
"Permisi apa acaranya sudah di mulai?"
semua orang menoleh ke arah Karin yang tengah tersenyum diikuti Kiki juga Raisa, dia datang dengan balutan dress selutut berwarna merah serta rambut yang tergerai indah membuat siapapun yang melihatnya di pastikan akan terpesona.
Rafka menatap Karin dengan mata tak berkedip, dia tersenyum puas saat Karin sudah datang.
si kembar yang melihat Karin memekik senang, mereka langsung menghampiri Karin dan memeluk tubuh Karin.
"Aunty" pekik si kembar.
"selamat ulang tahun sayangnya aunty." ucap Karin seraya merentangkan kedua tangannya pada si kembar.
"aku kira aunty tidak akan datang" ucap Kenzo
"iya aunty, aku sedih jika tidak ada aunty" ucap Kenzi sendu.
"buktinya aunty ada disini, aunty pasti datang sayang, apalagi ini hari yang istimewa untuk kalian berdua." ucap Karin tersenyum membelai kedua pipi si kembar.
Kiki dan Raisa menghampiri si kembar mengucapkan doa, tak lupa mereka juga memberikan kadonya.
Karin bernyanyi bersama si kembar, kedua anak kecil itu sangat bahagia karena Karin datang ke acara ulang tahunnya, saat ini semua orang sedang menikmati acara ulang tahun si kembar, dari mulai bernyanyi, tiup lilin, memotong kue dan sampai pada akhirnya mereka makan malam bersama.
Acara ulang tahun si kembar sudah selesai, Karin meminta izin untuk pergi ke kamar mandi, dia di arahkan ke kamar mandi ruang tamu , saat selesai dari kamar mandi dia melihat Rafka yang tengah menyenderkan tubuhnya di pintu taman belakang, karena arah kamar mandi tamu kebetulan melewati pintu taman belakang, Karin menghampiri Rafka memang sejak tadi sebelum acara selesai dia menghilang entah kemana.
"tuan sedang apa disini? kenapa tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Karin.
"tidak, aku sedang ingin sendiri saja, terimakasih karena telah datang dan membuat si kembar bahagia" ucap Rafka dengan menegakkan tubuhnya.
"sama-sama Tuan, saya bahagia jika si kembar juga bahagia, maaf jika saya lancang, jika boleh saya bertanya, kemana ibu si kembar saya tidak melihatnya?" Ucap Karin.
Rafka yang mendapat pertanyaan Karin, dia menghela nafas panjang sebelum menjawabnya.
'ya Allah kenapa dia tega sekali, kasian sekali kalian sayang' batin Karin
"yang sabar tuan, ada hikmah di balik setiap ujian, saya yakin tuan adalah pria yang kuat, demi si kembar anda rela mengorbankan segalanya."
Karin menatap iba pada Rafka, bisa di bayangkan bagaimana hancurnya ia saat itu.
"ya kau memang benar, aku yang dulu terpuruk akhirnya bangkit seluruh tenaga aku keluarkan, lambat laun perusahaan ku naik sampai detik ini menempati posisi paling atas, namun apa gunanya semua itu? anakku tetap merasakan kekosongan meskipun aku selalu berusaha membahagiakan mereka dengan memberikan apa yang mereka mau, kecuali seorang ibu." ucap Rafka sendu.
Karin diam saja menyimak apa yang Rafka ceritakan, sedangkan Rafka melihat jam tangannya melihat waktu semakin larut, dia lantas mengakhiri cerita masa lalunya.
"Karin maaf, sepertinya karena aku banyak bicara sampai tidak melihat waktu yang semakin larut" Ucap Rafka.
" iya tuan, sepertinya Raisa juga Kiki pasti menunggu saya" jawan Karin.
"iya silahkan, biar aku yang antar kalian pulang" ucap Rafka memberi tawaran.
"tidak usah tuan, kami sudah memesan taksi tadi" tolak Karin.
sebelum Karin meninggalkan tempat dimana Rafka berada, dia menyentuh lengan Rafka.
"tuan aku yakin kau adalah orang baik, aku tau kau terluka akan sikap mantan istrimu, aku hanya ingin mengatakan sebesar apapun kesalahan mantan istrimu kau jangan membencinya, bukakanlah pintu maaf untuknya bagaimanapun dia adalah ibu dari anakmu, jika kau tidak memaafkannya maka anakmu juga tidak akan memaafkannya terlepas dari apa yang telah dia perbuat terhadap kalian, maka dari itu kau harus mengikhlaskan semua yang telah terjadi agar kau tenang tidak terbayang akan rasa sakit yang selama ini kau pendam, anakmu juga harus bisa ikhlas sepertimu agar kelak mereka tidak memiliki penyakit hati yang namanya DENDAM." Ucap Karin tersenyum dengan menekan kata yang berada di akhir kalimatnya.
Rafka tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia memegang tangan Karin yang berada di sebelah kiri tangannya.
Karin merasakan getaran yang tidak dia ketahui saat Rafka menyentuh tangannya, begitupun sebaliknya.
wiuwiitt ..
"wow deliciosso, Mama Mia lezatos, ya ampun manis banget deh yang mojok di belakang, jadi ngiri deh" Ucap seseorang yang mulai mendekat ke arah Rafka dan Karin.