ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 37



Bukan keturunan NUGRAHA kalau tidak bisa melihat sekecil apapun masalah yang di hadapi orang-orang terdekatnya.


Dan rupanya Afita memantau apa yang dilakukan Bimo, juga sangat kecewa melihat apa yang telah diperbuat oleh suaminya.


"Jangan berani menggerakkan tanganmu tuan Bimo!" Ucap Afita dengan tegas.


Afita segera berjalan mendekat dan kemudian menyambar beberapa berkas dan kini sudah berpindah ke tangannya, sementara jantung Zafian kini berpacu lebih kencang.


"Afita, aku_"


"Diam dan jangan bicara apapun saat ini" sahut Afita sebelum Zafian melanjutkan kata-katanya.


Sementara Bimo justru tersenyum puas, seolah mendapat celah untuk melanjutkan rencananya, berharap akan terjadi pertengkaran hebat dan bahkan perpisahan pada akhirnya, namun apa yang terjadi?


Afita merobek semua berkas di hadapan Bimo, seolah menunjukkan dirinya siap menantang dan menghadapi Bimo untuk selanjutnya.


"Wow, berani sekali anda rupanya nona Afita?"


"Memangnya apa yang harus aku takutkan dari sosok pengusaha licik sepertimu Bimo Trihatmodjo"


"Lancang!" Sahut Bimo.


"Kau yang lancang, menekan suamiku untuk kepentingan pribadimu dan juga memanfaatkan istri bodoh mu itu untuk mencapai tujuanmu, jangan kau kira aku tidak tau apa-apa"


"Jangan kau pikir apa yang kau tau adalah kebenaran menurutmu, karena suamimu juga ikut andil disana, bahkan dia sudah_"


"Cukup, ini semua adalah salah paham Afita, aku berani bersumpah, tidak ada apapun antara aku dan Eliza" sahut Zafian menginginkan sebuah pengertian dari istrinya.


Disaat itulah, Afita mengeluarkan bukti yang lain, beberapa foto kebersamaan Zafian saat di restoran dan disana nampak ada Juga sang sekretaris, Zafian bisa bernafas dengan lega.


Sedangkan Bimo mulai gelisah, rupanya wanita yang di anggapnya tidak tau apa-apa, malah memberikan bukti nyata yang tentu saja mematahkan tujuannya.


"Dan satu lagi yang perlu kau catat baik-baik, apa yang dilakukan oleh Eliza di apartemennya, itu juga salah satu permainan kalian saja, bukan begitu tuah Bimo?"


"Kau_, menuduhku?" Ucap Bimo terkejut, bagaimana mungkin Afita tau kalau sebenarnya waktu itu dirinya juga ada di dalam apartemen disaat Istrinya merayu Zafian, dan itu juga atas kesepakatan dengannya.


Afita hanya tersenyum sinis.


"Kembalikan kontrak kerja diawal, dan bayar kekurangan uangmu saja, jangan harap aku akan terpengaruh akan rencana gila yang kau rancang dengan istrimu itu" ucap Afita, lalu segera pergi dari ruangan.


"Afita!, Tunggu!" Teriak Zafian yang masih sangat terkejut dengan apa yang sudah terjadi, namun Afita tetap melangkah pergi begitu saja.


"Dan kau, keluar dari ruangan ini Bang-sat!, Bayar hutangmu atau aku akan menuntut mu hingga kau menyesal!" Teriak Zafian mengusir Bimo, hingga akhirnya laki-laki itu pergi dengan rasa marah dan kecewa.


Setelah kepergian Bimo Trihatmodjo, Zafian segera menghubungi Afita berkali-kali, namun tentunya percuma karena tidak ada satu jawaban yang diharapkan.


Dengan terburu-buru dirinya berniat segera menyusul sang istri, namun rupanya ada sesuatu yang mengakibatkan niatnya harus di hentikan, rupanya keluarga sopir pribadinya mengalami musibah hingga pamit sebentar ke Naura untuk menyambangi keluarganya.


"Sh-it!, Kenapa harus tidak ada di saat yang aku butuhkan!" Ucap Zafian memutar otak untuk segera bertemu dengan istrinya bagaimanapun caranya.


Sedikit lama berpikir, akhirnya Zafian meminta Naura untuk meminta tolong pegawai laki-laki siapapun yang membawa mobil untuk mengantarkan dirinya pulang ke Mansion.


Sementara itu, Afita sudah mempersiapkan segalanya, berjalan cepat memasuki Mansion dan segera berkemas, rasa kecewa akan apa yang dilakukan suaminya karena sudah tidak jujur membuatnya memutuskan untuk menenangkan diri dulu dengan kembali ke Jakarta untuk sementara waktu.


Setelah mengepak semua baju dan barang yang akan di bawanya, dua koper sudah di seretnya keluar dari kamar lalu mencari sang bunda untuk berpamit.


disaat yang sama kebetulan Anita sedang berjalan ke arahnya, dengan wajah terkejut wanita setengah baya itupun menghampiri anak menantu kesayangannya.


"Afita, ada apa ini, kenapa kamu membawa koper?" Tanya Anita dengan wajah yang berubah panik.


"Maaf Bun, Afita ingin pulang ke Jakarta dulu, ada sesuatu yang harus ku urus disana" ucap Afita.


"Pulang?, Ke Jakarta?, Sendirian?" Tanya Anita merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Afita.


"Iya Bun, maaf.. Afita tidak memberi tahu bunda lebih dulu, ini mendadak"


"Lalu, apa Zafian sudah tau?" Tanya Anita lagi.


