
Setelah makan malam, Naura sengaja untuk beristirahat karena merasa tubuhnya begitu lelah, namun rupanya kejadian yang tidak diharapkan terbawa ke dalam mimpinya, hingga kemudian sekitar pukul 10.00 malam Naura berteriak dalam tidurnya.
"Astagfirullah, syukur itu hanya mimpi" ucap Naura sambil memegang dadanya untuk memberikan ketenangan pada dirinya sendiri.
Keringat dingin sampai membasahi tubuhnya, Naura segera beranjak dari tempat tidur lalu kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Diguyurnya tubuh berharap mendapatkan ketenangan di sana, hingga beberapa lama Naura menikmati air hangat yang membasahi tubuhnya, sedikit ketenangan memang didapatkan, namun bayangan mengerikan masa lalu masih menghantui pikirannya.
Hingga tak terasa hampir dua jam Naura berada di kamar mandi, saat terdengar suara ketukan pintu, Naura akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Sayang, sedang apa kamu di dalam?" Suara Firman yang rupanya baru saja datang.
"A- aku hanya ingin berendam saja" jawab Naura
" Apa kau baik-baik saja?" Tanya Firman kemudian.
"Iya sayang, Aku ada di dalam" jawab Naura dengan cepat saat kesadarannya pulih.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Firman.
"Sudah yang!" Jawab Naura.
"Ayo segera keluarlah!" Panggil Firman yang masih setia berada di depan pintu kamar mandi.
"Pergilah dulu yang, nanti aku akan menyusul"jawab Naura.
"Tentu saja tidak, dan aku akan segera masuk" ucap Firman, dan akhirnya masuk begitu saja karena mengkhawatirkan keadaan Naura.
"Yang!" Teriak Naura kaget ketika melihat Firman yang kini sudah melihat dirinya dalam keadaan tanpa memakai sehelai benang pun.
Firman hanya bisa menelan saliva nya, namun pikiran panasnya segera teralihkan saat melihat Naura dengan wajah yang sembab seperti habis menangis.
"Ada apa, Hem?" Tanya Firman yang kini sudah mendekat saat Naura sudah lengkap menggunakan bathrob nya.
Naura sengaja ingin menyembunyikan wajahnya, namun terlambat, Firman sudah menangkup pipi dan menatap matanya.
"Ceritakan padaku, apa yang terjadi denganmu, aku mendapat kabar dari Security di perusahaan, kalau kamu tadi bertemu dengan orang yang mencurigakan dan membuat masalah denganmu" tanya Firman.
Naura tidak bisa berucap saat ini, hanya menunduk, lalu kemudian menangis tanpa suara dan membuat tubuhnya begitu terguncang.
Tentu firman sangat khawatir melihat hal itu, lalu kemudian dengan cepat sedikit menarik tubuh istrinya untuk berada dalam pelukan hangat penuh perlindungan.
Tak ada sepatah katapun dari keduanya, Firman menggosok pelan punggung Naura untuk memberikan ketenangan.
"Kita keluar dari kamar mandi" ucap lirih Firman di tengah Isak tangis istrinya.
Naura hanya mengangguk, lalu berjalan pelan dengan rangkulan tangan suami yang ada di pinggangnya.
Firman membawa Naira duduk di tepian tempat tidur, merasakan ada yamg salah dengan cara berjalan istrinya, dirinya segera menyibak bathrob Naura dan melihat kakinya.
"Kak Afita sudah mengobatinya" ucap Naura memberitahu.
Firman tersenyum, mencium puncak kepala Naura, lalu memeluknya kembali.
"Kakimu bengkak kembali, Kenapa?, Apa kamu terjatuh?" Tanya Firman ingin tau kejadian yang menimpa Istrinya.
Naura hanya terdiam, tampak kecemasan di wajahnya saat dirinya tanpa sadar mengigit bibirnya.
Cup.
Firman langsung menyambar bibir seksi istrinya agar melepas gigitannya.
"Katakan padaku sayang" ucap Firman setelah melepaskan kecupannya.
Sekali lagi Naura mendongakkan wajahnya dan menatap mata Suaminya, dengan menarik nafas panjang Naura akhirnya bercerita "aku bertemu dengan Keluarga Ayahku, kami sempat bersitegang dan dia menarik ku hingga aku hampir terjatuh, beruntung kakiku bisa menahan, tapi sayang hal itu membuatnya semakin bengkak" ucap Naura sambil menyeka sisa air matanya.
Firman tentu saja sangat terkejut, sekali lagi membuka bathrob Naura untuk memastikan keadaan kaki istrinya.
