
Papa William menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya perlahan.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu Rafka?" tanya papa william serius.
"kenapa papa bertanya seperti itu? tentu aku serius, bukannya kalian juga tahu aku sudah membuat kesepakatan dengan Karin, selama ini juga hubungan kami sangat baik." terang Rafka.
"apa kau yakin dengan kesepakatan yang kalian buat itu Karin akan menerimamu? apa pernah Karin mengucapkan kata cinta kepadamu?"
Rafka tidak menjawab pertanyaan papa William, jika di pikir-pikir memang benar adanya bahwa Karin tidak pernah bilang cinta padanya, hanya Rafka yang selalu mengutarakan rasa cinta dan sayangnya pada Karin.
"kenapa diam?"
"papa benar, Karin tidak pernah menyatakan bahwa dia mencintaiku, tapi aku hanya melihat perlakuannya padaku dan juga si kembar itu tulus, makanya dari itu aku ingin melamarnya. sebenarnya, sekarang aku sedang ada sedikit masalah dengan Karin pa."
"coba kau ceritakan pada papa?!!"
papa William menyilangkan kakinya, tangannya bersidekap, dia menatap anak sulungnya dengan tatapan serius. Rafka menceritakan perdebatannya dengan Karin tempo hari, papa William hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"kak, gadis seumuran Karin masih sangat labil dan mungkin juga Mba Karin sedang menikmati masa mudanya tanpa harus di kekang seperti itu, mba Karin juga berbeda dari gadis lainnya , dia memiliki pemikiran dewasa dan aku rasa wajar kalau dia marah padamu kak, pantas saja Raisa bilang padaku kalau mba Karin sedang menangis semalam, Raisa meneleponku dan bilang dia marah padamu karena kau posesif, kau salah paham padanya waktu itu kak, maksud mba Karin ingin bebas itu tujuannya adalah karena dia sedang menjalin hubungan denganmu yang notabenenya adalah seorang Duda yang sudah memiliki anak, dan jika dia nanti menikah denganmu dia tidak akan memiliki kebebasan seperti saat ini, kelak dia hanya ingin fokus mengurus keluarganya. karena itu mba Karin ingin bebas menikmati masa lajangnya sebelum dia menjadi seorang ibu dan seorang istri kelak." terang Reza.
Reza memang sering melakukan panggilan via video call ataupun chat saat bertukar kabar dengan Raisa, kebetulan saat itu Raisa tidak mengangkat telponnya. saat Raisa menelpon balik pada Reza, Raisa menceritakan alasannya tidak menjawab telpon dari Reza, dia sedang menemani Karin yang sedang bersedih, Raisa juga menjelaskan kepada Reza mengapa Karin bisa bersedih.
"iya aku akui aku salah Za, maka dari itu aku ingin memberikan sebuah kejutan dan juga melamar Karin sekalian meminta maaf padanya ." ucap Rafka.
"Rafka, jika ada masalah selesaikanlah semuanya dengan kepala dingin, jangan mengedepankan emosi, dengan begitu kamu bisa menyelesaikan masalah dengan baik, jika kamu langsung emosi bukannya mendapat jalan keluar dari sebuah masalah, kau malah akan mendapat lebih banyak lagi masalah. mengerti?!!" ucap papa William.
Rafka menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"kau jangan hubungi Karin atau menemuinya untuk beberapa hari !!" tegas papa William.
"kenapa pa? aku udah kangen banget sama Karin pa, anak-anak pasti kangen juga sama Karin pa." protes Rafka tidak terima.
"kalau kamu mau ngelamar Karin, kamu harus yakinkan semuanya. bukannya papa meragukan sikap Karin, kita harus memastikan apakah perasaan Karin tulus padamu dan juga anak-anak mu atau hanya karena nyaman saja, bukannya kalian sering menghabiskan waktu bersama? nyaman dan cinta memiliki arti yang berbeda nak, nyaman bisa bersama siapa saja, bisa dengan teman, kerabat atau yang lainnya. sedangkan cinta adalah rasa yang lebih dari kata nyaman, cinta itu rasa sayang, rasa ingin memiliki, dan memiliki tempat perlabuhan di hati yang hanya tertulis satu nama saja."