
Sementara yang tejadi di Mansion, Edward dan Alena sedang berbincang untuk melakukan rencana pentingnya hari ini.
"Apa sudah siap Be?" Ucap Edward menatap istrinya penuh maksud.
"Tentu saja, ini harus segera di selesaikan sebelum membahayakan keduanya" jawab Alena.
Melihat perbincangan yang tentu saja tidak jelas di mata anggota keluarga yang lain, membuat banyak timbul pertanyaan.
"Apa maksud Mommy?" Tanya Ailina memastikan apakah benar perkiraannya.
"Kami akan menggabungkan kekuatan untuk menyelamatkan bayi yang ada dalam perut Afita" jawab Alena.
"Apa?!" Sahut Afita dan Ailina hampir bersamaan, sementara yang lain masih terdiam dengan wajah serius untuk mendengarkan penjelasan.
"Tunggu, ada apa sebenarnya?" Ucap Afita yang nampak bingung.
"Biarkan aku yang menjelaskan" sahut Edward kemudian.
"Maaf sayang, apa sebelumya kau tidak pernah merasakan apapun pada kehamilan mu?" Tanya Edward.
"Ini kehamilan pertamaku Om, belum begitu mengerti, hanya tenagaku sering terkuras begitu cepat saat menggunakan kekuatan supranatural, apa itu salah satunya?" Tanya Afita makin penasaran.
"Hem, tentu saja, maaf aku harus mengatakan semu ini, tapi Bayi yang ada dalam rahimmu mempunyai kekuatan hitam yang sangat membahayakan"
DEG
Afita hanya terdiam, sungguh kabar yang masuk ke telinganya kali ini sangat membuat syok.
"Apa maksud Om Edward?" Ucap Afita seakan tidak terima dengan apa yang di dengarnya.
Ailina mendekat dan menggenggam tangan Afita, sementara Ailina tersenyum dengan tatapan teduhnya.
"Ada kekuatan Hitam yang menguasai hampir semua unsur dalam tubuh bayimu sayang, dan kekuatan putih dari klan keluarga kita telah di kalahkan olehnya" ucap Alena.
"Tapi_, bagaikan itu bisa terjadi Aunty?" Afita masih tidak mempercayai.
"Kekuatan itu berasal dari salah satu orang tuanya" jawab Alena.
"Apa?, Mana mungkin, aku tidak punyak kekuatan hitam seperti itu, dan juga Zafian, kami semua baik-baik saja selama ini" ucap Afita masih tidak bisa menerima, tentunya karena dirinya juga tidak tau kekuatan apa yang sebenarnya ada dalam diri suaminya.
"Tidak dengan Zafian, Daddy mu tidak sengaja melepas semua segel suamimu tanpa berpikir dulu dampaknya, dan yang terjadi kemudian, kekuatan hitam yang sangat besar kini sudah menguasai raganya" sahut Edward.
"Astagfirullah, benarkah itu, tolong, kalian semua jawablah" ucap Afita terkejut bukan main akan penjelasan Edward.
Ailina memeluk Afita untuk mengurangi kegusaran, Ethan dan Evan menyentuh tangan Afita untuk menenangkan hatinya.
"Tenanglah kak, semua pasti ada jalan keluarnya, bukankah begitu Mom?" Tanya Evan.
"Mommy dan Deddy akan menggabungkan kekuatan untuk membersihkan kekuatan hitam itu, dan tugas kalian memberikan bantuan tenaga dalam yang cukup untuk Afita" jawab Alena.
"Lalu, apa semua itu tidak membahayakan untuk anakku Aunty?" Tanya Afita.
"Insyaallah aman, aku akan melakukan proses itu tidak hanya sekali, kita lihat dulu kemampuan tubuhmu menahan saat proses itu dilakukan" jawab Alena.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Edward kepada Afita yang nampak bingung dan khawatir.
Reyna yang baru saja bergabung setelah menerima telpon dari sang suami, ikut menguatkan hati Afita, sebenarnya dia juga tidak menyangka kalau kekuatan Zafian melekat pada calon cucunya.
"Mommy akan selalu di sampingmu sayang" ucap Reyna kemudian.
Afita mengangguk, tanda setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh keluarganya, yang terpenting ini semua demi sang buah hati yang ada dalam perutnya.
Perlahan Ketiga kembar menguatkan fisik Afita dengan bantuan tenaga dalamnya, Ailina berada di depan Afita sedangkan Evan dan Ethan ada di belakangnya.
Kurang lebih setengah jam tenaga dalam sudah menopang Afita, saatnya Alena dan Edward melakukan aksinya.
"Tolong, hati-hatilah" Reyna segera menutup pesan sebelum Alena menyentuhkan tangannya.
"Tentu saja, tenanglah kak, kita akan melakukan dengan teliti" jawab Alena.
Edward menganggukkan kepala, dan berakhir dengan kekuatannya yang sudah tergabung mencoba untuk menembus sang janin yang mungkin akan terusik.