"Belum, saya nitip Bunda yang memberi tahukan, Zafian masih sibuk dengan urusan perusahaan" jawab Afita berusaha menahan air matanya, namun tidak dengan Anita yang seketika tahu, kalau sebenarnya ada masalah diantara mereka.


"Sayang, tidak bisakah kita tunggu Zafian dulu?"


"Maaf Bun, tidak bisa"


"Bagaimana kalau bunda ikut bersama mu?"


"Bun, Zafian lebih membutuhkan Bunda disini, tolong beri support Zafian untuk terus melatih kakinya, sedikit lagi dia akan bisa berjalan kembali"


"Tapi Af_"


"Afita pamit dulu Bun, maaf kalau membuat bunda khawatir" ucap Afita langsung menyambar tangan sang Bunda dan bersalaman dengan takzim, lalu memeluk sedikit lama, seolah menyalurkan rasa sesak di dadanya.


"Astagfirullah Zafian, kenapa sudah sekali menghubungi mu sih" gumam Anita yang tidak kunjung bisa mendengar sahutan dari Anaknya.


Rupanya Zafian selama dalam perjalanan juga terus berusaha mengirim pesan dan menghubungi Afita.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu utama Mansion terbuka lumayan keras, dan teriakan Zafian terdengar menggema memanggil nama istrinya.


"Afita!, Afita!" Teriak Zafian dan terus menuju ke kamarnya.


Anita yang mendengar semua teriakan Zafian, segera meletakkan ponsel dan berjalan tergesa-gesa kearah sumber suara.


"Zaf?" Panggil Anita yang kini juga sudah masuk ke dalam kamar Zafian.


"Bunda, Afita _"


"Iya Bunda tau, maafkan bunda tidak bisa mencegahnya untuk pergi"


"Apa!" Zafian sangat terkejut.


Yang terjadi berikutnya, Zafian segera melajukan kursi rodanya dengan sangat cepat untuk keluar dari Mansion, sambil terus memanggil nama Afita, hingga akhirnya dia terjungkal.


"Zafian!" Teriak sang Bunda, yang berusaha mengejar putranya.


Asisten rumah tangga dan salah satu petugas keamanan yang ada di Mansion berlari cepat membantu Anita untuk membawa kembali Zafian ke kamarnya.


"Aku tidak mau Bun, aku harus menyusul Afita!' teriak Zafian.


"Iya zaf, bunda tau, tenanglah dulu, lihat kakimu terluka!" Teriak Anita memperingatkan Zafian yang cemas akan keadaannya.


Hati yang dirasakannya nyeri oleh Zafian rupanya membuat dirinya tidak merasakan sakit apapun di tubuhnya, bahkan dalam benaknya hanya di penuhi dengan bagaimana cara harus bertemu dengan Afita.


Anita memberikan minum ke Zafian, setelah dirasa tenang, semua meninggalkan kamar kecuali Anita yang tentu saja setia disamping anaknya.


"Apa Afita pamit ke Bunda akan pergi kemana?" Tanya Zafian yang sudah bersandar di pinggiran tempat tidur.


"Iya, Afita hanya ingin beristirahat di rumah orang tuanya"


"Ke Jakarta?" Tanya Zafian cemas.


"Iya Zaf"


"Rupanya dia tidak ingin lagi kembali kesini bersamaku, atau Afita tidak akan sudi lagi bertemu dengan ku Bun, dia tidak perduli lagi dengan_"


"Itu tidak benar Zaf, jangan menarik kesimpulan kalau kita tidak tau yang sebenarnya"


"Tapi Bun, aku sudah berbuat salah, membohongi Afita dan dia pasti tidak akan_"


"Afita masih perduli padamu"


"Mungkinkah?"


"Kalau dia tidak peduli padamu, Bunda pasti di perbolehkan ikut dengannya dan tidak akan menemani mu disini"


"Maksudnya?"


"Bunda tadinya ingin ikut Afita, tapi dia menolak karena ingin Bunda menjagamu, memastikan kamu bisa berjalan kembali, itu pesan dari istrimu sebelum pergi"


"Benarkah Bun?"


"Tentu saja, kenapa bunda harus berbohong padamu Zaf"


"Kalau begitu kita pergi sekarang menyusul Afita Bun, ayo!"


"Zaf, tenang dulu, kendalikan dirimu, Afita juga butuh ketenangan setelah apa yang terjadi dengan kalian, sebaiknya kita disini dulu, beri Afita ruang untuk diri nya sendiri, Bunda melihat dia begitu terluka" ucap sang bunda dan membuat Zafian menunduk.


"Maaf Bun"


Anita menarik nafas panjang, lalu menggenggam tangan anaknya, "Sebenarnya ada apa, kalau boleh Bunda tau?"


Zafian masih terdiam, menatap mata sang bunda sebelum akhirnya menunduk kembali, tak lama kemudian Zafian pun menceritakan semuanya, Anita juga sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan oleh Zafian.


"Astagfirullah, kenapa kau lakukan itu Zaf, harusnya kamu bisa memilah mana yang pantas dan tidak kamu lakukan, apalagi Eliza mantan tunangan mu, belum terhitung tahun juga kalian berpisah, tentu saja Afita sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan" ucap sang Bunda antara marah dan tak tega melihat putranya.


Dan disaat yang sama pintu kamar Zafian terbuka dengan sedikit kasar.


"Zaf!" Teriak seseorang di balik pintu yang sudah terbuka lebar.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.