"Kenapa malu padaku?" Tanya Firman saat Naura berusaha menahan bathrob yang hampir saja di buka.
Firman memeriksa sejenak, mengeratkan kepalan tangannya, menahan emosi saat nampak kaki Naura yang membengkak, lalu kembali duduk di sebelah istrinya.
"Apa aku perlu membuat perhitungan dengannya?" Tanya Firman.
Naura menggeleng, lalu menatap Firman kembali dengan wajah yang sudah nampak tenang.
"Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya" jawab Naura.
"Maaf ,aku tidak bisa menjemput mu karena tugasku yang padat sekali hari ini, jangan khawatir, aku akan berusaha mengatur waktu agar bisa mengantar dan menjemputmu untuk menjaga dan memastikan mu dalam keadaan aman" ucap Firman yang kini sudah memeluk istrinya kembali.
"Terimakasih sayang, maaf harus merepotkan mu" ucap Naura.
"Itu sudah tugas dan kewajibanku yang, aku pastikan saudaramu itu tidak akan bisa dengan mudah menyentuh mu" sahut Firman lalu mengecup bibir Naura lagi.
Naura tersenyum, memeluk suaminya dengan erat, begitu juga dengan Firman.
"Pasti kamu sangat lelah, jam segini baru pulang" ucap Naura.
"Hem, tentu saja, tapi lelahku hilang melihat istri cantikku ini" jawab Firman sambil mengusap bibir se-ksi Naura yang nampak begitu menggoda.
"Aku akan membersihkan badan dulu, kamu bisa berbaring saja disini, butuh apapun nanti, biara aku yang mengambilkan" ucap Firman lalu mendapat anggukan dari Naura sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama, akhirnya Naura yang sudah lelah dengan semua drama yang terjadi harinya mulai tertidur.
Ceklek
Firman keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri sudah tertidur pulas.
Perlahan firman mendekat, dengan tubuh yang masih berbalut handuk, Firman kini menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir Naura yang sedikit terbuka dan justru kelihatan sangat menggoda.
"Yang?" Naura membuka perlahan matanya saat merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya dan sedikit menghisapnya.
"Sorry" ucap Firman.
Keduanya terkunci oleh tatapan masing-masing, terdiam dan bau harum tubuh Firman yang begitu segar, membuat Naura benar-benar terbangun dari tidurnya.
Perlahan Firman kembali menyusuri wajah sang istri, membelai lembut dan melu-mat bibir indah Naura itu dengan tenang dan dalam.
Seketika Tubuh Naura meremang, merasakan hawa panas yang mulai menjalar, disaat ciu-man itu berubah begitu menuntut.
Lidah keduanya saling membelit, tangan Firman seiring sejalan kembali bekerja, menelusup ke dalam bathrob yang belum terbuka dengan sempurna, dan mendapati kulit lembut dan hangat Istrinya.
Nafas keduanya kini nampak memburu, Naura yang sangat awam dengan hal yang baru dikenalkan oleh suaminya hanya mengikuti insting tubuhnya.
"Oh, yang!" Naura sedikit tersentak saat tangah Firman menjelajahi kedua bukit kembarnya dan memberikan rema-san lebih kuat disana.
"Apa terlalu sakit?" Bisik Firman.
Naura menggeleng, dan Firman tersenyum saat menyadari Naura merasakan has-rat nya muncul dan bergejolak kuat dalam dirinya.
"Yang.." Naura mulai mendesah saat Firman mulai berpindah menyusuri pa-hanya.
"Katakan kalau kamu ingin mengakhirinya" bisik lirih Firman khawatir dirinya terlalu memaksa.
Naura hanya terdiam, dan sesekali terdengar de-sa-han seolah dirinya sangat menikmatinya.
Firman tersenyum senang, merasa kali ini sudah mendapat persetujuan dari sang istri untuk melakukan tugas pentingnya sebagai seorang suami.
Kulit mereka saling bersentuhan, tangan Firman mulai menyusuri tempat yang selama inis Elli dijaga dengan baik oleh istrinya, mengusap lembut berulang kali hingga membuat tubuh Naura menegang.
Tubuh Naura kini sudah polos, tak ada apapun lagi yang menghalangi, Firman merasa kagum akan keindahan tubuh sang istri yang selama ini selalu tertutupi dengan baik.
Sementara Naura juga merasakan hal yang sama, tidak menyangka sang suami mempunyai bentuk tubuh yang tegap, se-ksi dan berisi.
"Aku akan menyatukan milikku, apa kamu keberatan?" Bisik Firman kembali meminta ijin.
Naura menatapnya, dengan pelan menggelengkan kepalanya dan seketika senyum Firman mengembang.