
Hampir setengah jam berlalu, Firman berjalan mondar-mandir sambil terus menghubungi beberapa orang kepercayaan untuk membantunya.
Bel Apartemen berbunyi, Firman segera berlari menuju pintu dan segera membukanya.
"Akhirnya kalian datang" ucap Firman setelah menjawab salam.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zafian langsung menuju keruang tengah bersama dengan Afita.
"Naura tidak bisa ku temukan dimana pun sejak tadi, Handphone dan barang-barang pribadi masih utuh di tempatnya, ini tidak biasanya terjadi" Firman memberikan penjelasan.
"Apa sebelumnya kalian ada masalah?" Tanya Afita.
"Tidak, kami baik-baik saja, hanya saja_"
"Apa?" Tanya Zafian mengehentikan jari tangan yang ingin menghubungi seseorang.
"Maaf aku belum sempat bercerita ke kalian, ini juga atas permintaan Naura untuk tidak merepotkan kalian" ucap Firman.
"Oh my God, masih saja Naura punya pikiran gila seperti itu, sudah aku katakan berkali-kali kalau dia adalah anggota keluarga kami dan juga keluarga Nugraha" sahut Afita merasa jengkel dan khawatir.
Firman lalu menceritakan apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan Naura dan juga keluarga besarnya yang berhasil menemukannya dengan maksud tertentu.
"Bre-ng-sek, aku akan menghubungi paman Raka, kita sepertinya membutuhkan bantuannya" ucap Zafian yang kini sudah terlihat menghubungi Raka.
Sementara Zafian berbincang serius dengan Raka, Afita berkeliling mengamati setiap jengkal ruangan, dan benar saja ada sesuatu yang ditemukannya tepat di belakang pintu utama.
"Apa ini?"
Afita mengambil sapu tangan yang tergeletak disana, dilihat dengan teliti dan tercium bau mencurigakan.
"Bisa kalian lihat kan ini?" Afita berjalan cepat mendekati Sang suami yang masih bersama dengan Firman.
Zafian segera memeriksa, begitu juga dengan Firman yang seketika sangat terkejut.
"Ini obat bius, Ba-ng-sat, mereka benar-benar menculik Naura, apa yang harus kita lakukan Zaf?" Firman nampak begitu panik.
Tak lama kemudian datang seorang anak buah Raka yang ditugaskan khusus untuk membantu mereka, rupanya anak buah Raka yang tersebar di beberapa kota segera melakukan tindakan sesuai yang diperintahkan oleh majikan.
"Maaf, saya sudah bisa memastikan lokasinya" ucap anak buah Raka sambil menunjukkan alat canggih yang ada ditangannya.
Zafian dan Afita langsung mengambil alih alat itu dan melihat dengan seksama.
"Aku tau tempat itu, apa kita bisa sekarang kesana?" Ucap Firman yang ternyata juga mengamati dengan serius.
"Semakin cepat semakin baik tuan, karena saya yakin sekarang ini Nona Naura sedang dibawa bergerak di suatu tempat, lihatlah titik merah itu kini bergerak aktif"
"Sial!, Ayo kita kesana!" Teriak Firman yang sudah melesat lebih dulu, lalu kemudian disusul oleh Zafian, Afita dan anak buah Raka, tak lupa beberapa pengawal Zafian dan juga Firman dikerahkan untuk ikut serta.
"Bagaimana kalian bisa melacak keberadaan Naura?" tanya Firman ke anak buah Raka.
"Paman Raka pernah memberikan kami gelang, dan aku tau semua itu bukan hanya gelang biasa, pasti ada maksudnya, Naura masih memakainya sampai sekarang bukan?" tanya Afita.
"Dia tidak pernah melepaskannya" jawab Firman.
"Bagus, itulah pesan paman Raka kepada kami, dulu saat kita masih hidup sendiri jauh dari kalian" ucap Afita.
Firman menganggukkan kepalanya, mulai mengerti kalau sebenarnya Raka memberikan gelang dengan alat pelacak di dalamnya.
