
Aftan bergerak menyambut kedua orang tuanya, menyalim takzim dan memeluk dengan erat satu persatu.
"Maaf Mom, aku tidak bisa melindunginya dengan baik" ucap Aftan menunduk penuh penyesalan.
Alex hanya memandang sejenak, lalu melanjutkan langkah mendekati putri satu-satunya yang tergeletak tak berdaya.
"Maaf, Daddy datang terlambat" ucap Alex begitu berat, bahkan raut wajahnya berubah begitu susah melihat keadaan Afita.
Reyna tak kuasa lagi untuk menahan tangisnya, Aftan mendampinginya mendekati Afita, menggenggam tangannya erat dan masih terus menangis yang berusaha untuk di tahannya.
"Mommy tau, kamu bukan wanita yang lemah sayang, bertahanlah" ucapnya lirih.
Zafian tidak bisa bergerak, hanya bergeser sedikit memberikan ruang untuk mommy Reyna, sedangkan Alex sangat tau apa yang tengah dirasakan oleh menantunya.
"Kami tidak menyalahkan mu, dan aku tau, ini sangat berat buatmu" ucap Alex sambil merangkul bahu Zafian.
Disaat inilah, Zafian tidak kuasa untuk menahan beban di hatinya, segera memeluk Alex dan mengucapkan kata maaf berulang kali, hingga Reyna akhirnya berdiri dan ikut menenangkan Zafian.
Ailina dan Evan menyusul datang tak lama kemudian, lalu memeluk Alex dan Reyna yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.
"Aku sudah menghentikan Racun untuk tidak menyebar di tempat-tempat yang vital Dad, tapi mungkin hanya menghambatnya saja, Racun itu langka dan sangat kuat" ucap Ailina memberikan penjelasan akan keadaan Afita.
"Hem, aku bisa merasakannya" sahut Alex yang kini menggunakan tenaga dalamnya untuk memeriksa keadaan putrinya.
"Bagaimana kalau Daddy dan Ailin menggabungkan kekuatan, mungkin akan menimbulkan hasil" sahut Zafian memberikan saran.
"Akan kami coba" sahut Ailina yang segera bersiap di samping Alex.
Alex menatap Ailina sekejab, lalu segera mendekat dan kemudian menggabungkan kekuatannya untuk di masukkan ke dalam tubuh Afita, perlahan tapi pasti kekuatan kolaborasi yang cukup besar masuk perlahan.
Nampak tubuh Afita sedikit bergetar, namun menunjukkan rona kulit yang sedikit lebih segar, Reyna dan Zafian tersenyum senang, sementara Evan dan Aftan bersiap kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Aku harap ini akan berhasil" ucap lirih Aftan.
Evan hanya mengangguk penuh dengan harapan, sementara Zafian berdoa tiada henti untuk hasil yang terbaik untuk sang istri.
Hingga di luar dugaan, tiba-tiba saja Alex nampak menghentikan kekuatannya, begitu juga dengan Ailina, lalu keduanya saling menatap sesaat dan mengatur nafas kembali untuk menyimpan kekuatannya.
"Ada apa?" Tanya Reyna saat melihat ada yang tak biasa.
"Tidak ada Mom, kita harus beristirahat, besok kita lanjutkan kembali" ucap Ailina.
Reyna hanya terdiam, dari sorot mata suami dan keponakannya, dia bisa membaca kalau ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan.
Tak lama kemudian, Anita masuk, karena hari sudah lewat tengah malam, dirinya berinisiatif untuk menggantikan penjagaan Afita.
"Semua bisa beristirahat dahulu, biar saya yang akan menggantikan" ucap Anita.
Reyna tersenyum, menyambut kedatangan Anita dan mengajaknya duduk sejenak.
"Terimakasih, sudah membantu kami, maaf kalau keadaan kami malah merepotkan" ucap Reyna.
Anita menggelengkan kepala, setetes air mata tampak jatuh disana.
"Saya yang harus meminta maaf, tidak bisa menjaga Afita dengan baik"
Reyna memeluk Anita sejenak, saling menumpahkan rasa dan doa yang terbaik untuk Afita dan juga calon cucunya.
Zafian tidak ingin meninggalkan kamar sang istri, hingga dirinya tetap duduk dan menemani Afita bersama sang Bunda.
"Beristirahatlah dengan baik Zaf, jangan sampai kau kelelahan dan jatuh sakit, kasihan Afita" ucap Alex sebelum akhirnya keluar kamar bersama dengan Reyna.
"Ada yang ingin aku bicarakan" ucap Alex saat berada di antara Ailina dan istrinya, Evan dan Aftan yang tak sengaja mendengar hanya saling pandang dan menghentikan langkahnya saat hampir memasuki kamar masing-masing.
