
Rafka di gotong oleh Reza dan Zidan ada beberapa orang juga yang membantu memasukkan Rafka ke dalam mobil. sebelum pergi Reza memerintahkan Zidan untuk membereskan pekerjaannya, dia juga menyuruh manager ikut membantu Zidan selain mengurus pekerjaan Zidan dan juga manager harus melihat kondisi para korban di rumah sakit.
Zidan dan manager pabrik menganggukkan kepalanya. Reza langsung masuk ke dalam mobil, dia mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan sedang menuju mansion Rafka.
*****
sejak pagi Karin merasakan gelisah dihatinya, perasaannya tidak enak pikirannya selalu tertuju pada dua anak kembarnya. saat sedang bekerja pun Karin tidak bisa fokus, beberapa piring dan juga gelas pecah saat dia mengantarkan pesanan ke meja pengunjung. Lusi dan Raisa merasa Karin sedang tidak baik-baik saja, mereka membawa Karin ke ruangan Lusi.
"Rin kamu kenapa daritadi ngelamun terus? apa ada masalah?" tanya Lusi.
"entahlah sejak pagi perasaanku tidak enak, aku kepikiran terus si kembar." jawab Karin lesu.
"kenapa kamu gak telpon aja pak Rafka?" tanya Raisa.
"tadi sekitar jam 10 aku menelpon mas Rafka tapi tidak diangkat, mungkin mas Rafka sibuk karena banyak pekerjaan kalian juga tau kan kalau aku dan mas Rafka bisa menikah jika pekerjaannya selesai, katanya biar saat kita sudah sah menikah bisa honeymoon bebas tanpa harus di kejar oleh pekerjaan." keluh Karin.
"yaudah, kamu istirahat aja dulu kalau kamu maksain kerja aku takut kamu gak fokus lagi, bukannya takut piring dan gelas ku pecah aku hanya takut gara-gara kamu gak fokus malah membahayakan diri kamu sendiri." ucap Lusi.
"iya Rin bener kata Lusi, lebih baik kamu tenangin dulu pikiran kamu dan jangan berfikir negatif dulu tentang si kembar mungkin mereka masih di sekolah." ucap Raisa.
Karin mengangguk lemah, Entah kenapa perasaannya tidak karuan semakin dia menenangkan pikirannya semakin dia resah pula.
Lusi dan Raisa pamit untuk melanjutkan pekerjaannya sedangkan Karin dia beristirahat di sofa ruangan Lusi, dia mondar mandir bergerak gelisah.
Karin mengotak-atik ponselnya dia memutuskan untuk menghubungi Reza menanyakan kabar Rafka dan si kembar.
Reza mendengar ponselnya berdering, dia membaringkan kakaknya terlebih dahulu yang di bantu oleh satpam sebelum mengangkat telponnya.
Reza mengambil ponsel di saku jasnya, disana tertera nama Karin. Reza juga berniat menghubungi Karin setelah Rafka di bawa ke kamarnya, namun sebelum Reza menghubunginya Karin sudah lebih dulu menelponnya.
"Hallo, mba."
"Reza aku mau bertanya? apa mas Rafka nya ada? tadi aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat, aku mau bertemu dengan anak-anak dan meminta izin padanya." cecar Karin.
"mba tadi aku juga sudah berniat menelpon mu untung saja kau sudah lebih dulu menghubungiku, kak Rafka sekarang sedang pingsan tak sadarkan diri dan si kembar hilang mba dari sekolahnya saat pak Dani menjemputnya, bisakah mba datang ke mansion? kak Rafka sekarang sedang butuh mba, dia syok mendengar si kembar hilang." jelas Reza dengan menggebu.
"APA?? si kembar hilang?! baik aku akan segera ke sana." pekik Karin.
Karin langsung menutup telponnya, dia sangat syok mendengar kabar si kembar yang hilang air mata luruh dari pelupuk matanya, dengan tergesa-gesa dia memanggil Lusi dan Raisa.
"Lusi, Raisa." teriak Karin sampai para pengunjung pun melihat ke arahnya.
"ada apa Karin? kenapa kau berteriak?" tanya Lusi menghampiri Karin di susul oleh Raisa.
"Lusi tolong antar aku ke mansion mas Rafka, si kembar hikss.." ucap Karin dengan nafas yang tercekat.
"ada apa dengan si kembar Karin?" desak Raisa.
"si kembar hilang hikss.. " jawab Karin menangis tersedu.