
"Zafian, hentikan!" Teriak Afita segera mundur membebaskan tubuhnya.
"Kenapa?!"
Zafian masih terkejut dan tidak tau kenapa Afita sampai menjerit dan segera mundur ke belakang.
"Kenapa, ada yang salah?" Tanya Zafian lagi yang kini duduk di depan Afita, menatapnya aneh dan bingung, mungkinkah dirinya telah membuat kesalahan.
"Maaf Zaf, aku masih belum bisa" jawab Afita.
Zafian menarik nafas panjang, membelai lembut wajah istrinya. "Tidak apa-apa, maaf kalau aku terlalu terburu-buru, sebaiknya kita beristirahat" ucap Zafian berusaha mengerti kemungkinan Afita yang masih belum bisa menerim sepenuhnya.
Sementara Afita segera membenahi diri, bersiap untuk tidur kembali, berusaha menenangkan degup jantungnya, sungguh dalam hatinya tidak ada niat Afita untuk menolak kehadiran Zafian untuk memiliki tubuhnya, namun ada sesuatu yang dia simpan, dimana kelumpuhan Zafian akan berpengaruh saat dia melakukan penyatuan.
"Maaf Zafian, suatu saat nanti aku akan menceritakannya, setelah keberadaan ku berhasil menyembuhkan mu" ucapnya dalam hati, kemudian dirinya tertidur dengan nyaman saat tubuhnya ditarik kembali dalam pelukan hangat sang suami.
**
Pagi hari yang sangat indah datang menyapa, keadaan di Mansion serasa lebih hidup, entah karena apa, atau mungkin karena sang pemilik mulai menemukan pelabuhan hati yang sebenarnya.
Afita membenarkan dasi sang suami, menatapnya sekejap lalu tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Afita.
"Tidak ada, kenapa harus berhenti?" Tanya Zafian.
"Ini sudah rapi"
"Bukan itu" ucap Zafian.
"Maksudmu?"
"Senyuman mu, kenapa berhenti?" Ucap Zafian.
"Kalau aku tersenyum terus nanti di kira kurang_"
Cup.
Afita terkejut saat bibirnya sudah disambar begitu saja oleh suaminya.
"Tidak ada yang kurang darimu, aku suka" ucap Zafian melanjutkan.
"Ish, kau ini, selalu saja membuat jantungku tidak aman"
"Oh ya, apa itu tandanya kamu tidak suka?"
"Bukan seperti itu Zaf, sudahlah, ayo kita sarapan dan segera berangkat kerja"
"Oke"
"Tunggu, boleh aku minta sesuatu?" Ucap Afita berusaha untuk merayu demi keinginan hatinya.
"Katakan, ada apa?"
"Untuk mempersingkat waktu dan tidak terbuang percuma, bagaimana kalau aku membawa mobil sendiri?"
"Tidak bisa"
"Ayolah Zaf?"
"Tidak boleh, dan itu tidak bisa diganggu gugat" ucap Zafian yang kini sudah melajukan kursi rodanya sendiri keluar dari kamar.
"Dasar, menyebalkan!" Gumam Afita dan melangkah cepat menyusul suaminya.
Anita menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang selalu menarik untuk dinikmati, menatap kedatangan Zafian dan disusul oleh Afita dengan muka merenggut nya, memberikan peralatan makan untuk di tata diatas meja ke menantu kesayangannya.
"Kenapa lagi, pagi-pagi kok sudah cemberut?" Tanya Anita.
"Zafian Bun, egois sekali"
"Oh ya, memangnya egois yang seperti apa?"
"Bun, aku ingin membawa mobil ku sendiri, tapi Zafian tidak mengijinkan"
Anita tersenyum dalam hati, Betapa menantunya yang berasal dari keluarga Milyarder dan tak kurang akan apapun, begitu menjaga dan menghargai suaminya, bahkan untuk melanggar perkataan Zafian saja benar-benar tidak berani dilakukannya.
"Ya sudah, kan lebih enak kemanapun diantar sama Zafian" jawab Anita yang tentu saja membuat Afita kecewa.
"Ya ampun Bun, aku terasa kembali Balita kalau seperti itu" jawab Afita membuat Anita dan asisten rumah tangganya tak mampu lagi menahan tawa.
"Kita akan terlambat kalau sarapan tidak segera di sediakan Bun" seru Zafian.
Anita segera menghentikan tawanya, mengedipkan mata ke Afita, memberikan kode untuk segera membantu menyiapkan sarapan.
