Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 159



Ketiga kurcaci pembuat onar selesai di bersihkan oleh karin dan juga Raisa, Rafka kembali ke kamarnya memeriksa anaknya dan juga Bagas setelah dia menyelesaikan urusannya dengan chef Simon dan Juga Leni. Raisa keluar dari kamar Karin saat Rafka datang, dia pamit pada karin yang di balas dengan ucapan terimakasih.


" sayang, sudah selesai mandiinnya?" tanya Rafka.


" sudah mas." jawab karin dengan lembut.


baju serta kerudung Karin sudah basah akibat memandikan ketiga anaknya yang super duper tidak bisa diam, saat di mandikan si kembar dan Bagas malah perang busa Karin dan Raisa kewalahan sampai akhirnya kaein berteriak meminta ketiganya untuk diam.


" sayang lebih baik kamu juga ganati baju dulu, nanti mas mau bicara dulu sama anak-anak." ucap Rafka.


"baik mas, kalau gitu aku pamit gangi baju dulu." ucap Karin.


Rafka menganggukkan kepalanya, karin pergi ke walk in closet mengganti bajunya yang basah. Setelah kepergian Karin Rafka mulai memasang mode seriusnya, dia menatap ketiga anak di depannya dengan bergantian. Si kembar menundukkan kepalanya begitupun dengan Bagas mereka takut melihat wajah Rafka.


" puas kalian bikin onar?" tanya Rafka dengan tegas.


Ketiganya diam tak menjawab pertanyaan Rafka.


" dengarkan Daddy, kalau kalian bersikap seperti itu Daddy gak akan segan-segan menghukum kalian, dan untuk kamu Bagas kalau kamu ikut-ikutan mereka berdua ngerjain orang lain lagi Daddy gak akan izinin kamu lagi buat main bareng Kenzo dan Kenzi, kamu udah Daddy anggap anak sendiri kalau kamu ikutin apa kata Daddy kamu boleh tinggal bareng kita sampai kapanpun yang kamu mau." ucap Rafka.


" iya Daddy twins." jawab Bagas.


" maafin kita ya Dad." ucap si kembar bersamaan.


" Daddy maafin, awas jangan ulangi lagi ya." ucap Rafka.


ketiganya menganggukkan kepalanya, Rafka menghela nafasnya namun sebelum dia pergi Rafka memberi pesan kepada anak-anaknya.


" sebentar lagi dzuhur kita sholat berjamaah disini bareng Bunda, kalau udah sholatnya kalian tidur siang." ucap Rafka.


" iya Daddy." jawab ketiganya denban kompak.


Rafka meninggalkan ketiga kurcaci, dia pergi menyusul istrinya yang sedang mengganti baju.


" sayang." panggil Rafka dari luar pintu.


" sebentar mas." jawab karin.


ceklek.


Karin membuka pintu walk in closet, Rafka di buat terpana melihat karin memakai pakaian tertutup namun tanpa kerudung yang menurutnya semakin menambah aura kecantikan yang di milikinya.


"masyaalloh cantiknya istriku." puji Rafka.


Pipi karin langsung bersemu merah, dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Rafka semakin di buat gemas melihat tingkah istrinya.


"uh gemoynya istriku, jadi pengen deh." goda Rafka menaik turunkan alisnya.


" ih ada anak-anak juga, emang gak puas apa semaleman di gempur terus? Emang bener ya apa kata zidan, kamu sama Papa itu kayak kuda lumping." ucap karin merasa heran lada suaminya.


" hehe.. Tapi kau juga suka kan?" cengir Rafka.


"apaan sih, awas ah aku mau temuin anak-anak." ucap Karin menyembunyikan wajahnya yang panas, dia juga mendorong tubuh Rafka.


Rafka mengikuti Karin dari belakang, dia juga mengajak anak dan istrinya untuk sholat dzuhur berjamaah.


" Bun sini." ucap Rafka menepuk sofa di sampingnya.


Karin menuruti kemauan Rafka, setelah istrinya duduk Rafka mambaringkan tubuhnya dan meletakan kepalanya dia atas paha Karin.


" Bun, gak papa honeymoonnya di undur?" ucap Rafka membuka percakapan.


" ya gak papa mas, gak honeymoon juga gak masalah toh sama aja pasti ujung-ujungnya ngamar doang kan? Kalo gitu mah disini juga bisa." jawab Karin santai.


" kalo di pikir-pikir iya juga sih" ucap Rafka.


"lha iya lah mas, aku tau isi pikiran kamu mas yang ada di otak kamu pastinya bukan liburan apalagi kalo kamu udah mulai adu pacu yakin deh susah berhentinya." gerutu Karin.


Racka terkekeh mendengar Karin mengomel, sepertinya Karin sudah paham isi kepala Rafka walaupun baru pertama kali mencobanya.


" ya kan enak Bun, kamu juga sampe merem melek loh." goda Rafka.


" emang enak, eh eh maksudnya enggak kok." ucap Karin gelagapan.


"alahh tuh kan ngaku."


Karin menggeplak tangan Rafka, jadinya dia ketahuan kalau sebenarnya dia menikmati permainan Rafka walaulun dia baru tau apa itu nganu-nganu.


" mas aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Karin.


" boleh dong Bun," jawab Rafka.


" menurut kamu aku harus Kb atau enggak?" tanya Karin.


" ya menurut aku sih gimana kamu aja kan kamu yang ngejalaninya, kalau kamu mau menunda ya sok aja tapi kalau enggak Kb pun ya gak papa malah aku seneng punya anak lagi, apalagi si kembar mereka pasti seneng banget punya adik." jawab Rafka.


" kalau gitu aku gak Kb aja, sebenarnya aku gak mau nunda tapi kan kita harus bicarain dulu berdua takutnya nanti kita beda pendapat." ucap Karin.


" banyak anak banyak rezeki Bun, makanya kita harus seeing olahraga biar cepet ada hasilnya." ucap Rafka mengusap perut karin yang rata.


" kamu mah mas, giliran olahraga aja semangat bener, emang pas bikin si kembar juga gitu ya gencar banget." ucap Karin.


Rafka mendudukkan tubuhnya, dia menerawang kejadian di masa lalunya.


" aku gak pernah sentuh cristin, pas malam pertama juga gak jadi karena emang dia udah gak virgin, selain itu dia juga banyak menutupi kebohongannya padaku." ucal Rafka.


" terus si kembar anak siapa kalau emang kamu gak pernah sentuh Mba cristin?" tanya Karin heran.


" ya anak mas lah, kan mas yang ngurus mereka cuman caranya berbeda." ucap Rafka.


" aju gak ngerti deh mas, sumpah."


" si kembar itu hasil dari bayi tabung, waktu itu Mama terus ngomong pengen cucu sedangkan dia gak tau apa yang terjadi antara mas dan cristin, karena mas gak tega sama mama akhirnya mas sama cristin putuskan untuk ikut program bayi tabung lewat bantuan Bryan, saat cristin hamil aku baru membuka hatiku untuknya namun ternyata dia tidak memerdulikannya." jelas Rafka.


Mulut Karin menganga lebar, dia tak menyangka hubungan Rafka dan Cristin sampai segitunya.


" APA?! Kamu pasti normal bukan? Masa kamu gak ada ha**** sama sekali sama mbak Cristin?" tanya Karin.


" pastinya adalah, aku lebih baik melampiaskannya sama sabun daripada ma cristin." jawab Rafka santai.