
Bu Suti selaku kepala pelayan sedang menata berbagai macam lauk pauk di meja makan, selesai menata semua menu makan malam Bu Suti menghampiri Rafka.
"tuan Rafka, makan malam sudah siap." ucap Bu Suti.
"baik Bu, nanti saya akan mengajak yang lainnya makan, Bu Suti dengan yang lainnya juga makan jangan menunggu kami selesai baru kalian makan, saya tidak suka itu. mengerti !!" tegas Rafka.
"mengerti tuan. selamat menikmati makan malamnya tuan, saya pamit kebelakang untuk menjalankan apa yang tuan perintahkan." pamit Bu Suti.
"iya silahkan Bu." ucap Rafka.
Bu Suti langsung pergi ke belakang, dia memerintahkan apa yang Rafka katakan. Rafka memang selalu bilang pada Bu Suti ..
'jika kalian ingin makan, makanlah. jangan menungguku atau menunggu si kembar baru kalian makan, dan ingat satu hal !! aku tidak suka kalian makan makanan sisa yang ada di meja makan. jika aku makan, maka kalian pun makan. jikapun aku tidak makan tapi kalian lapar kalian boleh membuat makanan atau mengambil buah-buahan yang ada di kulkas tanpa harus izin padaku, aku memang majikan kalian tapi aku juga tidak akan membiarkan kalian kelaparan, aku tidak akan bangkrut jika hanya memberi kalian makan, Bu Suti juga tolong perhatikan semua pelayan dan juga penjaga di depan. tidak boleh ada yang telat makan, ataupun kekurangan makanan.'
semua pelayan maupun penjaga di mansion Rafka begitu beruntung memiliki majikan seperti Rafka selain baik, Rafka juga tak segan-segan menyekolahkan anak-anak para pekerja yang ada di mansion, dari mulai taman kanak-kanak sampai kuliah dia yang membiayai itu semua. Rafka selalu mengingatkan kepada Bu Suti, namun pelayan yang lain tetap saja merasa tidak enak. karena Rafka sering memergoki pelayan makan makanan sisa dirinya, akhirnya Rafka membuatkan ruangan khusus untuk pelayan makan yaitu ruangan dapur yang di lengkapi dengan adanya tempat masak, kulkas meja makan dan masih banyak lagi, tujuannya adalah agar pelayan atau penjaga tidak merasa tidak enak padanya dengan begitu pelayan bisa bebas jika menginginkan makanan tanpa harus menunggu izin darinya. untuk keperluan dapur pelayan pun Rafka memberikan uang khusus kepada Bu Suti selaku kepala pelayan untuk selalu mengisinya, bagaimana tidak betah bekerja dengan Rafka bukan hanya baik tapi dia juga perhatian terhadap para pekerjanya.
Rafka mengajak Karin dan si kembar untuk makan malam, karena setelah makan malam selesai ia harus mengantar Karin pulang ke rumahnya.
"sayang ayo makan dulu." ajak Rafka pada Karin yang masih bermain kejar-kejaran dengan si kembar.
Karin menghentikan aksi kejar-kejarannya, dia menoleh ke arah Rafka dan tersenyum manis. Karin menghampiri Rafka, Rafka pura-pura memasang wajah bete nya pada Karin.
"aduh itu muka masih bete aja." goda Karin.
"heh, siapa juga yang bete?" ketus Rafka.
Karin terkekeh melihat Rafka yang memasang wajah bete nya, dia mengikis jarak mendekat ke arah Rafka dengan menyuruh Rafka menundukkan kepalanya karena Rafka lebih tinggi darinya.
"Maaf ya mas Rafka sayang untuk kejadian tadi, habisnya mas duluan yang maen nyosor aja kayak soang, aku nggak terima itu tuh c**m*n pertama ku tau. nanti kalo udah halal baru boleh, boleh sepuasnya." ucap Karin berbisik pada Rafka dengan mengedipkan matanya di akhir kalimat yang di diucapkannya.
Rafka yang mendengar bisikan Karin seketika wajahnya berbinar, dia jadi tidak sabar untuk menikahi Karin. Rafka langsung membayangkan bagaimana dirinya ketika sudah menikah dengan Karin.
"anak-anak Bunda, ayo sini kita makan malam dulu yuk " ajak Karin pada si kembar.
"okey Bunda." sahut Kenzi dan Kenzo.
Kenzi dan Kenzo heran melihat Rafka senyum-senyum sendiri.
"Dad, Daddy? kenapa Daddy senyum-senyum sendiri?" ucap Kenzo menggoyangkan tangan Rafka.
Rafka kaget, dia langsung membuyarkan lamunannya.
