
Mirna langsung pergi sebelum otaknya traveling memikirkan hal tentang nganu-nganu, bisa bahaya kalau sampai dia ingin melakukannya.
'hiii mengerikan sekali suara lucnut itu, lebih baik aku mendengar suara hantu daripada mendengar suara erotis dari mulut mereka berdua' batin mirna.
Floresia mengakhiri ci***n panas itu, Rajas menatap Floresia dengan mata yang mulai sayu menahan sesuatu yang harus ia tuntaskan.
"kau selalu saja tidak sabar." ucap Floresia.
"oh, ayolah aku sudah tidak tahan." ajak Rajas.
"baiklah, kita pergi ke ruang yang bersih, tidak mungkin juga kita melakukannya sedangkan ada dia disini." tunjuk Floresia ke arah Sarah.
Rajas langsung menarik tangan Floresia mencari tempat yang bersih, Mirna melihat sekeliling rumah dengan mengendap-endap memastikan bahwa Floresia pergi dari tempat Sarah, perlahan dia masuk ke dalam menemui Sarah.
"nyonya bangun." ucap Mirna menepuk pipi Sarah pelan.
Sarah langsung membuka matanya, Mirna membantu merapikan rambut Sarah dan memberinya minum.
"maaf nyonya jika saya lancang, biarkan saya membantu merapikan penampilan mu." ucap Mirna.
Sarah senyum sebagai jawaban karena ia masih lemas, Mirna dengan cekatan merapikan penampilan Sarah agar terlihat jauh lebih baik.
"bagaimana apa kau sudah merekam percakapan kami tadi?" tanya Sarah.
"sudah nyonya" jawab Mirna.
"lalu dimana anakku?"
"dia ada di sekitar sini nyonya, jika nanti mereka datang aku minta kau jangan takut kami akan segera membantumu keluar dari sini." terang Mirna.
Mirna keluar dari tempat Sarah, dia menghubungi seseorang di luar sana.
"sudah aman tuan, sekarang mereka sedang nganu-nganu tua ehm maksudku mereka emm.. aish sudahlah tuan pasti mengerti mereka sedang melakukan apa, jadi cepatlah kemari aku tidak tega melihat kondisi nyonya yang baru saja di Siksa oleh iblis itu." ucap Mirna.
"baik, nanti kau tunjukkan dimana dia setelah itu kita bawa pergi ibuku dari sana." sahut seseorang dari seberang sana.
Mirna mematikan telponnya, dia menunggu tuannya datang dan memastikan Floresia tidak keluar dari tempat mereka nganu-nganu.
Tuan yang di maksud Mirna adalah Zain, Rafka, Zidan dan juga papa William sedang menunggu laporan dari Mirna, setelah mendapatkan intruksi untuk masuk mereka keluar dari mobil. Bukannya mereka tidak mampu untuk melawan para penjaga yang dibayar oleh Floresia, namun masalahnya adalah para penjaga itu adalah para mantan mafia yang gagal insyaf jika saja hanya preman ataupun bodyguard sudah pasti papa William sendiri yang akan menghabisinya.
sebelum bertindak Rafka menggali terlebih dahulu informasi yang dia dapatkan, saat mendapatkan lokasi Floresia Rafka diam-diam mengawasi tempat tersebut bersama Zidan, mereka menghadang Mirna yang hendak masuk ke dalam rumah tersebut dengan menyogoknya melebihi bayaran yang Floresia berikan dengan syarat dia harus mengikuti arahan Rafka.
"Rafka kau sudah menyiapkan suntikannya?" tanya papa William.
"sudah pa." jawab Rafka mantap.
"Zidan kau dan Zain masuk ke bagian belakang temui Reyhan, biar aku dan papa menyerang mereka yang berjaga di depan." titah Rafka.
Zidan dan Zain mengangguk, tapi sebelum mereka masuk keduanya tertawa membuat papa William dan Rafka mengernyitkan dahinya.
"kenapa kalian tertawa? cepat masuk agar cepat selesai masalahnya." geram Rafka.
"ya ampun kak, gue kalo liat Reyhan bawaannya pengen ngakak Mulu." ucap Zidan tertawa.
Rafka dan papa William juga ingin tertawa namun mereka berusaha menahannya, Zain dan Zidan langsung bergegas melaksanakan tugasnya yaitu pergi ke bagian belakang rumah.