
Karin keluar dari kamar mandi di gendong Rafka, bibirnya mengerucut kesal pasalnya suaminya terus menggempurnya berulang kali sedangkan Rafka dia malah senyum-senyum sendiri karena merasa puas.
"kok cemberut kayak gitu? cantiknya langsung hilang loh yang." goda Rafka.
"tau ah, mas nyebelin." kesal Karin.
Rafka memakaikan baju Karin walaupun naganya sudah berkedut kembali namun dia menahannya, bagian inti karin bengkak akibat ulah suaminya yang tak kenal lelah kalau sudah ketagihan.
"maaf ya sayangku, cintaku, namanya juga buka puasa pastinya lapar apalagi ini puasanya bertahun-tahun beuhh bukanya juga pasti banyak." ucap Rafka.
Karin memutar bola matanya jengah, beginilah resiko nikah sama duda karena pengalamannya bajak sawah udah pro makanya tenaganya kuat.
"aku lapar, dari semalam kita gak makan kamu mah maunya yang enak-enak terus darimana mau ada tenaga kalau perutnya gak ada asupan energinya" keluh Karin.
"hehehe habis enak yang, tenang aja aku udah siapin semuanya tadi aku udah pesen makanan dari restoran yang ada di hotel, sekalian sama salep buat donat kamu yang bengkak." ucap Rafka.
" Astaghfirullah mas, otak kamu dah kotor." ucap Karin menggelengkan kepalanya.
Rafka tertawa terbahak melihat ekspresi karin yang sangat menggemaskan ketika sedang kesal, Rafka teringat sesuatu sekaligus penasaran diapun langsung menanyakannya pada Karin.
"sayang sambil nungguin makanan datang, aku pengen nanyain sesuatu deh sama kamu?" ucap Rafka.
"nanya apa?" tanya balik Karin.
"sejak kapan kamu punya lingerie? setahuku saat kita belanja buat hantaran kamu gak beli deh."
"oh itu dari Lusi nyuruh aku pakai baju itu, tadinya aku pura-pura gak tau tentang malam pertama dan juga tentang nganu-nganu jadi dia jelasin semuanya dari mulai pakaian sampai adegan erotis, Lusi sama Raisa itu suka banget nonton film yang ada adegan suami istri, padahal aku juga nonton pas mau nikah sama ka.. uuppss." ucap Karin dengan polosnya.
karin menutup mulutnya, dia lupa kalau sebenarnya dia menonton film dewasa sebelum menikah dengan Rafka karena penasaran seperti apa malam pertama.
" sayang kamu ngapain harus nonton yang kayak gitu segala? kan kita bisa langsung praktek." ucap Rafka.
Karin menutupi kepalanya dengan selimut, sungguh sangat malu pipinya bahkan langsung bersemu merah, Karin merutuki kebodohannya.
" ternyata istriku yang polos mulai nakal ya." goda Rafka.
"siapa yang nakal? enggak kok." kilah Karin.
" hahaha sayang.. sayang .. pantesan aja aku liat penampilan kamu beda tapi pas praktek kaku." ucap Rafka gencar menggoda Karin.
"emang iya?" tanya Karin cengo.
Karin malah bingung sendiri, Rafka semakin gemas pada istrinya itu dia mencubit pipi Karin sampai merah saking geregetnya, istrinya itu polos tapi kepo.
"ihh sakit." rengek Karin.
"abisnya kamu gemesin sih." gombal Rafka.
Karin memukul Rafka dengan bantal sehingga terjadilah perang bantal antara keduanya, peperangan berhenti saat bel berbunyi.
ting tong.. Ting tong..
"kayaknya makanan udah datang, kamu tunggu disini biar aku yang mengambilnya." ucap Rafka.
Karin mengangguk dan merapikan pakaian serta rambutnya yang acak-acakan, Rafka turun dari ranjangnya menuju pintu lalu mengambil dua lembar uang berwarna merah kepada karyawan yang mengantarkan makanan dan juga salep pesanannya.
dengan cekatan Rafka menata makanan di atas meja, Karin hanya duduk menyaksikan suaminya yang sibuk menata makanan dia juga merasa bersalah seharusnya dia yang mengerjakannya namun apalah daya bagian donatnya masih terasa ngilu bahkan untuk berjalan satu langkah saja rasanya nano-nano .
" sayang kita makan dulu nanti kalau udah makannya mas obatin donatnya biar gak sakit lagi." ucap Rafka.
"iya, awas ya kalau belum sembuh jangan minta dulu kalau kamu ngelanggar aku gak mau lagi nganu-nganu." ancam Karin.
"iya iya Kanjeng ndoro." ucap Rafka dengan membungkukkan badannya.
Karin terkekeh geli melihat Rafka, sang suami menggendong Karin menuju meja makan yang sudah di sediakan oleh Rafka, keduanya sarapan pagi dengan romantis tanpa ada gangguan dari para prajuritnya.