
mobil yang Rafka tumpangi sudah sampai di depan rumah Karin, Rafka membukakan pintu dan juga membantu Karin memindahkan si kembar dari pangkuannya.
Rafka langsung pamit pada Karin, meskipun sebenarnya dia ingin berlama-lama dengan kekasihnya itu tapi dia juga harus segera pulang karena pekerjaannya masih banyak, si kembar juga harus sekolah besoknya.
******
Seorang wanita paruh baya sedang mondar-mandir di kamarnya, dia merasa cemas, rasa takut menguasai pikirannya.
'bagaimana ini? jangan sampai Zain membongkar identitas ku, aku harus segera bertindak sebelum mas Richard mengetahuinya.' batin Sarah.
Seseorang membuka pintu kamar, dia tersentak kaget melihat sang suami datang dengan wajah bingung.
"kamu kenapa sayang?" tanya Richard.
"tidak ada mas, aku hanya sedang ingin jalan-jalan saja supaya makanan yang sudah di makan cepat turun karena rasanya aku mengantuk, tidak baik bukan kalau habis makan langsung tidur?" kilah Sarah yang berusaha bersikap tenang dihadapan suaminya.
Richard manggut-manggut membenarkan ucapan Sarah.
"iya kau benar sayang, kalau begitu aku mau pergi dulu mengecek laporan perusahaan Zain masih harus di pantau walau bagaimanapun dia masih baru terjun langsung ke perusahaan." ucap Richard.
"iya mas, jangan terlalu malam mas." ucap Sarah.
"iya sayang" jawab Richard tersenyum.
Sarah mengantar suaminya sampai di depan pintu, dia memastikan Richard turun ke lantai bawah. setelah merasa aman Sarah langsung menelpon seseorang di sebrang sana, beberapa kali dia menelpon tapi tidak terhubung sampai dia kesal membanting telponnya ke atas kasur.
Sarah bergerak gelisah, dia menggigiti kukunya sampai suara deringan ponsel mengalihkan pandangannya dengan gerakan cepat dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
kriing .. kriing
"Hallo, barusan aku melihat hp kau menghubungiku? aku baru saja turun dari pesawat jadi tidak tau jika kau menelpon."
"kita harus bertemu !!"
"ini penting, Zain sudah mengetahui identitas ku sekarang posisiku sedang dalam bahaya."
"APA? katakan di mana kita akan bertemu?"
"baiklah, besok aku akan segera menyusul ."
Sarah menutup telponnya, dia langsung naik ke atas tempat tidur takutnya Richard tiba tiba datang ke kamarnya.
,
"aku harus memastikan wanita itu, hanya dia satu-satunya senjataku." gumam Sarah.
*****
Rafka tidak fokus mengerjakan pekerjaannya, dia masih teringat cerita Karin yang mengatakan Cristin diam-diam membayar seseorang untuk mengikuti kedua anaknya.
"huuhh, kenapa dia tidak menemui Kenzo dan Kenzi secara langsung? dengan caranya yang seperti itu malah membuat anaknya semakin terluka." gumam Rafka menghela nafasnya berat.
Rafka memikirkan bagaimana caranya dia bisa mempertemukan Cristin da si kembar, meskipun rasanya berat tapi Rafka tidak mau egois demi kebahagiaan anaknya dia akan berusaha kembali.
"kalau dia malu kenapa saat aku membawa si kembar ke tempat dia bekerja Cristin sama sekali tidak peduli, sebenarnya ada rasa tidak rela aku mempertemukan mereka aku takut sikap Cristin masih sama seperti dulu."
"untuk sekali ini aku akan berusaha kembali, namun jika dia tetap bersikap egois maka aku tidak akan pernah mempertemukan mereka kembali walaupun hanya satu detik." ucap Rafka.
bagaimana Rafka tidak membenci Cristin, selain dia dengan teganya meninggalkan si kembar saat masih bayi, dia juga tidak pernah menemui si kembar ataupun menolehnya yang Karin prioritaskan hanyalah pekerjaannya, sedangkan pekerjaan bisa hilang kapan saja.
karena sudah tidak bisa fokus bekerja, Rafka memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
maaf telat update, mudik dulu hihihi 😁