Alena merasakan kekuatan janin itu luar biasa, bahkan kekuatannya berusaha di tarik dan di hancurkan oleh kekuatan hitamnya, Edward tak tinggal diam, kekuatan tenaga dalamnya melindungi dan berhasil menerobos masuk.
Semua masih berkonsentrasi, hingga hampir dua jam masih dilakukan untuk membersihkan kekuatan hitam, Edward mengamati keadaan Afita juga sang istri, tampak keringat deras menetes dari wajah Alena, tanda kekuatannya benar-benar terforsir melakukan ini semua.
Hingga kemudian.
"Hentikan Bee, aku rasa ini sudah cukup" ucap Edward nampak khawatir akan keadaan Istrinya yang masih memejamkan mata dan berkonsentrasi.
"Sebentar lagi, dan semuanya selesai" sahut Alena masih bertahan di posisinya.
Sedangkan Ailina dan Evan, memberikan bantuan tenaga dalam kembali di tubuh Afita.
Reyna masih terlihat khawatir, lantunan Doa tak pernah putus di panjatkan berulang kali, menggantungkan semuanya kepada Ilahi.
"Bertahanlah sayang" ucapnya lirih memberikan semangat.
Tak berapa lama kemudian, Alena segera menghentikan aksinya, melepaskan kembali tangannya dari tubuh Afita dan saat itu juga terjatuh tanpa di sangka.
Edward segera meraih tubuh istrinya, apa yang dia khawatirkan akhirnya terjadi.
"Mom!!"
"Al!"
Teriak Ketiga anak kembarnya dan juga Reyna hampir bersamaan.
"Tenanglah, mommy kalian terlalu lelah saja, aku akan membawanya ke kamar untuk beristirahat" ucap Edward dan langsung membawa tubuh Alena dalam gendongannya.
Ethan dan Evan mengikuti langkah Daddy-nya, sedangkan Ailina di tahan oleh Ethan agar tetap disisi Afita yang terlihat masih tertidur pulas bersama dengan Mommy Reyna.
Tiba di kamar yang ditempati, Edward segera membuka baju istrinya, hingga membuat kedua anaknya terkejut.
"Dad!" Teriak Ethan dan Evan.
Edward segera menghentikan tindakannya,"my God, aku lupa ada kalian disini, keluarlah, Daddy akan memberikan mommy mu bantuan"
"Dengan membuka pakaian mommy?" Tanya Ethan tak mengerti.
"Ck, tenaga dalam Daddy lebih akurat dan cepat dilakukan ke Mommy mu jika bersentuhan langsung" ucap Edward sambil mendorong kedua anaknya untuk keluar dari kamar.
Ceklek
Pintu tertutup rapat kembali, dan kedua laki-laki yang sudah terusir dari kamar Mommy-nya hanya saling pandang dan menggeleng saja.
"Apa kau yakin dengan apa yang dikatakan Daddy?" Tanya Evan sambil berjalan menjauh bersama kakaknya.
"Sudahlah, mereka suami istri, tidak masalah" sahut Ethan.
"Oh ayolah kak, tentu saja, mereka berdua yang menyatukan badan dan membuat kita ada" jawab Evan.
Plak
"Aw!, Hehe"
"Jaga ucapan mu!" Ethan memukul Evan sebelum memperingatkan.
Hingga keduanya kini melihat ke kamar Afita dimana nampak Ailina tengah tersenyum bahagia melihat kakak sepupunya telah bangun dan berbincang bersama.
"Alhamdulillah, kakak sudah terbangun" ucap Ethan.
"Bagaimana dengan Mommy kalian?" Sahut Reyna mengkhawatirkan keadaan Aduk iparnya.
"Tenang saja Mom, sudah diatasi oleh Dady" sahut Evan dengan senyuman aneh dan mencurigakan.
"Kalian itu kenapa, dan kau Evan, kemana tersenyum seperti itu?" Tanya Reyna curiga.
"Hehe, aman Mom, tenang saja" sahut Evan lagi, sementara Ethan hanya menggelengkan kepala.
Afita mengucapkan kata maaf dan berterima kasih dengan semua yang dilakukan oleh keluarga besarnya, semua tersenyum bahagia dan saling melempar obrolan hingga di kejutkan dengan seseorang yang tergesa-gesa membuka pintu.
"Ada apa?" Tanya Reyna kepada pengawal pribadi yang dia bawa dari Jakarta.
"Maaf nyonya, a ada_" ucapnya gugup dan panik.
"Ada?, Apa sih yang mau kamu sampaikan?" Reyna jadi pusing sendiri.
"Maaf Nyonya ada Tuan_"
"Ck, biar aku lihat sendiri saja Mom" sahut Ailina yang sudah tak sabaran.
Evan dan Ethan juga tak tinggal diam, mengikuti langkah adiknya untuk membuka pintu utama, sedangkan pengawal yang tadinya melapor di persilahkan pergi.
Ceklek
Pintu terbuka dan_, ketiga bocah kembar membelalakkan mata tak percaya, melihat siapa yang kini sudah berdiri di depan pintu utama.
Siapakah kira-kira, yok beri dukungan dengan memberi HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.