
"CUKUP!!" pekiknya.
"sayang kamu kenapa?" tanya Rafka heran melihat Karin menutup matanya sambil berteriak.
"bisa gak sih mas kamu ini jangan posesif kayak gini terus?"
"memangnya kenapa? aku bersikap biasa saja kok sayang."
"aku pengennya bebas sama seperti saat aku belum kenal kamu, bebas melakukan apapun tanpa kamu larang ini dan itu." tegas Karin dengan kesal.
"aku ngelakuin itu karena aku ini sayang sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu, apalagi sampai kamu kepincut pria lain."
"ya enggak gini juga, sikap kamu yang posesif kayak gini malah buat aku gak nyaman mas, bisa aja kalo sikap kamu yang seperti ini terus aku malah pindah ke lain hati."
"apa karena aku seorang Duda yang punya anak dua, jadi kamu dengan mudahnya bilang ingin pindah ke lain hati?!!" tanyanya marah.
"bukan seperti itu mas."
Rafka kesal dia langsung masuk ke dalam mobil. Karin mengejar Rafka dan mengetuk pintu mobilnya, namun Rafka seolah tidak peduli dengan Karin. dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Karin berteriak memanggil Rafka namun nihil mobil Rafka terus menjauh dari hadapannya.
"mas Rafka, kamu salah paham mas." gumamnya lirih.
Di dalam mobil Rafka menggerutu kesal, dia tidak terima perhatian yang dia berikan ternyata di artikan posesif oleh Karin.
"dasar wanita, selalu saja maunya menang sendiri !! gak bisa bedain apa Mana posesif dan mana perhatian? kalo aku posesif sama Karin, gak akan aku biarkan dia kerja langsung aja aku nikahi dan mengurungnya di dalam kamar, akan ku buat dia terus beranak."
Rafka mencengkeram setirnya dengan kuat, dia melihat jalanan kosong, Rafka menginjak pedal nya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
****
Karin masuk ke dalam rumahnya dengan lesu. Raisa melihat Karin sudah datang langsung menghampirinya.
"Karin." panggil Raisa.
"iya Sa?" jawab Karin.
"kamu kenapa?" tanya Raisa heran melihat Karin yang nampak lesu.
"aku gak papa kok, cuman ada masalah aja sedikit." jawab Karin.
"kamu ada masalah sama pak Rafka?" tanyanya lagi.
Karin menganggukkan kepalanya, dia langsung memeluk Raisa dan air matanya keluar tanpa bisa di cegah.
"kalau mau cerita aku siap dengerinnya Rin, kalau gak mau juga gak papa." ucap Raisa dengan mengusap punggung Karin.
Raisa melepas pelukannya dari Karin, dia membawa Karin untuk duduk di kursi ruang tamu.
Karin menceritakan masalahnya pada Raisa, dia selalu berbagi masalah dengan para sahabatnya yaitu Raisa dan juga Lusiana. mereka berteman sejak SMP ketiganya sama-sama tidak memiliki ibu, bedanya Karin dia sudah tidak memiliki keduanya.
Raisa mencerna setiap ucapan Karin, dia memang tahu bagaimana sikap Rafka yang bucin pada Karin. dia juga tahu betapa tidak nyamannya Karin karena posesif nya seorang Rafka, tapi disini juga dia memaklumi sikap keduanya di sisi lain Rafka adalah pria yang statusnya Duda yang pernah gagal dalam membina rumah tangga, di sisi lain juga Karin belum pernah berpacaran jadi wajar saja jika mereka belum bisa memahami karakter masing-masing.
"Karin, aku ngerti perasaan kamu. tapi, kamu juga disini harus mengingat bahwa pak Rafka adalah seorang Duda yang pernah gagal dalam hal percintaan, mungkin dari sikap posesif yang dia tujukan itu ada alasannya. kamu juga baru pertama kali memiliki kekasih, jadi menurutku wajar aja sih Rin kalo kamu belum terbiasa dengan sikap Pak Rafka ."
Karin setuju dengan apa yang di ucapkan Raisa, memang benar adanya jika dia memang belum memahami betul seperti apa karakter Rafka.
"ya udah, kamu tinggal minta maaf saja."
"iya, besok aku mau minta maaf sama mas Rafka."
Saat keduanya sedang berbincang datanglah Kiki dan juga Surya yang baru datang dari Mushola.
"Assalamualaikum" ucap keduanya.
"waalakumsalam salam." jawab Karin dan Raisa.
"teh Karin, kenapa baru pulang?" tanya Kiki.
"iya tadi teteh mampir dulu ke rumah mas Rafka, Main sebentar juga sama si kembar." jawab Karin.
"Bapak juga ada di sini?" tanya Karin pada Surya.
"iya nak Karin." jawab Surya.
"Rin, sebelumnya aku mau pamit sama kamu, aku Sama bapak mau cari kontrakan buat tinggal nanti. terimakasih ya, kamu sudah ngizinin aku tinggal sama kamu." ucap Raisa.
Karin kaget saat Raisa bilang ingin pamit padanya.
"loh kenapa Sa?"
"sekarang aku sama bapak tinggal berdua, bapak udah memutuskan pisah sama Bu Fatma, jadi aku mau cari kontrakan buat kami tinggal Rin."
"cerai? Ris maaf, kalau boleh aku tau? bukannya kamu bilang kamu masih punya hutang sama juragan itu ya?"
Raisa tanpa ragu dia menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi, dia juga bilang sama Karin kalau dia sudah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Reza.
"jadi gitu ceritanya." ucap Raisa.
"oh gitu, ya udah Bapak Sama kamu tinggal di sini aja sa, aku gak keberatan kalo kalian tinggal disini. nanti aku bicara sama Pak RT nya, lagian aku juga udah anggep Bapak kayak Bapakku sendiri Sa, kamu juga udah kayak sodara bagi aku. kamu setuju kan Ki kalau bapak sama Raisa tinggal bareng kita?" ucap Karin dengan melirik ke arah Kiki dan meminta persetujuannya.
"iya teh Kiki mah setuju aja, malah Kiki seneng di rumah jadi tambah rame." ucap Kiki senang.
"tapi nak, Bapak gak mau ngerepotin kamu. apalagi Raisa udah lama tinggal sama kamu, bapak gak enak sama nak Karin." ucap Surya.
"Jangan menolak Pa, anggap saja ini rumah bapak dan anggap saja aku sama Kiki anak bapak juga, kita berdua udah lama gak ngerasain punya Bapak. jadi, mau ya tinggal bareng kami disini?"
Surya melirik ke arah Raisa. Raisa mengangguk, akhirnya Surya menyetujui permintaan Karin tersebut.
"terimakasih nak Karin, sudah mengizinkan bapak tinggal disini."
"sama-sama Pak, Bapak jangan sungkan sama kita berdua ya, bapak tidurnya di kamar orangtua Karin aja disana kamarnya kosong dan juga ada baju bapak yang masih bisa di pakai."
"iya nak"
"makasih ya Rin udah ngizinin aku sama Bapak tinggal disini."
"sama-sama sa, sekarang kamu bawa bapak masuk ke kamar sekalian juga baju yang di belikan Reza kamu beresin aja ke lemari yang masih kosong."
Raisa tadi juga bercerita kalau Reza membelikan baju untuknya dan untuk Bapaknya. Raisa beranjak dari duduknya dan mengajak Surya untuk masuk ke kamar orang tua Karin, sedangkan Karin dan Kiki masuk ke kamarnya masing-masing.