
Siang hari...
Karin kini bersiap memakai baju tertutup dan juga jilbabnya, dia turun ke bawah menghampiri pak Dani yang sudah berdiri di samping mobil menunggu Karin.
"ayo pak" ajak Karin.
Pak Dani membukakan pintu mobil belakang mempersilahkan Karin masuk, setelah memastikan Karin aman dan nyaman pak Dani menyalakan mesinnya melajukan mobilnya menuju kantor Adijaya.
Di kantor.
Rafka memeriksa berkas yang di berikan oleh Zidan dan juga sekertaris barunya yang bernama Dimas, saat sedang sibuk menandatangani berkas yang sudah di bacanya pintu di ketuk dari arah luar.
Tok..tokk
"masuk" sahut Rafka dari dalam.
Pintu terbuka muncullah Dimas membungkukkan badannya di hadapan Rafka.
"ada apa?" tanya Rafka.
"hari ini Model peluncuran produk sabun terbaru kita sudah datang, beliau sudah menunggu di luar." ucap Dimas.
"suruh dia masuk." titah Rafka.
"baik Tuan."
Dimas keluar dari ruangan Rafka mempersilahkan sang Model masuk ke dalam ruangan CEO, dilihatnya Vita yang menjadi model brand ambassador sabun kecantikan memakai baju ketat dan memakai kacamata hitam yang bertengker di hidungnya jangan lupakan kedua gunung yang hampir menyembul setengahnya.
' Astagfirlah' batin Rafka.
'ya Allah ini orang urat malunya udah kejepit kali ya, kagak ada malunya banget' batin Dimas.
"lama tidak bertemu tuan Rafka." ucap Vita berdiri di hadapan Rafka.
"silahkan duduk." ucap Rafka tanpa melihat ke arah Vita.
Vita duduk di sofa panjang menyilangkan kedua kakinya, di dengan sengaja memperlihatkan kedua gundukannya kepada Rafka namun tidak di tanggapi sama sekali oleh Rafka.
Rafka membawa berkas di tangannya, dia berjalan ikut bergabung duduk dengan Vita namun bedanya dia duduk di kursi tunggal. Rafka langsung menjelaskan isi dari berkas di tangannya dengan detail, dia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Vita rasanya dia jijik melihat penampilannya. Bak ulat bulu Vita menggeser-geser duduknya agar dekat dengan Rafka, dia dengan beraninya menempelkan jari telunjuknya di paha Rafka.
' beraninya dia' batin Rafka.
"bisakah kau turunkan tanganmu dariku?" tegas Rafka.
"kalau aku bilang tidak mau? kau mau apa?" ucap Vita dengan genit.
"turunkan tanganmu atau aku akan bersikap kasar padamu!" tekan Rafka.
"jangan munafik, kau menimatinya bukan? Aku tahu istrimu sedang mengandung, pasgi dia tak bisa memuaskanmu." goda Vita.
Melihat Rafka yang diam saja membuat keberanian Vita semakin naik, dia bangkit dari duduknya mencondongkan tubuhnya lalu duduk di pangkuan Rafka.
Ceklek.
Rafka mendorong tubuh vita dari atas pangkuannya saat pintu terbuka, Vita memegang pantatnya yang sakit.
"Daddy kenapa aunty itu?" tanya Kenzi.
"Daddy juga tidak tahu." kilah Rafka.
Kenzo memicingkan matanya, dia adalah anak yang genius pastinya dia mengerti jika ada sesuatu yang terjadi sebelum dia dan adiknya datang, melihat wajah Rafka yang tegang dan juga ketakutan membuatnya semakin yakin kalau Rafka sedang menyembunyikan sesuatu.
"auuhh sakit sekali." ringis Vita berdiri dari duduknya.
" semuanya sudah selesai, kau boleh keluar." usir Rafka.
Vita pergi dengan menghentakkan kakinya, tujuannya datang menemui Rafka adalah untuk menggodanya bukan semata-mata karena pekerjaan.
"lihat saja takkan kubiarkan kau lolos dari genggamanku, aku jamin kau pasti jatuh ke dalam bujuk rayuku." gumam Vita tersenyum licik.
Rafka membawa si kembar duduk di sofa, dia melihat wajah Kenzo berbeda dari biasanya yang ia yakini Kenzo meminta penjelasan darinya.
"jangan lihat Daddy seperti itu Kenzo, tadi itu model untuk peluncuran sabun kecantikan produk baru Daddy tapi tadi dia menggoda Daddy." jelas Rafka.
"memanngnya apa yang Aunty itu lakukan Daddy?" tanya Kenzi yang belum paham pembahasan kakak dan Daddynya.
"simak saja nanti juga kau akan tahu." ucap Kenzo.
Rafka kini seperti sedang di interogasi oleh pengawal istrinya, Kenzo tak akan membiarkan Bundanya terluka meskipun itu ayahnya sendiri dia tidak akan tinggal diam.
"apa Daddy diam saja saat dia genit pada Daddy?" selidik Kenzo.
"Daddy diam bukan berarti suka ataupun mau tapi Daddy jijik, ini juga baju Daddy mau buang habisnya udah ketempelan ulet bulu." ucap Rafka.
"awas saja kalau Daddy macam-macam di belakang Bunda!!!" Ancam Kenzo.
"tidak akan pernah Daddy macam-macam sama Bunda dia berharga bagi Daddy, kamu jangan khawatir Daddy akan pecat model itu dan menggantinya dengan yang lain bagaimana?" ucap Rafka meminta persetujuan Kenzo.
"deal." ucap Kenzo mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Rafka.