Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 122



Rafka membersihkan tubuhnya melaksanakan sholat dan juga mengisi perutnya, selesai dengan aktifitasnya Rafka berkeliling mencari si kembar namun tak menemukannya.


"apa mereka ke rumah Mama ya?" tanya Rafka pada diri sendiri.


Rafka mengeluarkan ponselnya menghubungi Mama Ayu berniat menanyakan anaknya.


Tuut.. tuut..


"Hallo assalamualaikum."


"wa'alaiumsalam. ma si kembar lagi sama mama gak?" tanya Rafka.


"Enggak, mama lagi jenguk temen mama si kembar lagi di rumah Karin."


"oh ya udah, makasih yah ma. assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam."


sambungan telpon di matikan sepihak oleh Rafka, ia bergegas menyambar kunci mobil dengan sedikit berlari langsung melajukan mobilnya.


Karin dan si kembar memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke taman, Karin menuruti kemauan Kenzo dan Kenzi selagi ia mampu. saat sedang berjalan menyusuri taman seorang anak kecil memanggilnya dari arah belakang, Karin mencari arah suara yang memanggilnya dan betapa senang ia melihat Bagas berada di taman yang sama si temani pengasuhnya.


"kak Karin." panggil Bagas.


"Bagas, sini nak." sahut Karin.


Kenzo dan Kenzi mengernyitkan dahinya kala Bagas memanggil Karin, begitupun Karin yang terlihat seperti akrab bersama anak laki-laki yang terlihat berada di atas usia mereka.


"siapa dia bunda, Kenzi belum pernah melihatnya?" tanya Kenzi.


"anak-anak, ini namanya Bagas." ucap Karin memperkenalkan Bagas pada si kembar.


"hai, salam kenal." ucap Bagas.


"salam kenal juga, kau bisa bermain sepak bola?" tanya Kenzo.


"bisa, tapi tidak terlalu menguasai." jawab Bagas.


"Bunda aku mau main sepak bola sama Bagas boleh?" izin Kenzo.


"boleh dong, tapi hati-hati ya kalau ada apa-apa panggil Bunda." ucap Karin.


Kenzo menganggukkan kepalanya, Bagas juga meminta izin pada pengasuhnya Bu Aisyah untuk ikut bersama Kenzo bermain sepak bola sedangkan Kenzi bermain masak-masakan bersama salah satu anak perempuan yang menjadi teman barunya saat ini.


Rafka sudah sampai di rumah Karin namun saat hendak mengetik pintu Surya sudah lebih dulu membukanya.


"assalamualaikum Bapak." ucap Rafka menyalami tangan Surya.


"wa'alaikumsalam." jawab Surya.


"Karin nya ada pak?" tanya Rafka.


"tidak ada, dia sedang pergi keluar sama si kembar." ucap Surya tanpa ekspresi.


"kalau boleh tau pergi kemana ya pak?"


"ke taman, kalau kamu ingin menyusul Karin bapak minta kamu jangan menyakitinya lagi sejujurnya bapak kecewa sama kamu Rafka." jawab Surya.


Rafka mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Surya, sejak kapan dia menyakiti Karin seingat Rafka dia tidak pernah bertengkar bahkan hubungannya dengan Karin biasa saja, tapi untuk akhir-akhir ini dia di sibukkan dengan beberapa pekerjaan dan juga menyelidiki kasusnya Florensia.


"maksud bapak apa? perasaan saya tidak pernah menyakiti Karin? bahkan kami jarang bertemu karena saya sibuk akhir-akhir ini." tanya Rafka bertubi.


"jangan pura-pura tidak tahu, Karin sudah saya anggap sebagai anak kandung saya sendiri jadi jangan pernah menyakiti perasaannya dan jangan pernah menggantung suatu hubungan jika masa lalu mu belum berakhir." ucap Surya.


Rafka semakin bertambah bingung dengan apa yang Surya bicarakan, baginya Karin tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu dan siapa yang menggantung hubungannya dengan Karin pikirnya.


"sudahlah, lebih baik kau bicarakan semuanya dengan Karin jika kamu tidak serius dengannya maka lepaskanlah tapi kalau sebaliknya lebih baik kau yakinkan kembali hati Karin sebelum dia terlanjur pergi." ucap Surya.


"baiklah aku akan membicarakan semuanya dengan karin, sepertinya ada kesalahpahaman aku harus segera meluruskannya." ucap Rafka.


"Karin sedang di taman tak jauh dari rumah."ucap Surya.