
Rafka melongo melihat Karin membawa soto beserta pancinya, sedangkan si kembar terkekeh melihat sang Bunda.
"yang ngapain juga pancinya di bawa kesini segala?" tanya Rafka.
" biar gak bolak balikk kan cape harus naik turun ke atas." jawab Karin.
"Bunda kocak bawa sama pancinya, gak sekalian sama kompornya biar kalo dingin bisa langsung angetin." ucap Kenzo tertawa.
Kenzo dan Kenzi hendak turun namun Rafka mencegahnya karena langsung merasakan mual di perutnya. Bagas menertawakan Kenzo dan Kenzi yang terpenjara oleh Rafka, wajah keduanya berubah masam sungguh mereka sangat menyesal telah mengkhwatirkan ayahnya yang membuat keduanya terjebak di ketiak Rafka.
"kalian mau kemana? Tetap diam disini, Daddy langsung mual kalau kalian pergi." ucap Rafka.
"Kenzo, Kenzi kalian turuti dulu permintaan Daddy sampai ada makanan yang masuk ke perutnya kalau kalian ingin makan biar Bunda yang menyuapi ya." ucap Karin.
Dengan berat hati si kembar menuruti ucapan Karin, Rafka tersenyum puas saat si kembar tidak berkutik di hadapan Karin dia kini sibuk mengendus Aroma dari tubuh si kembar.
"Daddy udah kayak gukguk aja ih" ucap Kenzi risih.
"biarin yang penting gak mual." sahut Rafka.
"udah biarin aja, lama-lama pusing juga ngadepin Daddy." ucap Kenzo.
"selamat menikmati." ledek Bagas.
Karin menyuapi anak dan suaminya langsung dari panci, dia sudah pusing mendengar perdebatan yang terus berulang.
"Bun kalau di pikir-pikir Bunda udah kayak nyuapin anak burung." celetuk Bagas.
" iya juga ya?" ucap Karin.
"cuit.. Cuiitt.. Cuiit." Kenzi menirukan suara burung.
Karin dan yang lainnya tertawa, Rafka makan dengan lahap begitupun si kembar dan Bagas. Tiba-tiba dari arah pintu Zidan masuk bersama Lusi, Zidan mendekat ke arah keluarga cemara namun Rafka langsung memghentikan langkahnya.
"STOP!!!" pekik Rafka.
"apaan sih loe kak?" sewot Zidan.
"sembarangan loe ya, gue mandi pake parfum mahal ini kalo gak percaya nih cium aja sendiri." jawab Zidan mencium badannya.
Zidan dengan sengaja mendekati Rafka, seketika Rafka langsung lompat dari kasur king sizenya dia pergi ke kamar mandi kembali memuntahkan isi perutnya. Karin menyusul suaminya dia membantu memijat tengkuk Rafka, Zidan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Daddy kalian kenapa?" tanya Zidan.
"enggak tau Uncle, dari pagi juga terus muntah." jawab Kenzo.
"aneh banget sih." ucap Zidan.
Lusi juga penasaran tapi dia tidak sempat menanyakannya pada Karin, Zidan dan Lusi saling pandang tapi Lusi mengendikkan bahunya.
Karin membantu Rafka keluar dari kamar mandinya, tubuh Rafka seakan tidak ada tulangnya wajahnya pucat tak berdaya.
" loe sakit apa sih kak?" tanya Zidan.
" jangan mendekat please.. aku sudah gak tahak lagi." ucap Rafka lesu.
"Zidan sebaiknya kamu dan Lusi tunggu di bawah, nanti mbak menyusul kita bicara di ruang keluarga saja." ucap Karin.
"baiklah." ucap Zidan.
Zidan dan Lusi turun ke bawah mereka menuruti ucapan Karin, si kembar dan Bagas turun dari kasur membantu Rafka untuk berjalan ke arah tempat tidur.
"mas tidur dulu yah, nanti aku panggil Bryan kesini sekarang aku mau temuin Zidan dulu." ucap Karin.
Rafka mengangguk lemah, dia menutup matanya rasanya dia seakan tak bernyawa saking lemasnya.
" kalian bertiga temenin Daddy yah, Bunda turun dulu sebentar." ucap Karin.
"iya Bun." jawab ketiganya.
Setelah memastikan suaminya tidur Karin turun ke bawah, saat di pertengahan tangga karin merasakan keram di bagian perutnya namun dia menahannya.