Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 105



Karin menelpon Raisa saat dia sudah berada di taman rumah sakit dimana disana banyak anak-anak yang bermain. Karin duduk di salah satu bangku taman, dia menatap lurus ke arah air mancur di tengah-tengah taman.


'jika semua kemungkinan itu terjadi maka aku harus belajar ikhlas dari mulai sekarang meskipun berat rasanya, tapi walau bagaimanapun keikhlasan ku bisa membuat orang lain bahagia maka aku akan bersedia karena aku yakin Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk umatnya. Entah cobaan apa yang sedang menantiku di masa depan nanti.' batin Karin.


"kakak kau sedang melamun?" ucap seorang anak kecil.


lamunan Karin langsung Buyar mendengar suara anak kecil yang berbicara kepadanya. Karin melihat seorang anak kecil bertubuh tinggi, putih dan tampan mengahmpirinya.


"kau bertanya padaku nak?" tanya Karin.


anak kecil itu mengangguk.


"kakak tidak melamun kok, kakak sedang menunggu teman kakak sambil melihat air mancur." ucap karin.


"kakak jangan berbohong padaku, aku bisa melihat dari pancaran wajahmu kalau kau sedang bersedih dan memikirkan sesuatu." ucap anak kecil tersebut.


Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan cengengesan Karin menganggukan kepalanya.


"sedang apa kau disini apa kau atau keluargamu ada yang sakit?" tanya Karin.


"aku sedang menunggu pengasuhku yang sedang berobat, aku sudah biasa menunggunya disini."


"lalu dimana orang tuamu?"


"pengasuhku bilang orang tuaku sedang bekerja, sejak bayi aku di urus oleh Bu Aisyah saat aku menanyakan orangtuaku dia hanya hanya diam, katanya ada sesuatu yang tidak bisa aku ketahui untuk saat ini dan aku hanya tinggal bertiga dengan pengasuhku dan sopir yang biasa mengantarku kemanapun aku pergi, aku berharap bisa bertemu dengan kedua orang tuaku karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua lengkap seperti temanku yang lainnya."


"kalau boleh tau siapa namamu? dan berapa usiamu?"


"namaku Bagas, umurku 7 tahun."


"Bagas kau jangan bersedih ya walau bagaimanapun kau masih beruntung setidaknya orangtuamu masih ada, sedangkan kakak hanya bisa bertemu dengan orangtua Kakak lewat foto saja dan lewat doa karena mereka sudah tenang di alam sana, meskipun orang tuamu tidak pernah menemui mu aku yakin ada alasan kuat di balik semuanya."


Bagas menganggukan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca, Karin memeluk Bagas membuat anak kecil itu menangis.


"hiks.. aku hanya ingin bertemu dengan kedua orangtuaku kak, setiap malam aku berdoa mereka datang menemui ku hiks.. mereka jahat kak." tangis Bagas pecah di pelukan Karin.


Karin menangkup wajah Bagas dan menghapus air matanya dengan kedua tangan Karin. merasa ada yang aneh saat melihat wajah Bagas dengan seksama, sekilas wajahnya mirip dengan si kembar tapi Karin langsung menepis semua tebakannya.


"tidak ada orangtua yang jahat, jika mereka jahat tidak mungkin pengasuhmu bilang belum saatnya kau bertemu dengan mereka, kakak yakin mereka itu sayang padamu makanya mereka melakukan semua itu, kakak minta padamu jangan menangis lagi seorang pria pantang mengeluarkan air matanya di depan orang lain karena seorang laki-laki itu gak boleh cengeng walau bagaimanapun kau akan menjadi seorang pemimpin di masa depan."


"kakak apa yang harus aku lakukan jika mereka datang menemui ku, bohong jika aku tak membenci mereka."


"jangan tanamkan kebencian di dalam hatimu, tanamkan sebuah keikhlasan jika mereka datang sambutlah mereka dengan baik, kau anak yang baik dan pintar terimalah mereka dengan tangan terbuka."


Bagas menimang-nimang ucapan Karin sampai ia menganggukan kepalanya.


"baiklah kakak, apa boleh kita berteman?"


Bagas tersenyum ke arah Karin. untuk pertama kalinya Bagas merasa nyaman saat bertemu dengan orang lain, Bagas tipikal anak yang mudah bergaul dan ceria tapi di balik keceriaannya ada luka, tumpukan rindu, dan juga harapan.


"Karin" panggil Raisa dengan melambaikan tangannya.


Karin mencari arah suara dan menemukan Raisa yang berdiri di ujung taman, Karin memberi kode pada Raisa untuk mendekat ke arahnya.


"Karin aku cariin juga, kenapa kamu pergi gitu aja tadi Mama Ayu juga nyariin kamu loh." ucap Raisa.


"maaf, nanti aku ceritain di rumah." jawab Karin.


Raisa melihat anak kecil di samping Karin, dia mencubit pipi Bagas karena gemas menurutnya.


"Rin ini anak siapa kok gemes banget sih, mana ganteng lagi." ucap Raisa menguyel-uyel pipi Bagas.


"aaaa.. kakak tolongin Bagas dari Tante ini, pipi Bagas sakit." rengek Bagas.


Karin menarik tangan Raisa dari pipi Bagas, dia mengusap pipi Bagas yang sudah memerah akibat ulah Raisa.


"ish Raisa kamu ini apa-apaan sih, lihat nih pipi Bagas jadi merah gara-gara kamu." omel Karin.


Bagas memeluk pinggang Karin dengan erat, tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri Bagas dan karin.


"Aden itu siapa? ibu udah selesai check up nya kita pulang yuk nak." ucap Bu Aisyah pengasuh Bagas.


"ini kakak Karin ibu, temen barunya Bagas." jawab Bagas.


"perkenalkan nama saya Karin, tadi tidak sengaja bertemu dengan Bagas disini jadi kita mengobrol sebentar sambil menunggu teman saya datang, sekalian nemenin Bagas nunggu ibu check up." ucap Karin mengulurkan tangannya ke arah Bu Aisyah.


"nama saya Aisyah pengasuh den Bagas, mohon maaf bila den Bagas merepotkan nak Karin kalau begitu saya dan Aden pamit pulang dulu udah hampir sore, terimakasih sudah menemani den Bagas ya nak." ucap Bu Aisyah dengan ramah.


Karin menganggukkan kepalanya, Bu Aisyah menggandeng tangan Bagas dan berpamitan pada Karin dan juga Raisa.


"bye kakak, bye Tante galak." ucap Bagas.


"sembarangan tu anak ngatain Tante galak" omel Raisa tidak terima.


"bye Bagas, sampai ketemu lagi." ucap Karin melambaikan tangannya saat Bagas masuk kedalam mobil.


"udah gapapa kali emang udah Tante-tante kok." ledek Karin.


"ngeledek nih yah, udah ahh ayo kita pulang nanti bapak nyariin lagi." ajak Raisa.


Karin dan Raisa pergi dari taman tersebut, mereka naik angkot untuk sampai ke rumahnya.