
Hampir tiga Minggu lamanya, Zafian pasif melakukan semua pekerjaan kantornya dari rumah, selain untuk pemulihan lukanya, Zafian juga berjuang keras untuk menaklukkan kekuatannya sendiri dan hasilnya pun sangat memuaskan, tentu saja dengan kerjasama yang kompak dari semua anggota keluarga Nugraha.
Namun yang terjadi dengan Elonar justru tengah mempersiapkan semua strategi untuk menghancurkan musuhnya yang tak lain adalah Zafian Al Faradz, sementara itu, yang terjadi dengan Elisa adalah hidup dengan semakin bebas dan arogan merasa sang kakak begitu melindunginya.
Menyusuri lorong sebuah Rumah sakit, Elonar melakukan rencananya, sosok yang tengah dilindungi oleh Zafian kini nampak di depan matanya,
"Siapa kamu?!" Ucap dua orang pengawal khusus yang ada di depan kamar perawatan.
Terlihat senyuman ib-lis dari seseorang yang tengah terus berjalan, hingga detik berikutnya.
"Kau salah bertanya dengan siapa!" Ucap Elonar dingin lalu segera menerjang kedua pengawal.
Kedua pengawal itu pun dengan cepat segera menghindar saat menyadari ada yang tak biasa dari orang yang ada di depannya.
"Jadi mereka bukan pengawal biasa, bagus, setidaknya aku bisa bermain-main sedikit lebih lama" batin Elonar, tersenyum dengan sinis.
Pertarungan pun berlangsung sengit, Elonar akhirnya mengeluarkan tenaga dalamnya dan mampu memukul mundur kedua lawan yang mulai lemah setelah beberapa kali mendapat serangan dari nya.
"Saya peringatkan, kami tidak akan gentar walau harus mati, jadi pergilah sebelum kau menyesal!" Teriak salah satu pengawal khusus sambil menahan nafasnya.
"Oh ya, itu akan semakin mudah untuk menghabisi kalian, terimalah!" Teriak Elonar dengan cepat melesat ingin menghantar kedua musuh yang ingin di binasakan.
Brak
Kekuatan tenaga dalam Elonar yang sangat besar mampu menembus pertahanan kedua orang dihadapannya.
"Menyerah lah!, Dan jangan buang waktuku lagi, atau kalian minta aku habisi ha!" Teriak Elonar lagi.
Detik berikutnya keduanya akhirnya roboh, sekuat tenaga untuk bangun namun kekuatan Elonar kembali menghajarnya sampai di titik dimana pertahanan sudah tidak mampu lagi di lakukan.
"Sh-it,!, Merepotkan sekali!" Umpat Elonar dan kini langsung menerjang masuk.
Elonar melihat sosok yang di inginkan untuk ma-ti di tangannya hari ini.
"Saat nya, aku akan memudahkan jalan hidupmu" gumam Elonar, lalu kemudian sekali hentakan semua alat yang tertancap di dalam tubuh laki-laki itu terlepas dengan kasar.
Saat Elonar menggunakan kekuatan tangannya untuk menyerang area fatal, tiba-tiba saja sebuah tekanan kuat mendorong dirinya hingga terjatuh menghantam tembok.
Setelah itu, terdengar suara sepatu tengah memasuki ruangan, dan terlihat sosok laki-laki yang membuat Elonar sontak membelalakkan mata.
"Zafian?!" Ucap Elonar terkejut.
"Hem, kita bertemu kembali, tuan Elonar" Sahut Zafian.
"Sayang, harusnya aku langsung membunuhmu saat itu" ucap sinis Elonar yang sudah kembali mempersilahkan diri.
"Kau belum beruntung, dan kali ini tidak akan semudah itu kau bisa menyentuh ku" sahut Zafian dengan tatapan tajamnya.
Dan sesaat kemudian, keduanya sudah saling nyerang, beradu kekuatan, dan bahkan tampak keduanya telah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya.
Namun kemudian, Konsentrasi Zafian dikejutkan dengan bunyi alat mengontrol jantung dari salah satu anak buahnya yg dirawat.
"Sh-it!, Rupanya Elonar berhasil menyentuhnya" batin Zafian yang kini melesat untuk menolong keadaan anak buahnya.
Elonar yang juga menyadari hal itu, dengan seringai ib-lisnya, dia pun menghalangi apa yang akan dilakukan oleh Zafian.
Perkelahian semakin sengit, Zafian terus berusaha menolong, dengan melakukan perkelahian dengan Elonar, hingga takdir berkata lain.
Terdengar suara pendeteksi jantung berbunyi, hingga Zafian terkejut kembali.
"Tamat riwayat mu!" Teriak Elonar bergembira karena rencananya berhasil.
Sementara Zafian sangat terkejut mendapati bahwa anak buah yang dia lindungi dan dalam keadaan koma, kini hampir menemui ajalnya, disaat yang sama kesempatan itu digunakan oleh Elonar untuk melesat keluar.
Zafian tidak mampu lagi untuk mengejar, tidak mungkin meninggalkan anak buahnya, bel darurat segera di bunyikan nya, menit berikutnya beberapa tenaga medis berlarian datang dan memberikan pertolongan.
Rupanya takdir berkata lain, kondisi tidak memungkinkan lagi, dan akhirnya keadaan kritis harus dilewati dengan menghembuskan nafas terakhir.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un" ucap lirih Zafian dan yang lainnya.