Makan pagi pun berlangsung dengan nyaman, baik Zafian dan Afita masih terdiam menikmati sarapan pagi, begitu juga dengan sang bunda yang tersenyum saat sesekali memperhatikan dua orang yang rupanya sedang berseteru.
Apa yang terjadi, mau tidak mau Afita kini harus berada dalam mobil sebagai penumpangnya, tentunya bersama dengan Zafian disampingnya.
"Masih marah padaku?" Tanya Zafian melihat wajah istrinya yang masih manyun tak menentu.
"Pikir saja sendiri" jawab Afita malas.
"Maaf, semua aku lakukan demi keselamatan mu, aku bisa mati dengan menyalahkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan mu" sahut Zafian lagi.
Deg.
Afita terdiam, berusaha menajamkan telinganya, takut apa yang baru saja didengarnya kesalahan penerimaan dirinya saja.
"Apa yang barusan kamu bilang?" Ucap Afita memberanikan diri untuk bertanya, berharap sang suami mau untuk mengucapkan kembali.
Zafian menoleh, hanya tersenyum lalu menarik Afita jatuh dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan lembut dan membiarkan semua hening begitu saja.
"Zaf?"
"Hem"
"Kamu kenapa?" Tanya Afita pada akhirnya.
"Sedang memelukmu" jawab Zafian.
"Ish, aku tau, maksud ku kenapa kamu seperti ini, mati untukku, memelukku tiba-tiba dan_"
Cup.
"Zaf!"
"Menci-um mu tiba-tiba " sahut Zafian lalu tertawa melihat bola mata Afita yang melebar memberikan peringatan padanya.
Tidak ada pertanyaan maupun pernyataan lagi, keduanya saling menikmati dan mengisi kehangatan suasana dalam perjalanan pagi menuju tempat kerja.
Afita segera turun dan melangkahkan kakinya, dia sangat terkejut mendapati handphonenya ternyata belum di nyalakan, sampai di depan ruang kerjanya, Afita dikejutkan dengan Naura yang menahan tubuhnya.
"Ada apa?" Tanya Afita heran.
"Nona sedang ada Affair dengan seorang laki-laki muda?" Tanya Naura mengernyit kan dahinya, memasang wajah Curiga dan waspada.
"Dasar, kau ini, ngawur saja bicaranya!, Minggir, aku mau masuk!" Ucap Afita.
"Eh tunggu Nona, atau saya akan melapor ke tuan Zafian, nona Afita sudah bermain Api" sahut Naura lagi semakin membuat Afita gemas dan ingin menabok nya.
"Mana ada aku main api, buat apa, aneh-aneh saja kau ini, minggir atau aku akan menabrak mu, sebenarnya kau ini kenapa?"
"Didalam ada laki-laki tampan dan terkenal saat ini, dan memaksa untuk bertemu Nona, bahkan tidak memperdulikan larangan ku, masuk begitu saja lalu mengatakan ada hubungan dengan anda" ucap Naura membuat Afita sedikit berpikir dan kemudian malah tersenyum membuat Naura makin curiga.
"Wah, wah, benar kan apa yang ku duga?" Ucap Naura.
"Halah, buang jauh-jauh pikiran kotor mu itu, aku memang ada hubungan dengannya, minggir!" Afita segera menyingkirkan Naura lalu segera masuk dan menutup pintu kembali.
Brak.
"Nona Afita, Buka!, Jangan macam-macam!" Teriak Naura.
Sementara Afita segera tersenyum lebar mendapati sosok laki-laki tampan yang sudah berdiri sambil mengamati tata ruang tempat kerjanya.
Keduanya kini bahkan mengobrol dengan sangat akrab tentunya, sementara Naura sudah mencak-mencak diluar sana, sambil terus mengamati apa yang terjadi di dalam ruang kerja bos nya.
**
Sementaranya itu, di tempat yang lain, Zafian tengah murka saat melihat tayangan SCTV yang ada di handphonenya, benar sekali, Zafian yang tengah asik melihat dan berharap sang istri bekerja dengan baik, nyatanya malah tertawa bahagia dengan seorang laki-laki yang hanya tampak dari belakang saja di layar monitor.
Kemurkaannya bertambah di saat handphone sang istri ternyata tidak bisa di hubungi sama sekali.
"Sh-it!, Siapa laki-laki itu, kenapa Afita tidak bisa ku hubungi, apa mungkin dia sengaja?" Tanya Zafian dalam hati.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga.
Bersambung.