"enggak ada apa-apa kok boy." jawab Rafka kikuk.
"Daddy aneh, senyum-senyum sendiri udah kayak orang miring aja."ucap Kenzi dengan memperagakan gerakan miring oleh jari telunjuk yang di tempelkan di dahinya.
"anak-anak Bunda gak boleh kayak gitu sama orang tua, harus sopan meskipun itu adalah Daddy yang sudah dekat, akrab bahkan kalian anggap Daddy kalian teman pun kalian tetap harus sopan, yah? tidak boleh di ulangi lagi hal seperti itu. mengerti?!!" tegur karin pada si kembar.
"Daddy, Kenzi minta maaf ya udah gak sopan sama Daddy?" ucap Kenzi meminta maaf.
"iya sayang Daddy maafin, tapi jangan di ulangi lagi ya? sekarang kita makan saja ya , kasihan cacing di perut Daddy Udah pada demo minta di isi." ucap Rafka sambil mengajak Kenzi bercanda.
Si kembar dan Karin tertawa mendengar kata 'cacing demo'. bagaimana bisa cacing demo di dalam perut hanya karena minta makan? begitulah pikirnya. mereka pun duduk di meja makan, menikmati hidangan yang disajikan dengan di selingi canda tawa dari si kembar.
*******
Mama ayu, Papa William dan juga Zidan sedang duduk di meja makan menikmati makan malamnya. Reza datang dari arah pintu utama, ia masuk mengucapkan salam sambil memijat-mijat lehernya yang terasa sakit.
"Assalamu'alaikum.." ucap Reza.
"Waalakumsalam salam.."
Mama ayu dan yang lainnya menjawab salam dari Reza, semuanya menoleh ke arahnya. betapa terkejutnya Mama ayu melihat wajah anak bontotnya terdapat beberapa luka lebam, Zidan langsung tersedak saat menatap Reza, sedangkan Papa William terlihat santai saja.
"Astaghfirullah, Reza muka kamu kenapa sampai bonyok begitu?" tanya Mama ayu khawatir, dan langsung menghampiri Reza.
"iya kak, Lo kenapa? itu muka masih aman kan, gak sampe bengkok?" tanya Zidan.
"ck, gue gak selemah itu kali kalo sampe bengkok, mending Lo diem aja deh gausah banyak nanya, pertanyaan Lo itu malah bikin gue emosi tau." sahut Reza kesal.
"bilangnya gak lemah, tapi bisa bonyok gitu? malu-maluin aja." sahut Papa William, bukannya khawatir dia malah meledek anak bontotnya itu.
Mama Ayu heran kenapa suaminya malah meledek anaknya, bukannya khawatir atau di bawa ke dokter buat di obati malah ucapan menyebalkan yang terdengar di telinganya.
"Papa ini bukannya khawatir sama Reza malah ngeledek kayak gitu? awas aja Mama gak bakal kasih jatah satu bulan." ucap Mama Ayu marah.
Papa William melotot tak percaya, bagaimana mungkin dia bisa tahan selama satu bulan gak dapet jatah? satu hari aja papa william hampir stress, meskipun sudah tua Papa William dan Mama Ayu masih rutin melakukan olahraga malam, bagi mereka melakukan hubungan suami istri itu bisa menambah awet hubungan diantara keduanya.
"gak bisa gitu dong Ma, masa cuma gara-gara Reza bonyok mama gak kasih jatah sama papa? kan gak ada hubungannya?" protes papa William.
"dilarang protes, kalau papa mau protes mama akan tambah libur jatahnya jadi satu tahun, mau?" ancam Mama ayu.
Papa William langsung diam mendengar Mama Ayu lagi-lagi mengancamnya. Zidan yang melihat papa William diam langsung tertawa, Reza pun ikut tertawa meskipun sambil meringis memegang pipinya yang lebam.
"Makanya Papa Will jangan bangunkan singa yang lagi tidur, tanggung sendiri kan akibatnya. hahahaha, loyo gak tuh terong setahun? gak bisa masuk gua." cibir Zidan dengan tertawa.
"diam, dasar anak kurang ajar!!" ucap Papa William kesal.
"Ma, nanti Reza aja ya Reza cerita ke Mama, sekalian ada yang Reza mau omongin sama Mama juga Papa, sekarang Reza mau mandi dulu ya Ma." ucap Reza.
"iya sayang, hati-hati ya, kalau sudah malam tunggu di ruang tamu." jawab Mama Ayu.
Reza menganggukkan kepalanya, dia melangkahkan kakinya ke lantai atas menuju kamarnya, dia lantas membuka jaketnya dan masuk ke kamar mandi.