*
*
Afita yang sedang menyelesaikan semua tugas kantornya dikejutkan dengan kedatangan sang suami dalam keadaan yang tentu saja tidak baik-baik saja.
"Ada apa yang?" Tanya Afita menyambutnya, dan kini sudah duduk di samping Zafian.
"Elonar berhasil membu-nuhnya" ucap lirih Zafian memejamkan mata sekejab, merasa sesak dan gagal melindungi.
Afita terkejut, tau apa yang dimaksud suaminya dan segera beranjak mengambil air minum untuk diberikan kepada Zafian agar lebih tenang.
"Bersabarlah sayang, apapun yang terjadi, mungkin ini adalah yang terbaik, aku yakin ada hikmah yang terbaik dibalik semua musibah yang terjadi" ucap Afita lirih dan menggenggam tangan sang Suami.
Zafian menarik istrinya dalam dekapan, sangat terasa bagaimana dirinya nampak begitu khawatir akan sesuatu.
"Ada apa sayang?" Tanya Afita kemudian.
"Kita tidak bisa lagi melanjutkan tuntutan hukum atas apa yang dilakukan oleh Edric Ricardo, bukti yang kita punya belum berhasil di temukan" ucap Zafian tampak kecewa.
"Tidak apa-apa yang, kita pasrah kan saja sama yang maha Kuasa, kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik" sahut Afita menenangkan suaminya.
Zafian tersenyum dan mengangguk, berbincang dengan istrinya selalu menjadi favoritnya disaat ingin mendapatkan ketenangan.
"Aku tadi sempat bertarung dengan Elonar" ungkap Zafian di dalam kesunyian.
"Lalu?" tanya Afita.
"Kekuatannya sama denganku, kekuatan api, tapi lebih fokus ke telapak tanga kanannya, aku juga merasakan kekuatannya sangat besar"
"Apa kamu kewalahan menghadapi nya?" Tanya Afita nampak khawatir.
"Tidak, di pertarungan tadi, kami masih seimbang, aku juga belum mengeluarkan semua kekuatanku"
"Syukurlah sayang, lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Afita.
"Lebih berhati-hati, Elonar masih ada di kota ini, aku yakin dia tidak akan berbuat hanya sampai disini" jawab Zafian.
"Hem, aku tau, apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Afita.
"Entahlah yang, yang jelas kita harus lebih waspada"
Afita memeluk kembali suaminya, dengan erat dan memberikan ketenangan tersendiri, Zafian tersenyum membiarkan semuanya ter nikmati beberapa lama.
"Apa suamiku tercintaku akan beristirahat disini?, Atau sebaiknya kamu pulang lebih dulu, nanti biar aku diantar oleh sopir atau Naura" ucap Afita.
"Aku ingin disini, menunggumu sebentar lagi, kita akan pulang bersama" ucap Zafian.
Afita tersenyum, menyadari bahwa Zafian tengah mengkhawatirkan dirinya, mungkin karena ada sesuatu yang dirasakan oleh Zafian dan tentu saja lebih terasa nyaman saat di dekatnya.
*
*
melewati beberapa jam kemudian, Malam pun sudah menyapa, dan Zafian sudah berada di dalam ruangan tempatnya berlatih, merasa masih banyak yang mesti di pelajari dari kekuatannya.
Afita datang tiba-tiba dan memberikan serangan penuh untuk mengetahui insting suaminya.
"Kau mengejutkanku yang!" Ucap Zafian berhasil menghalau serangan istrinya.
"Suamiku cukup lumayan ternyata" sahut Afita yang masih bersiap dan tidak berhenti sampai disana.
Kekuatan tenaga dalam Afita benar-benar dikeluarkan sepenuhnya, Zafian sempat terkejut dengan kerasnya serangan sang istri yang begitu cepat dan mematikan.
"Kau benar-benar ingin membunuh suami mu?" Tanya Zafian setelah mundur dan bersiap kembali.
"Konsentrasi lah saat bertarung, anggap aku lawanmu yang sesungguhnya yang" ucap Afita melesat kembali menyerang suaminya.
"Oh my God, yang benar saja, bagaimana mungkin aku bisa menganggapnya musuh" gumam masih berlompatan masih menghindari sang istri.
"Ayolah, jangan terus menghindari ku yang!" Teriak Afita merasa kesal.
"Baiklah yang, kamu yang minta" ucap Zafian
Entah kenapa Zafian merasa dirinya sekarang bisa dengan cepat membaca gerakan lawan saat berkonsentrasi penuh, bahkan dengan gerakan Afita yang secepat kilat dan tidak terlihat oleh mata normal pada umumnya.
"Ini saatnya!" Batin Zafian dan langsung melesat melakukan gerakan.
"Akh!"
Afita berhasil mendapatkan satu tendangan tenaga dalam, hingga terpental, dengan cepat Zafian melesat dan menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh lantai.
"Ck, kenapa kau melakukan keras sekali, lenganku sakit!" Ucap Afita berontak turun dari dekapan sang suami karena merasa kesal mendapati dirinya bisa dikalahkan oleh Zafian.
"Bukankah tadi kamu yang meminta hal ini?" Ucap Zafian takut akan kemarahan wanita yang tengah memeluk mukanya.
"Aku tidak mau berlatih lagi, lanjutkan saja sendiri" ucap Afita lalu melangkah pergi begitu saja.
"Hei, yang!, tunggu!" Teriak Zafian tanpa dipedulikan lagi oleh istrinya.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA ya.
Bersambung.