
Glubrakk...
kaki Rafka langsung lemas mendengar kepolosan istri dan anaknya, ingin sekali dia berteriak memberitahukan kalau itu bukanlah penyakit tapi hasil karya seninya.
' aku sepertinya punya anak tiga bukan dua, kenapa istriku sepolos ini ya Allah'?' batin Rafka frustasi.
"Daddy kenapa malah duduk? ayo periksa bunda dad kalau bunda kenapa-napa bagaimana?" ucap Kenzi menarik-narik tangan Rafka.
"nak dengarkan Daddy, itu bukan penyakit nanti juga merah-merahnya bakal hilang dengan sendirinya." ucap Rafka.
"kalau Daddy gak mau bawa bunda ke rumah sakit biar aku yang membawanya." ucap Kenzo.
"sayang kamu pakai baju dulu ya" titah Rafka pada Karin.
Karin menuruti ucapan Rafka dia langsung pergi menuju walk in closet dimana semua kebutuhannya sudah di siapkan oleh Rafka, Kenzo dan Kenzi di giring Rafka duduk di kasur king size nya.
"sayang itu bukan penyakit yang serius, dan satu yang harus kalian catat tanda merah yang ada di badan Bunda hanya orang dewasa saja yang mengetahuinya mengerti." ucap Rafka.
"kenapa kita gak boleh tau daddy?" tanya Kenzi.
" kan Daddy sudah bilang hanya orang dewasa yang berhak mengetahuinya anak kecil tidak termasuk, nanti kalau kalian sudah dewasa pasti kalian juga mengerti." jawab Rafka.
"ohh ya sudah kalau memang bukan hal yang serius aku juga gak papa, tapi kalau serius aku akan bawa bunda pergi ke dokter." ucap Kenzo dengan tegas.
Rafka tersenyum menanggapi ucapan Kenzo, dia tau kedua anaknya begitu menyayangi Karin sebagai ibu sambungnya.
" sudah siang waktunya tidur." ucap Rafka
" Daddy aku mau tidur berempat sama Daddy, bunda dan kakak'." pinta Kenzi.
"boleh, kalian tidur saja Daddy mau samperin bunda dulu." ucap Rafka.
Kenzo dan Kenzi langsung merebahkan tubuhnya, tak butuh waktu lama keduanya langsung memejamkan matanya.
" mas anak-anak mana?" tanya Karin.
"mereka sudah tidur, kamu tidur juga nanti malam kita pasti kedatangan banyak tamu." ucap Rafka memeluk Karin dari belakang.
Rafka mencium aroma wangi dari Karin, dia mengendus leher jenjang Karin yang membuat Karin kegelian.
"mas mandi dulu katanya nanti kita akan menerima banyak tamu?" ucap Karin membalikkan badannya.
Rafka mengecup kening Karin dengan sayang, dia menganggukkan kepalanya dan mendekap tubuh Karin dengan erat.
"aku mandi dulu kita tidur bareng ya, kalau kamu ngantuk duluan saja."ucap Rafka.
"iya mas."
Rafka melepaskan pelukannya pergi ke kamar mandi melakukan ritual mandinya dan menuntaskan hasratnya yang sudah tertahan.
' solo karir again' batin Rafka
Karin melenggang pergi ke arah ranjang dimana si kembar sudah lebih dulu pergi ke alam mimpinya, dia mengecup kedua pipi anak sambungnya dengan sayang sembari menselunjurkan kakinya menunggu Rafka menyelesaikan mandinya.
beberapa menit kemudian.
Karin sudah menguap beberapa kali namun Rafka tak kunjung datang, tanpa sadar dia sudah memejamkan matanya dengan posisi bersandar di kepala ranjang.
di kamar mandi Rafka melakukan aksi solo karirnya.
" ouhh s***, gara-gara si kembar datang aku jadi solo karir begini, gak tau Napa kalo udah di ujung tanduk." gumam Rafka.
Rafka menuntaskan hasratnya selama beberapa menit lamanya, selesai dengan aksinya Rafka membersihkan tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi.
Rafka langsung memakai bajunya dan ikut bergabung tidur dengan anak dan istrinya, sebelum naik ke atas ranjang ia menggeser tubuh Kenzo dan Kenzi lalu ia membenarkan posisi tidur Karin dan memeluknya sebelum memejamkan matanya.