*
*
Sementara itu, Naura kini telah di bawa paksa oleh Dimas menuju ke salah satu bandara terdekat, dengan niat untuk segera terbang ke luar negeri sesuai dengan rencana kilat yang sudah disusun karena panik akan kenyataan siapa sebenarnya Naura saat ini.
"Kamu tidak akan berhasil dengan rencanamu, keluargaku akan dengan mudah menemukanmu!" Ucap Naura.
PLAK
"Diam bre-ng-sek!" Teriak Dimas setelah tamparan cukup keras mendarat kembali di wajah Naura.
Akhirnya mereka tiba di sebuah bandara, dengan cepat Dimas menyeret Naura untuk segera keluar dari dalam mobil dengan mata yang sudah tertutup.
"Ya Allah, selamatkan aku, aku mohon, Firman datanglah cepat" batin Naura dalam doanya di saat ketakutan semakin menyelimuti hatinya.
"Tunggu Tuan, pesawat kita masih dipersiapkan, kita dipersilakan untuk menunggu di ruang privat ini" ucap salah satu anak buah Dimas.
"Hem, cepat lakukan saja tugasmu dengan benar!" teriak Dimas semakin kesal.
Selang beberapa menit kemudian, sesuatu yang di takutkan akhirnya terjadi.
BRAK
Pintu ruang Privat itu terbuka cukup keras, sontak Dimas sangat terkejut dan tak menyangka secepat ini semua akan terjadi.
Dengan cepat pula dirinya menyambar tubuh Naura dan menodongkan pistol di kepalanya.
"Jangan berani maju, atau aku akan benar-benar membunuhnya!" Teriak Dimas.
Firman dan Zafian segera menghentikan langkahnya.
"Kau benar-benar Ba-ji-ngan!, Lepaskan Naura atau kau akan menyesal!" Teriak Firman.
"Berani sekali orang ini menyentuh kelurga ku" batin Afita dengan tatapan tajamnya.
"Aku akan melepaskannya, asal dia mau menandatangani surat ini dan kalian tidak menggangguku untuk pergi" sahut Dimas.
Zafian tersenyum miring. "Itu hanya ada dalam mimpimu!"
SRET
BRAK
Tangan Zafian bergerak tiba-tiba dan menyibak dengan keras, Dimas terkejut saat bola api yang tak disangkanya secepat kilat menyambar lengannya.
Afita melesat dengan cepat menyambar tangan Naura, dengan aman merasa Naura sudah bisa diselamatkan, namun tanpa di duga.
DOR!
Suara tembakan berhasil di lepaskan oleh Dimas tanpa sengaja, Afita menjatuhkan tubuhnya dengan merengkuh Naura.
Sementara Zafian yang tidak menduga sama sekali akan hal itu tidak sempat untuk menghalau kemana arah tembakan itu tertuju, hingga kejadian yang mengejutkan ada didepan matanya.
BRUG
"Firman!" Teriak Zafian langsung melesat dan menggapai tubuh sahabatnya yang sudah bersim-bah da-rah.
Anak buah Raka yang kebetulan juga melihat hal itu, seketika memimpin yang lain untuk menyergap Dimas dan mengamankannya, disaat yang bersamaan terdengar langkah-langkah penegak hukum berlarian dan menangkap Dimas.
Naura tentu saja sangat shock melihat hal itu, keadaan masih ramai hingga tak mungkin lagi Afita membantu dengan kekuatan supranaturalnya.
Secepatnya ambulan datang, dan kemudian membawa Firman pergi bersama Naura dan juga Afita di dalam mobil Ambulan.
"Sayang bangun, aku mohon" ucap Naura dengan deraian air mata, luka tembak di area dada Firman sudah mendapatkan pertolongan pertama, namun banyaknya da-rah yang keluar membuat Firman akhirnya tak sadarkan diri.
"Kak, bantu Firman, aku mohon!" Teriak Naura ditengah kepanikannya.