"Jadi Dady mengetahui hal ini sejak awal?" Tanya Ailina ketika sampai di dalam kamar, sementara Aftan dan Evan hanya terhenti sampai di pintu.
"Awalnya aku hanya menduganya saja, kenapa Kakek buyutmu menyegel semua kekuatan itu tanpa sisa, dan rupanya_" ucap Alex tertahan.
"Hem, aku akan bertanggung jawab" sahut Alex dengan wajah penuh beban pikiran.
"Ada apa sebenarnya?" Sahut Reyna yang kini semakin penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan.
"Ailin atau Dedy Alex yang menceritakan?" Ucap Ailina memberikan penawaran.
"Sebaiknya kamu beristirahat Ailin, biar aku yang menjelaskan semuanya" jawab Alex yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur.
"Baik, Ailin pamit untuk beristirahat dulu Dad, Mom" ucap Ailina lalu mendapat sebuah kecupan selamat malam di kening dari Reyna dan Alex.
"Kita bersihkan diri dulu, akan aku ceritakan nanti sebelum kita beristirahat" ucap Alex seolah tau kalau sang istri saat ini tengah penasaran setengah mati.
Tak lama keduanya kini berakhir di atas tempat tidur, masih menunggu yang ingin di dengar dari suaminya, Reyna duduk di pinggiran tempat tidur.
"Ceritakan sekarang honey, aku ingin tahu apa yang terjadi dengan Anak kita" ucap Reyna sudah tidak sabar lagi.
"Kita sudah tau kalau Afita mengandung bukan?" Ucap Alex setelah menarik nafas panjang.
"Iya, tentu saja, lalu?" Tanya Reyna makin penasaran.
"Kekuatan Zafian melekat kuat pada janin itu, dan itu sangat mendominasi, kekuatan klan keluarga kita kalah di tubuhnya"
"Tenaga dalam Zafian memang sangat kuat, dan itu tidak masalah kalau memang harus di turunkan ke anak keturunannya, lalu di mana letak masalahnya?" Tanya Reyna semakin bingung.
"Kekhawatiran ku terjawab hari ini, saat kekuatanku dan Ailina berkolaborasi, akhirnya apa yang aku takutkan terjadi"
"Honey, jangan berputar-putar, ada apa sebenarnya?" Tanya Reyna semakin tak sabar.
"Cucu kita mendominasi kekuatan hitam, dan itu berasal dari Zafian"
DEG
Seketika Reyna terperanjat tak percaya, dia sangat tau bahaya apa yang tengah di hadapi saat ini.
"Astagfirullah, dan itu Artinya_?" Ucap Reyna.
"Yah, aku yang bersalah, melepaskan segel itu begitu saja dari tubuh Zafian, tanpa mengindahkan kekhawatiran yang sebenarnya aku rasakan saat itu" jawab Alex menyesali apa yang sudah di lakukannya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan honey, bagaimana kita bisa menghilangkan kekuatan hitam itu dari tubuh cucu kita?" Ucap Reyna sambil menangis ketakutan.
"Aku masih belum mengerti, ini semua salahku"
"My God, kalau Edward dan Alena sampai tau, mereka akan sangat murka, apalagi berimbas kepada keturunan keluarga kita nantinya" ucap Reyna.
"Aku akan bertanggungjawab, kenapa aku sampai ceroboh seperti ini, waktu itu aku hanya berpikir egois, demi keinginanku Zafian menguasai kekuatan hebat untuk melindungi Afita, aku sampai tidak berpikir sejauh ini"
"Lalu, bagaimana dengan Zafian, kekuatannya, apa mungkin dia bisa mengontrol kekuatan hitam itu, aku yakin kekuatan itu akan menggerogoti dirinya sebelum di musnahkan" ucap Reyna semakin nampak cemas.
"Aku tau, mau tidak mau, aku harus menghilangkannya, dan itu artinya, kemungkinan Zafian akan kehilangan semua tenaga supranaturalnya kembali"
"Bukan hanya itu yang aku takutkan, bagaimana dengan cucu kita?" Tanya Reyna.
"Aku berharap Edward masih mau membantuku dalam hal ini" sahut Alex dengan wajah cemas yang sangat terlihat.
"Aku akan memohon padanya kalau memang itu perlu" sahut Reyna.
Alex memeluk istrinya, mencium kening dan mengajaknya untuk mengistirahatkan tubuh, walaupun pikirannya begitu keras bekerja.
"Kita istirahat saja dulu, besok aku dan Ailina akan berusaha memblokir racun itu, sepertinya apa yang akan kita lakukan akan berhasil, setelah itu, kita pikirkan masalah yang lain" ucap Alex.
Hayuk..waktunya HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.