Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 64 - jadi pacar bohongan



Zidan marah bahkan sangat marah, ingin rasanya dia memaki dan memakan semua orang yang hadir di sana.


'kalau ngebunuh orang gak dosa, udah gue cincang semuanya. Aaaarrggh menyebalkan sekali..' batin Zidan frustasi.


"Hahahaha, Raisa loe inget gak pas waktu di mall, Zidan romantis banget sama pak Rafka totalitas sekali menjalani kepribadiannya yang baru." ucap Lusi.


"Emang apa yang Zidan dan Rafka lakukan saat itu, aku jadi penasaran?" bukan Raisa yang menjawab, malah Brian yang lebih penasaran.


"saat itu Zidan dirangkul, di belai, pokoknya romantis banget deh." jawab Lusi.


"Zidan pasti jijik banget pada Rafka saat itu, boleh banget nih Zidan gue sewa jadi pacar bohongan, biar gue lepas dari perjodohan sialan itu, gimana Zidan mau gak?." ucap Brian melirik ke arah Zidan dengan menaikturunkan alisnya.


"gak Sudi, gak suka gellayy kalo gue jadi pacar bohongan Lo, gue aja jijik acting sama Rafka apalagi sama dokter cabul kaya Lo. hiihh." cibir Zidan.


Zidan masih begitu ingat bagaimana Rafka membelainya, bahkan hampir menciumnya di depan umum. dia merasa jijik sekaligus ingin menghajar wajah sepupunya itu, Zidan merasa ternodai oleh Rafka yang di sentuh-sentuh seenaknya, emang Rafka pikir dia cewek apaan. ehh kok cewek sih? haissh.


Zidan juga membayangkan bagaimana dirinya jadi pacar pura-pura Brian, dia sangat tahu kelakuan dokter cabul itu, membayangkannya saja dia ngeri. bagaimana tidak, Zidan melihat dengan mata kepalanya langsung saat Brian dengan rakus melahap b*b*r para wanita yang di jadikan kekasih sesaatnya itu.


"kenapa kamu jijik Zidan, bukannya pak Rafka cuman rangkul kamu sama belai rambut doang ya?" tanya Raisa.


"Lo mau tau? Rafka hampir aja cium gue di depan umum katanya biar totalitas aktingnya, ya kali gue di nodai sama sesama terong. gue masih normal, masih suka kaum apem. tau!!" gerutu Zidan.


"Hahahaha." semuanya kembali tertawa membayangkan bagaimana risihnya seorang Zidan saat itu.


Rafka dan Karin penasaran dengan apa yang di tertawakan oleh Reza dan yang lainnya, mereka berdua pamit pada Mama Ayu dan Papa William, karena memang meja Karin agak jauh dari yang lainnya. Rafka ingin privasi dan menikmati suasana hanya berdua, maka dari itu dia request meja khusus. orang tua Rafka mengizinkan keduanya pergi, si kembar tidak ikut karena sedang menikmati puding dan juga kue yang tersaji di meja.


Rafka berjalan dengan menggandeng tangan Karin mesra, mereka menghampiri Reza dan yang lainnya. disana terlihat semua orang tertawa, kecuali zidan yang terlihat kesal dan juga murung.


"kamu kenapa Zidan? kayaknya lagi bahagia banget." ledek Rafka.


"Diam sialan, ini semua gara-gara lo !! gue jadi bahan gunjingan para manusia menyebalkan seperti mereka." geram Zidan.


"memangnya kenapa?"


"gara-gara lo yang harus ikut ujian pra nikah dadakan yang di suruh sama Papa Will, gue jadi bahan ledekan mereka, gue gak suka!! harga diri gue sebagai cowok tampan hancur seketika karena ide konyol Papa Will, semuanya MENYEBALKAN. AARRGGHHH..." pekik Zidan frustasi, dadanya kembang kempis sampai nafasnya naik turun.


Zidan rasanya ingin tenggelam ke dasar laut yang dalam, bukannya Rafka membela malah dia ikut tertawa. Karin sebenarnya ingin tertawa, namun sekuat tenaga ia tahan Karena melihat Zidan seperti tertekan.


"Mas sudah, kasian Zidan bukannya berterima kasih sama Zidan udah bantuin kamu lulus dari ujian Papa, kamu malah ngetawain kayak gitu." tegur karin.


"iya habisnya lucu sayang, ya udah aku berhenti nih ketawanya." Rafka langsung menutup mulutnya dengan rapat, dengan pipinya yang merah menahan rasa ingin tertawanya.


"kalian juga stop !! jangan menertawakan Zidan, bercanda boleh tapi jangan berlebihan kasian Zidan." ucap Karin.


semua orang yang sedang tertawa langsung menutup mulutnya dengan rapat, mereka mengatur nafasnya dan juga merilekskan perutnya yang kaku karena lama tertawa. Zidan merasa senang, kehadiran Karin cukup membuat dirinya merasa ada yang membelanya.


"sudah Zidan, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Karin.


"tidak apa-apa mbak, makasih mba udah nolongin Zidan dari para pendosa seperti mereka."


"iya sama-sama, kamu acting jadi perempuan juga karena bantuin mas Rafka, harusnya mba yang terimakasih sama kamu."


"iya mba santai aja,"


"ngomong-ngomong, kamu cantik loh di dandanin kayak perempuan gitu, mba pangling banget liat kamu, mba kira kamu itu cewek beneran sampe mba cemburu karena kamu lebih cantik dari mba."


"udah lah, jangan dibahas lagi males dengernya."


"nanti kalau kamu di dandanin, ajak mba ya?"


"ngapain ngajak mba?"


"ya biar nanti kalau kamu udah di dandanin, mba bakal bawa kamu mangkal, sayang dong udah di dandanin cantik tapi gak di manfaatin, cewek cantik kayak kamu pasti mahal harganya."


"Astaghfirullah ... eling mba eling, dasar semua orang pada gak bener!!


Brakk ..


tawa semua orang pecah kembali mendengar celetukan Karin. sedangkan Zidan langsung pergi keluar dari ruangan tersebut, dia pergi ke meja Papa Will untuk mengajukan protesnya.