"Maaf nyonya, saya harap anda lebih tenang, keadaan Dokter Firman saat ini masih dalam kondisi yang masih bisa kita upayakan" ucap salah satu dokter yang rupanya mengenal suaminya.
Afita menatap dan menggenggam tangan Naura dengan kuat, menempelkan satu tangannya ke dada Firman seolah hanya sedang melihat keadaannya, saat itulah tenaga dalam Afita terlepas untuk membantu keadaan Firman.
Tanda vital kembali membaik, dokter dan petugas kesehatan yang ada di sana ikut bernafas lega, Afita lalu menggeser tangannya untuk memegang tangan Naura kembali.
"Terimakasih kak" ucap Naura lirih sambil mengusap linangan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Tiba di Rumah Sakit, segera pertolongan pertama dilakukan, dokter Ana sangat terkejut melihat hal itu terjadi, Naura menjelaskan singkat sebelum Ana membawa Firman ke meja operasi untuk mengambil peluru yang bersarang di tubuh Firman.
Tak lama kemudian, Reno dan juga Anita datang yang mendapat kabar dari Zafian sebelumnya, sementara Zafian sendiri masih harus mengurusi Dimas agar mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.
"Bagaimana keadaan Firman?" Tanya Reno nampak khawatir.
"Kondisinya masih stabil saat masuk ke kamar operasi" jawab Afita.
"My God, siapa Ba-ji-ngan yang berani melakukan hal itu?" Tanya Reno lagi.
"Pamanku, dan kak Zafian sudah mengurusnya dengan pihak berwajib" jawab Naura yang kini dalam pelukan Anita.
"Sudahlah, sebaiknya kita do'akan saja yang terbaik untuk Firman, apa orang tuanya sudah di beritahu?" Tanya Anita.
"Sudah Bunda, aku tadi sudah menelpon dan memberitahukan semuanya, mereka sudah terbang ke sini" jawab Afita membuat Anita sedikit lega.
"Sepertinya kamu membutuhkan perawatan juga Naura, lihat luka lebam di wajahmu, apa itu juga perbuatan pamanmu?" Tanya Reno saat tanpa sengaja melihat wajah Naura.
Naura hanya mengangguk, lalu Afita mengantar Naura untuk di berikan perawatan pada wajahnya.
"Kenapa Zafian tak menghajarnya sendiri saja, mungkin jika di tanganku pasti sudah aku bu-nuh" ucap Reno yang masih geram.
"Ehem, siapa yang akan anda bunuh?" Ucap seseorang dari arah belakang dan tentu saja mengejutkan Reno.
"Kamu?" Ucap Reno terkejut.
"Ana, namaku dokter Ana, dasar!" Ucap Ana berlalu melewati Reno yang masih terbengong melihat Ana dengan pakaian operasinya.
"Wow, keren sekali" batin Reno.
"Alhamdulillah Bunda, semuanya baik-baik saja, Peluru itu tidak mengenai organ Fital dalam tubuh Zafian" ucap Ana yang sudah berada di depan Anita.
"Alhamdulillah" jawab Anita.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu" sahut Zafian yang baru saja datang.
Reno segera menyusul Zafian yang berada di dekat Anita dan Ana, lalu kemudian menarik Zafian perlahan untuk bertanya tentang kabar Dimas yang sudah membuatnya geram.
"Aku sudah mengurusnya, hukuman seberat-beratnya pastinya akan menimpanya" jawab Zafian.
"Ck, kenapa kau tak membunuhnya sendiri saja, lebih singkat dan tidak ribet" sahut Reno.
"Aku bukan pembu-nuh, aku rasa hukuman yang akan didapatkannya juga tidak akan ringan, sebaiknya jangan terlalu menuruti emosi, belajar untuk berpikir waras dalam kondisi apapun, belajarlah hal itu" jawab Zafian.
"Iya, aku tau" ucap Reno dengan muka datarnya.
Terlihat kemudian Firman sudah di pindahkan ke ruang perawatan intensif sampai menunggu dirinya tersadar kembali.