
Keluarga berencana kini sudah masuk ke dalam mobil, Rafka menyetir mobilnya sendiri tanpa di dampingi supir dia menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Di tempat lain Vita menghisap rokoknya lalu meminum minuman beralkohol di temani para pria yang mengelilinginya, setiap kali ada waktu luang dia seringkali pergi ke club menghabiskan waktunya untuk mabuk dan juga bermalam dengan pria yang berbeda.
" apa sedang ada masalah?" tanya temannya.
"sedikit, ada satu orang pria yang menolak pesonaku kau tahu bukan? Tapi kali ini berbeda, dia begitu tampan, gagah dan jangan lupa kalau dia adalah orang terkaya di negara kita." ucap Vita mengepulkan asap dari mulutnya.
"siapa pria itu?"
"kau tak perlu tahu yang pasti aku sudah lama mengincarnya, namun aku masih terikat dengan pria tua itu gara-gara dia pria yang ku incar kini sudah beristri, tapi aku tidak akan tinggal diam seorang Vita punya seribu satu cara untuk meluluhkannya." ucap Vita tersenyum Miring.
'kau tunggu saja tuan Rafka ku sayang, dari dulu kau menolak pesonaku tapi sekarang akan ku pastikan kau jatuh ke dalam pelukanku' batin Vita.
"hai cantik, mau bermalam denganku?" tanya bule yang datang menghampiri Vita.
"tentu saja" ucap Vita.
Pria tersebut mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Vita, keduanya berjalan ke kamar yang ada di atas Club menghabiskan malam panas berbayar.
di mansion papa William.
Raisa menatap nanar alat tes kehamilan yang dia pegang, sudah beberapa kali dia di buat kecewa dengan hasilnya. Raisa membuang alat tes kehamilan tersebutbke dalam sampah lalu keluar dari dalam kamar mandi, Reza melihat istrinya murung yang bisa dia tebak kalau hasip dari tesnya kembali negatif.
" sudah tidak apa-apa, sedikasihnya aja jangan sedih seperti itu." ucapa Reza memeluk tubuh Raisa.
Raisa meneteskan air mata, sudah lama ia menantikan kehadiran buah hati di dalam perutnya pernikahannya dengan Karin hanya berbeda seminggu dia selalu membandingkannya yang mana membuatnya terdorong untuk selalu mengetes apakah dia sudah isi apa belum, Reza menenangkan istrinya dia selalu memberikan kekuatan kepada Raisa tak bisa di pungkiri diapun menginginkan keturunan namun dia tak bisa berharap lebih karena Reza juga melihat kondisi istrinya.
" kita harus sabar, pernikahan kita juga baru beberapa bulan jika kita masih di beri kesempatan untuk tetap hidup insyaallah Allah akan memberikan kita kepercayaan asal kita mau berusaha, di luaran sana masih banyak orang-orang yang menunggu sampai berpuluh-puluh tahun lamanya tapi karena mereka sabar Allah memberikan apa yang mereka inginkan, aku juga tidak terburu-buru untuk memiliki keturunan kita nikmati saja waktu kita berdua sambil berusaha kembali yang berarti servisnya harus sering." ucap Reza menggoda Raisa di akhir katanya.
Geplak..
"itu mah maunya kamu." ucap Raisa dengan menggeplak bahu Reza.
Raisa tersenyum, dia begitu beruntung memiliki suami seperti Reza yang tak pernah menuntut apapun darinya. Setiap hari Raisa berdoa agar apa yang dia inginkan terwujud, Reza pun selalu menghibur dan menguatkan Raisa.
Rafka dan Karin sudah sampai di rumah sakit, keduanya masuk menuntun si kembar menuju ruang obgyn.
Ceklek.
" selamat sore dokter." sapa Karin.
"selamaat sore juga, silahkan duduk." ucap dokter Khaila.
Karin duduk di depan dokter Khaila sedangkan Rafka dan si kembar duduk di meja lain, yang tak jauh dari tempat Karin.
"apa ada keluahan nyonya?" tanya dokter.
"tidak ada dok, hanya makan saja yang lebih banyak sekarang mah." ucap Karin.
"hal itu wajar karena ada dua nyawa di dalam perut nyonya, jika memang benar tidak ada keluhan silahkan nyonya berbaring diatas." ucap dokter Khaila.
Karin berbaring diatas brankar di bantu oleh perawat, dokter Khaila menyingkap baju Karin lalu mengoleskan gel khusus ke atas perutnya.
"lihat di sana, mereka sudah mulai terbentuk dan yang pastinya sehat-sehat ya." ucap dokter Khaila menunjuk monitor di atas.
"wah mereka udah mulai besar ya Daddy, jadi gak sabar nunggu mereka lahir" ucap Kenzi antusias.
" benar, aku mau adik bayi cowok biar maen bola bareng." timpal Kenzo.
"mau cewek mau cowok yang penting sehat, kalian doakan saja adik bayi yang ada di perut Bunda lahir dengan selamat dan Bundanya juga sehat." ucap Rafka.
Si kembar menganggukkan kepalanya, Karin tersenyum melihatnya suami dan anaknya begitu pengertian Karin berharap keluarganya bahagia.