
pagi hari Karin bangun melihat jam di layar hp nya menunjukkan pukul 05:30 dia kesiangan sholat subuh, Karin langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan sedikit berlari ke kamar mandi melaksanakan ritual mandinya dan mengambil wudhu, selesai berurusan dengan kamar mandi Karin langsung memakai baju kerjanya dan melaksanakan sholat subuh meskipun telat.
Raisa sedang menata sarapan paginya di meja makan di bantu oleh Surya, Kiki datang menghampiri meja makan tapi dia tidak melihat kakaknya.
"teh Raisa dimana teh Karin? tumben teh Karin jam segini belum keluar?" tanya Kiki.
"mungkin sebentar lagi datang Ki." jawab Raisa.
saat Raisa hendak menyusul Karin ke kamarnya ternyata karin sudah datang ke meja makan.
"baru aja aku mau nyusulin Rin." ucap Raisa.
"aku kesiangan Sa, kenapa kamu gak bangunin aku sih sa jadinya kan aku gak bisa bantuin kamu masak." ucap Karin tidak enak.
"gapapa aku di bantuin bapak kok masaknya, tadi aku udah bangunin kamu cuman jamunya yang gak bangun." ucap Raisa.
"emang iya?"
Raisa mengangguk sebagai jawaban, Surya melihat mata Karin agak membengkak dia tau kalau anaknya itu habis menangis.
"nak kenapa dengan mata kamu? apa semalam kamu menangis?" tanya Surya.
Karin dan Raisa saling menatap satu sama lain, Karin bingung harus menjawab apa pada Surya.
"kalau kamu gak mau cerita ya gapapa, bapak cuman mau bilang sama kamu kalau kamu lagi punya masalah kamu bisa cerita sama bapak, jangan merasa sungkan bapak sudah anggap kamu anak sendiri sama seperti Raisa." ucap Surya dia tak mau memaksa jika Karin tidak mau bercerita padanya.
Kiki melihat Karin yang menunduk dan mengaduk-aduk makanannya tanpa ada yang dia siapkan ke mulutnya.
"teh kenapa makanannya gak di makan? kalo diaduk terus tapi gak di makan gak bakalan bisa kenyang loh teh." tegur Kiki.
Karin memaksakan senyumnya pada Kiki, dia pun menyuapkan nasi ke mulutnya walaupun rasanya hambar di lidahnya mengingat semua kesedihannya.
"teteh kalo ada masalah sok cerita sama Kiki, sekarang Kiki udah dewasa jangan menampung beban semuanya sendiri dari dulu teteh sanggup menanggung semua beban yang menumpuk di pundak teteh tanpa bisa berbagi pada siapapun, Kiki tau teteh ada masalah tapi dengan teteh diam seperti ini malah membuat kesehatan teteh menurun." ucap Kiki.
"cerewet" ucap Karin dengan mata yang mulai berkilat bening.
' ternyata adikku sudah tumbuh dewasa' batin Karin merasa haru.
"nanti aja ceritanya, sekarang Karin sama Raisa harus kerja takutnya kesiangan." ucap Karin.
"ya sudah, kalian hati-hati kerjanya jangan melamun." pesan Surya.
"iya pak" jawab Raisa.
Raisa dan Karin bangkit dari duduknya dengan membawa piring kotor lalu meletakkannya di tempat pencucian, Karin membawa tas kecilnya dan juga sepatunya.
Raisa sudah bersiap menunggu Karin sebelum berangkat, tadinya Reza ingin mengantarnya bekerja namun Raisa menolaknya dengan alasan dia tidak bisa meninggalkan Karin sendirian dengan kondisi yang sedang tidak baik-baik saja, karena dia yakin jika Reza ingin mengantarnya pergi ke cafe pasti dia membawa motor bukan mobil yang bisa menampung banyak orang, tidak mungkin dia berdempet tiga di motor sport Inul milik Reza.