
Vita memarkirkan mobilnya di depan gedung yang sudah terbengkalai, dia turun memakai hoodie berwarna hitam lengkap dengan maskernya.
"keluar" panggil Vita.
Seseorang keluar dari balik tembok, Vita menyerahkan sebuah bungkusan kepada orang tersebut.
"ini uangnya." ucapnya.
"kenapa cuma segini?" tanya Vita.
"nanti aku akan membayar sisanya setelah semua barang terkumpul." jawabnya.
Saat hendak berbalik polis datang menodongkan senjata tajam ke arah Vita, dengan wajah terkejutnya Vita mengangkat kedua tangannya ke atas.
"jangan bergerak!" ucap polisi.
'sial, kenapa mereka ada disini' batin Vita.
polisi mengepung di semua penjuru agar Vita tidak bisa melarikan diri, sudah lama polisi mengincarnya namun selalu saja berhasil melarikan diri.
"ringkus mereka" titah ketua polisi.
"siap komadan."
tangan Vita di borgol bersama pria yang terlibat jual beli dengannya, meskipun dia berontak namun tak bisa melepaskan diri. Keduanya di giring keluar dari gedung kumuh dan di seret masuk ke dalam mobil.
"hahaha.. Akhirnya kau tertangkap juga rubah sialan!"
Vita memicingkan matanya melihat seorang pria bersandar di samping mobil dengan melipat kedua tangannya tertawa puas ke arahnya.
"Dimas." geram Vita saat mengenali pria yang menertawakannya.
Dimas tertawa puas melihat Vita di borgol oleh polisi, selama ini dia sabar menghadapi wanita durjana beberapa bulan terakhir dengan segala kelicikannya mengganggu keluarga kecil Rafka, Dimas dan Rafka mengumpulkan semua bukti kejahatan yang dilakukan oleh Vita di bantu oleh Kenzo lalu bekerjasama dengan aparat kepolisian.
" selamat bersenang-senang rubah betina." ucap Dimas dengan senyum mengejek.
"sialan kau Dimas." umpat Vita.
"masuk" titah polisi mendorong tubuh Vita masuk ke dalam mobil.
Vita menatap nyalang kepada Dimas, namun Dimas menyunggingkan senyumnya merasa puas karena misinya telah selesai.
di mansion.
Kenzo dan Rafka bertos ria mendapat kabar dari Dimas yang mengatakan bahwa Vita berhasil diamankan.
"yes, berhasil." pekik Kenzo.
"kau memang cerdas boy, tinggal satu langkah lagi agar semuanya sempurna." ucap Rafka.
Rafka membuka situs media sosial dan menyebar luaskan berita mengenai Vita, selama berbulan-bulan Rafka membiarkan Vita melakukan apa saja yang dia inginkan bukan semata-mata dia suka, tapi dia sedang mengumpulkan bukti kejahatan yang tak sengaja dia temukan di dalam handphone milik Vita.
Dulu Vita pernah menemui Rafka saat sedang berada di salah satu restoran terkenal setelah meeting bersama klien, Vita meletakkan tasnya tak lama kemudian dia pergi menelpon dengan seseorang namun handphone lain jatuh dari tasnya saat Rafka hendak mengambilnya Vita buru-buru pergi mengambil tasnya sebelum Rafka menyerahkan hp nya yang terjatuh.
layar hanphone milik Vita menyala, Rafka membaca sekilas pesan yang masuk ke hp tersebut yang berisikan tentang jual beli obat-obatan terlarang, pendaftaran menjadi seorang model dan pencucian uang.
Rafka meminta bantuan Kenzo untuk meretas hp milik Vita lalu memidahkan semua datanya, setelah dicari ternyata banyak bukti transaksi di dalamnya. Rafka berniat untuk langsung melaporkannya namun Kenzo mencegahnya, semua perlu bukti yang kuat agar mempermudah segala sesuatunya.
"beres." ucap Rafka.
Tok.. Tok..tok.
"mas" panggil Karin.
"ya sayang, ada apa?" sahut Rafka dari dalam.
"itu ada dimas di depan, katanya ada perlu sama kamu." ucap Karin.
"iya, bilang sama Dimas tunggu sebentar Bun." ucap Rafka.
"emangnya lagi pada ngapain sih sama Kenzo di dalem? Perasaan dari tadi pintu di kunci mulu heran deh." gerutu Karin.
Rafka dan Kenzo membereskan tablet dan juga laptopnya, mereka keluar dari dalam ruang kerja berjalan ke arah ruang keluarga dimana Dimas dan Karin berada.
"Dimas" panggil Rafka.
"selamat siang tuan." sapa Dimas.
"selamat siang juga, silahkan duduk." ucap Rafka.
Dimas duduk di sofa membawa berkas-berkas dari kantor menyerahkan semuanya pada Rafka, Karin memainkan hp nya dia membaca berita yang lewat di beranda melihat foto wajah wanita yang dikenalnya.
"mas, bukannya ini model produk sabun kamu?" tanya Karin menyodorkan hp miliknya ke arah Rafka.
"iya bener, emangnya kenapa?" tanya Rafka balik.
"ini ada berita kalau dia di tangkap polisi saat ini," ucap Karin.
Karin membaca beritanya sampai ke bawah, dia membulatkan matanya terkejut.
"Astagfirullah." pekik Karin.
"Bun, ada apa?" tanya Rafka.
"ini, kok ada ya manusia jahannam seperti dia? Lihatlah ini mas, dia menjual para wanita yang mendaftar jadi model kepada para gadun, menjual barang haram dan dia juga menjajakkan tubuhnya demi popularitasnya, Astagfirullah ya Allah." ucap Karin syok.
Rafka, Dimas dan Kenzo saling melempar pandangan satu sama lain, mereka sudah tau apa yang di lakukan oleh Vita dan beritanya pun menyebar luas karena mereka pula.
"sudahlah sayang, jangan di baca lagi mas juga udah lama pecat dia gak baik loh ada anak kecil yang denger berita yang kamu bacakan." ucap Rafka.
"oh iya maaf mas," ucap Karin.
Di penjara.
Banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang berbondong-bondong datang ke kantor polisi, mereka adalah orang tua dari para wanita yang di jual oleh Vita, mereka ingin menghabisi Vita yang telah merusak masa depan anak-anaknya dengan menjualnya ke pada para gadun.
"Aaarrgghhh.. Dasar sialan. " teriak Vita di dalam sel.
"diam!! emangnya loe pikir ini tempat nenek moyang loe apa." sentak wanita gendut yang berada dalam satu sel bersama Vita.
"terserah gue mau apa juga, bukan urusan loe!" bentak Vita.
Wanita berbadan gempal tidak terima di bentak oleh Vita, dia memanggil kawan satu selnya untuk menghajar Vita. Akhirnya perkelahian pun terjadi, wajah Vita sudah babak belur dan rambutnya pun acak-acakan beruntung polisi langsung datang melerai perkelahian tersebut.