jangan sampai pergerakan kita terbaca oleh para pelaku." lapor Zidan.
"baiklah sebentar lagi kita pulang setelah Reza datang, aku juga sudah menghubungi teman dan beberapa koneksi yang bisa mempermudah pencarian kita." ucap Rafka.
"kakak bagaimana bisa si kembar di culik? bukannya di sekolah itu sangat ketat penjagaannya?" cecar Reza dengan nafas terengah.
"sama halnya dengan peristiwa kebakaran ini, semuanya sudah di persiapkan dengan matang, aku yakin dalang dari semua masalah ini adalah orang yang sama." ucap Rafka dingin.
"astaga, satu masalah belum beres di tambah lagi masalah baru." keluh Reza.
"jangan mengeluh, loe malah memperkeruh suasana dengan bilang seperti itu apa loe gak liat kakak loe sedang tidak baik-baik saja?" tegur Zidan.
"maafkan ucapanku kak." ucap Reza meminta maaf pada Rafka.
Rafka menganggukan kepalanya, tiba-tiba kepala Rafka pusing dia lupa kalau saat sarapan dia hanya memakan dua potong roti tawar, tadinya Rafka berniat melanjutkan sarapannya di kantor sambil mengerjakan beberapa berkas pentingnya namun siapa sangka masalah besar sedang menanti dirinya membuat kondisi tubuhnya melemah.
Reza dan Zidan melihat Rafka yang sedang memegangi kepalanya khawatir, wajah Rafka mulai memucat tubuhnya mulai lemas dan akhirnya tubuh Rafka mulai limbung, jika Zidan dan Reza tidak langsung menangkapnya tubuh Rafka akan jatuh ke atas lantai yang masih kotor tergenang air.
Bruukk...
"kak woyy sadar kak, Loe kenapa bisa pingsan gini sih?" ucap Zidan menepuk-nepuk pipi Rafka.
"Zidan kita gotong kak Rafka ke dalam mobil, sepertinya kesehatannya sedang menurun apalagi akhir-akhir ini pekerjaan dia banyak, di tambah lagi kebakaran dan juga si kembar hilang dia pasti tertekan, ayo kita harus segera bawa kak Rafka pulang nanti aku akan menghubungi Brian untuk memeriksa kakak." ucap Reza.